Pencarian Global

Pemkab Wonosobo Perkuat Ekosistem Pariwisata melalui Tata Kelola dan Promosi Terpadu
Berita
Dimas D. Pradikta 04 Sep 2026
112

Pemkab Wonosobo Perkuat Ekosistem Pariwisata melalui Tata Kelola dan Promosi Terpadu

WONOSOBO – Penguatan tata kelola yang profesional, aman, berkelanjutan, serta strategi promosi yang terintegrasi menjadi fondasi penting dalam mendorong kemajuan sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, tetapi juga memastikan kehadiran pariwisata mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Sarasehan Tata Kelola Pariwisata sekaligus Pelantikan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Omah Wisata Kabupaten Wonosobo Masa Tugas 2025–2028, yang berlangsung di Pendopo Selatan Kabupaten Wonosobo, Kamis 3 September 2026.Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 40 pengurus BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo resmi dilantik. Komposisi kepengurusan terdiri dari empat unsur penasehat dan 36 unsur pelaksana. Andra Bharada dipercaya memimpin BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo untuk masa tugas 2025–2028.Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki kekuatan besar dalam mendukung pembangunan daerah.Menurutnya, pariwisata tidak sebatas berbicara mengenai keberadaan destinasi, tetapi juga bagaimana potensi alam, budaya, kreativitas, serta keramahan masyarakat dapat dikelola secara optimal sehingga memberikan manfaat nyata.“Destinasi harus dikelola dengan baik, pelayanan berkualitas, informasi mudah diperoleh, dan pengalaman wisatawan semakin baik,” tegasnya.Afif menyebut Wonosobo memiliki modal pariwisata yang sangat beragam. Mulai dari kawasan Dieng, Wadaslintang, pegunungan, telaga, air terjun, desa wisata, seni dan budaya, tradisi, kuliner, ekonomi kreatif, hingga karakter masyarakat yang ramah. Seluruh potensi tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan dan dikemas secara profesional agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan serta perilaku wisatawan.Perubahan perilaku wisatawan saat ini membuat daya tarik sebuah destinasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan alamnya. Faktor keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, kualitas pelayanan, kemudahan mendapatkan informasi, keaslian pengalaman, hingga tingkat kepercayaan terhadap destinasi di ruang digital turut menjadi pertimbangan dalam menentukan perjalanan wisata.Karena itu, keberhasilan sektor pariwisata tidak semata-mata diukur berdasarkan jumlah kunjungan. Lama tinggal wisatawan, perputaran belanja di daerah, kualitas pengalaman, serta seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal juga menjadi indikator penting yang perlu diperhatikan.“Pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi daerah. Kehadiran wisatawan harus membuka peluang bagi petani, UMKM, kuliner, transportasi, perdagangan, ekonomi kreatif, seni budaya, industri rumah tangga, dan berbagai usaha masyarakat lainnya,” ujarnya.Pemerintah Kabupaten Wonosobo, lanjut Afif, juga memberikan ruang bagi investasi yang dapat memperkuat ekosistem pariwisata, membuka kesempatan usaha dan lapangan kerja, sekaligus menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat maupun daerah.Dengan ekosistem pariwisata yang semakin kuat, pertumbuhan sektor ini diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat perekonomian daerah serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).Pada sisi tata kelola, Afif menekankan perlunya pembenahan secara berkelanjutan agar pengelolaan pariwisata semakin transparan, terstandar, profesional, dan memiliki keberlanjutan jangka panjang.Aspek kebersihan, keamanan, kenyamanan, pelayanan, keterbukaan informasi, serta kapasitas pengelola perlu terus ditingkatkan. Pada saat yang sama, pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, ekosistem, sumber daya air, serta karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.“Integritas, transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme harus menjadi cara kita bekerja,” tegasnya.Promosi Harus Membangun Ketertarikan dan KepercayaanPerkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam strategi pemasaran pariwisata Wonosobo. Wisatawan saat ini semakin banyak memanfaatkan media sosial, mesin pencarian, video, ulasan, dan berbagai platform digital sebagai sumber informasi sebelum menentukan destinasi yang akan dikunjungi.Karena itu, promosi pariwisata tidak cukup hanya menyampaikan informasi mengenai keberadaan destinasi. Promosi perlu dikembangkan untuk membangun ketertarikan, meningkatkan kepercayaan, hingga mendorong wisatawan mengambil keputusan untuk datang dan berkunjung.Dalam konteks tersebut, keberadaan BPPD Omah Wisata diharapkan memiliki peran yang lebih strategis. BPPD tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana promosi, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan gagasan sekaligus motor penggerak pemasaran pariwisata Wonosobo.BPPD diharapkan mampu membaca perkembangan tren wisatawan, menentukan segmen pasar yang tepat, serta memperluas jejaring dengan biro perjalanan, platform digital, hotel, komunitas, media, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.Pengembangan paket wisata, penguatan storytelling destinasi, penyusunan kalender event, serta keterhubungan antara destinasi dengan UMKM dan sektor ekonomi kreatif juga dinilai penting.Langkah tersebut diperlukan untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih lengkap sekaligus mendorong wisatawan menikmati lebih banyak potensi yang ada di Wonosobo.“Brand pariwisata Wonosobo harus kuat dan konsisten. Bukan hanya dikenal karena sunrise di Dieng, tetapi juga karena alam, budaya, kuliner, petualangan, dan kehidupan masyarakatnya yang autentik,” ujarnya.Potensi destinasi yang selama ini belum dikemas secara optimal juga perlu terus dikembangkan agar dapat masuk dalam rangkaian perjalanan wisatawan. Dengan semakin banyak pilihan aktivitas dan destinasi, wisatawan diharapkan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, meningkatkan belanja selama berada di Wonosobo, serta melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian aktif dari industri pariwisata.Kolaborasi Menjadi Kekuatan Pengembangan PariwisataPemerintah Kabupaten Wonosobo menyadari bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara mandiri.Keterlibatan dunia usaha, pemerintah desa, komunitas, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.BPPD Omah Wisata pun diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang terbuka, sehat, produktif, dan berorientasi pada hasil. Setiap program yang dijalankan diharapkan memiliki sasaran yang jelas, dapat dievaluasi, serta dilaksanakan dengan prinsip tanggung jawab.Pelantikan BPPD Omah Wisata masa tugas 2025–2028 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat promosi dan pemasaran, memperluas jejaring, serta meningkatkan citra destinasi Wonosobo di tengah dinamika dan persaingan industri pariwisata yang semakin berkembang.Usai pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan Sarasehan Tata Kelola Pariwisata Wonosobo yang menghadirkan tiga narasumber dengan sudut pandang berbeda namun saling melengkapi.Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja menyampaikan materi bertajuk “Tata Kelola Pariwisata yang Aman dan Tertib”. Materi tersebut menyoroti pentingnya keamanan dan ketertiban sebagai bagian tidak terpisahkan dari kualitas destinasi serta kenyamanan wisatawan.Berikutnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo membawakan materi “Tata Kelola Pariwisata yang Profesional dan Berkelanjutan”.Ia menekankan pentingnya pengelolaan pariwisata yang terintegrasi dan profesional dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.Sementara itu, Ketua BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo Andra Bharada menyampaikan materi “Strategi Promosi Wisata Daerah”, yang membahas penguatan promosi, pemasaran, jejaring, serta strategi pengemasan potensi wisata daerah agar semakin kompetitif.Andra menyampaikan komitmennya untuk bersama-sama memperkuat sektor pariwisata Wonosobo. Menurutnya, kemajuan pariwisata membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk mendorong peningkatan kualitas pengelolaan destinasi wisata yang dikelola pemerintah maupun swasta agar mampu memberikan pengalaman yang semakin baik kepada wisatawan.Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem wisata yang saling terhubung dan mendukung, mulai dari destinasi, pelayanan, hingga sektor-sektor pendukung lainnya.Pengelolaan yang baik diperlukan agar kunjungan wisatawan tidak berhenti pada pola datang dan pulang dalam waktu singkat, tetapi dapat mendorong mereka untuk memperpanjang masa tinggal di Wonosobo.Dalam hal kebijakan perpajakan, Andra berharap kontribusi terhadap daerah tetap dapat berjalan seiring dengan perhatian terhadap keberlangsungan serta kemampuan pelaku usaha pariwisata.Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.Sarasehan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan masukan yang dapat diterapkan dalam upaya memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas destinasi dan pelayanan, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian dan pendapatan daerah.Melalui kolaborasi, inovasi, adaptasi, dan profesionalisme, pariwisata Wonosobo diharapkan terus berkembang menjadi sektor yang semakin dikenal, semakin diminati, dan semakin berkualitas, sekaligus mampu menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah.***

Kadisparbud Wonosobo Apresiasi Sarasehan Kopi Slukatan, Dorong Potensi Lokal Jadi Daya Tarik Wisata
Berita
Dimas D. Pradikta 31 Aug 2026
165

Kadisparbud Wonosobo Apresiasi Sarasehan Kopi Slukatan, Dorong Potensi Lokal Jadi Daya Tarik Wisata

WONOSOBO – Sarasehan Kopi Slukatan dalam rangka Slametan Pascapanen Penggiat Kopi Slukatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan di Sumber Mata Air Mudal, Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Senin 31 Agustus 2026.Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB tersebut menjadi momentum untuk mengangkat potensi kopi lokal sekaligus memperkenalkan beragam potensi Desa Wisata Slukatan.Sepanjang kegiatan, masyarakat dan wisatawan yang hadir disuguhkan kopi Slukatan secara gratis. Selain menikmati kopi, pengunjung juga dapat berinteraksi dengan masyarakat, para penggiat kopi, serta menikmati suasana alam pedesaan di sekitar Sumber Mata Air Mudal.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, turut hadir langsung pada siang hari untuk melihat kegiatan tersebut. Fahmi hadir didampingi Sri Rejeki Kepala UPTD Objek Wisata serta Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Disparbud Wonosobo, Dimas D. Pradikta dan Rohmat Syahru R.Dalam kunjungannya, Fahmi turut menikmati kopi lokal yang disajikan para penggiat kopi Slukatan. Ia juga berdialog dengan pengelola desa wisata, masyarakat, dan penggiat kopi untuk mendengarkan perkembangan, potensi, serta berbagai upaya yang telah dilakukan dalam mengembangkan Desa Wisata Slukatan.Fahmi mengapresiasi terselenggaranya Sarasehan Kopi Slukatan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk syukur atas hasil panen kopi, tetapi juga dapat menjadi ruang promosi potensi desa sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.“Kegiatan seperti ini sangat positif. Kopi bukan hanya tentang rasa, tetapi ada cerita petani, alam, dan masyarakat di dalamnya. Ketika dikemas menjadi bagian dari aktivitas wisata, tentu dapat memberikan pengalaman yang menarik bagi wisatawan,” ujar Fahmi.Ia juga memberikan sejumlah saran dan masukan kepada pengelola desa wisata maupun penggiat kopi Slukatan. Fahmi mendorong agar potensi kopi lokal terus dikembangkan, baik dari sisi kualitas produk, penyajian, pelayanan, maupun promosi melalui media digital.Selain memberikan masukan, Fahmi juga memberikan semangat dan motivasi kepada masyarakat agar terus mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki Desa Wisata Slukatan.“Kami memberikan apresiasi sekaligus semangat kepada pengelola desa wisata, masyarakat dan para penggiat kopi Slukatan. Terus dikembangkan, terus berinovasi dan dikemas dengan baik. Jangan berhenti pada event-nya saja, tetapi bagaimana potensi yang ada bisa berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.Survei Potensi Curug yang Belum TereksposTidak hanya mengunjungi lokasi Sarasehan Kopi, dalam kesempatan tersebut Fahmi juga turut meninjau potensi wisata alam lain yang berada di wilayah Desa Wisata Slukatan.Salah satunya adalah lokasi curug atau air terjun yang hingga saat ini masih belum banyak terekspos kepada masyarakat maupun wisatawan.Peninjauan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung potensi yang dapat dikembangkan dan dikemas menjadi daya tarik wisata baru di Desa Wisata Slukatan.Fahmi mengapresiasi berbagai potensi alam yang dimiliki Slukatan dan mendorong agar pengembangannya dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, kelestarian lingkungan, kesiapan masyarakat, serta konsep pengelolaan wisata yang berkelanjutan.Menurutnya, keberadaan potensi alam seperti curug dapat menjadi tambahan pilihan bagi wisatawan, terlebih jika nantinya dapat diintegrasikan dengan potensi lain yang sudah berkembang, termasuk kopi, budaya, serta kehidupan masyarakat desa.Golek Tholo Dihidupkan Kembali Jadi Paket Wisata EdukasiSelain potensi alam dan kopi, Fahmi juga mengapresiasi upaya masyarakat dan pengelola Desa Wisata Slukatan dalam menggeliatkan kembali salah satu objek pemajuan kebudayaan, yakni Golek Tholo.Upaya menghidupkan kembali Golek Tholo dinilai menjadi langkah positif dalam menjaga keberadaan budaya lokal sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda dan wisatawan.Menariknya, Golek Tholo tidak hanya dilestarikan sebagai kesenian atau tradisi, tetapi juga mulai dikemas menjadi bagian dari paket wisata edukasi. Dengan konsep tersebut, wisatawan dapat memperoleh pengalaman mengenal budaya lokal secara lebih dekat sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Fahmi menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, pengembangan desa wisata akan semakin kuat apabila mampu menggabungkan potensi alam, budaya, produk lokal, serta aktivitas masyarakat menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh.“Ini yang menarik, bagaimana potensi budaya yang ada tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman edukasi bagi wisatawan. Golek Tholo bisa menjadi bagian dari cerita Desa Wisata Slukatan dan dikenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan,” jelasnya.Fahmi berharap berbagai potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara masyarakat, pengelola desa wisata, pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, serta berbagai pihak lainnya.Sementara itu, Pengelola Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, mengatakan pihaknya terus berupaya mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki desa, mulai dari wisata alam, kopi, hingga budaya.Bagi wisatawan dari luar daerah, Desa Wisata Slukatan juga menyediakan homestay dengan konsep live in, sehingga wisatawan dapat merasakan langsung suasana dan aktivitas keseharian masyarakat desa.Informasi mengenai paket wisata, homestay, maupun berbagai kegiatan Desa Wisata Slukatan dapat diperoleh melalui akun Instagram dan TikTok @desawisataslukatan.***

‎Wisata Sambil Ngopi, Sarasehan Kopi Slukatan Siap Sambut Wisatawan, Yuk Agendakan! Senin 31 Agustus 2026
Berita
Dimas D. Pradikta 29 Aug 2026
108

‎Wisata Sambil Ngopi, Sarasehan Kopi Slukatan Siap Sambut Wisatawan, Yuk Agendakan! Senin 31 Agustus 2026

‎‎Wonosobo – Ingin menikmati suasana desa yang asri, merasakan hangatnya kopi lokal, sekaligus mendapatkan pengalaman wisata yang berbeda? Desa Wisata Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, siap menyambut wisatawan dalam gelaran Sarasehan Kopi Slukatan, Senin 31 Agustus 2026.‎Mengusung tema “Slametan Pascapanen Penggiat Kopi Slukatan”, kegiatan ini akan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai di Sumber Mata Air Mudal, Slukatan.‎Tak hanya menjadi ajang syukuran atas hasil panen kopi, Sarasehan Kopi Slukatan juga menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk datang, menikmati kopi lokal, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus mengabadikan berbagai momen menarik di Desa Wisata Slukatan.‎Suasana alam pedesaan, sumber mata air, aktivitas masyarakat, hingga sajian kopi lokal menjadi bagian dari pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan ketika berkunjung.‎Camat Mojotengah, Eko Widi, mengajak masyarakat luas, khususnya wisatawan, untuk datang dan turut merasakan suasana kegiatan tersebut.‎“Kami mengajak masyarakat dan wisatawan untuk datang ke Slukatan. Selain menikmati kopi lokal, pengunjung juga dapat menikmati suasana alam dan melihat langsung potensi yang dimiliki Desa Wisata Slukatan. Mari datang, berinteraksi, dan ikut merasakan kebersamaan masyarakat,” ujar Eko Widi.‎Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat mengenal dan berkunjung ke Desa Wisata Slukatan.‎Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa kopi dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal lebih jauh kehidupan dan potensi masyarakat desa.‎“Kopi bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang cerita. Ada cerita petani, cerita alam, dan cerita masyarakat yang berada di balik setiap cangkir kopi. Melalui Sarasehan Kopi Slukatan, wisatawan dapat datang dan mendapatkan pengalaman langsung tentang potensi lokal yang ada di desa,” kata Fahmi.‎Fahmi juga mengajak wisatawan untuk tidak sekadar datang menikmati kopi, tetapi turut mengabadikan momen dan membagikan pengalaman mereka selama berada di Desa Wisata Slukatan melalui media sosial.‎“Kami berharap wisatawan yang datang dapat menikmati suasana Slukatan, mengabadikan momen-momen menarik, kemudian membagikannya di media sosial. Dengan begitu, semakin banyak orang yang mengenal potensi Desa Wisata Slukatan dan tertarik untuk datang berkunjung,” imbuhnya.‎Bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman berbeda, Sarasehan Kopi Slukatan dapat menjadi pilihan untuk mengisi akhir bulan dengan aktivitas yang sederhana namun penuh cerita. Datang bersama keluarga, sahabat, komunitas, maupun teman seperjalanan.‎Pengelola Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, menambahkan bahwa wisatawan dari luar kota tidak perlu khawatir mencari tempat menginap. Desa Wisata Slukatan juga menyediakan homestay dengan konsep live in, sehingga wisatawan dapat merasakan langsung suasana kehidupan masyarakat dan keseharian warga desa.‎“Wisatawan yang ingin menginap dan menikmati suasana desa bisa memanfaatkan homestay yang kami sediakan dengan konsep live in,” ujarnya.‎Informasi lebih lanjut mengenai paket wisata, homestay, maupun kegiatan di Desa Wisata Slukatan dapat diperoleh melalui akun Instagram dan TikTok @desawisataslukatan.‎Yuk, nikmati kopi lokal, rasakan kesejukan suasana desa, temui keramahan masyarakat, dan jangan lupa abadikan momen terbaikmu di Slukatan.‎Catat waktunya! Sarasehan Kopi Slukatan, dalam rangka slametan pascapanen penggiat Kopi Slukatan, Senin 31 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB, bertempat di Sumber Mata Air Mudal, Desa Slukatan, Mojotengah, Wonosobo.‎Abadikan dan berbagi cerita, karena mungkin, momen terbaik liburanmu bukan di tempat yang jauh, tetapi di sebuah desa yang menyimpan cerita dalam secangkir kopi.***‎

Gelar Forum Konsultasi Publik, Disparbud Wonosobo Uji Coba Digitalisasi Tiket Wisata melalui QRIS
Berita
Dimas D. Pradikta 27 Aug 2026
61

Gelar Forum Konsultasi Publik, Disparbud Wonosobo Uji Coba Digitalisasi Tiket Wisata melalui QRIS

‎WONOSOBO – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo terus mendorong transformasi pelayanan publik di sektor pariwisata melalui digitalisasi pembayaran retribusi tiket masuk obyek wisata. Langkah tersebut dibahas dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) Pelayanan UPTD Pengelolaan Obyek Wisata, Kamis, 27 Agustus 2026, di Bukit Telaga Menjer.‎Forum ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada wisatawan sekaligus mengevaluasi standar pelayanan menuju tata kelola pariwisata yang cepat, inklusif, transparan, dan akuntabel.‎Untuk tahap awal, digitalisasi pembayaran tiket melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) diterapkan pada obyek wisata yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo. Uji coba dilakukan di tiga lokasi, yakni Gelanggang Renang Mangli, Taman Rekreasi Kalianget, dan Wisata Bukit Telaga Menjer.‎Implementasi sistem digitalisasi pembayaran tersebut didukung oleh Bank Jateng, khususnya dalam penyediaan dan pengelolaan sistem transaksi pembayaran secara digital. Melalui dukungan tersebut, pembayaran retribusi tiket wisata dapat dilakukan secara non-tunai dan terintegrasi dengan sistem penerimaan daerah.‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan bahwa penerapan digitalisasi tersebut merupakan bagian dari pembenahan pelayanan sekaligus penguatan tata kelola penerimaan retribusi daerah.‎“Kita ingin pelayanan pariwisata semakin mudah, cepat, dan transparan. Digitalisasi pembayaran tiket ini merupakan salah satu langkah konkret untuk mewujudkan hal tersebut. Untuk tahap awal kita lakukan uji coba di tiga obyek wisata yang dikelola pemerintah daerah, sehingga kita bisa melihat secara langsung bagaimana sistem ini berjalan di lapangan dan apa saja yang perlu kita sempurnakan,” ujar Fahmi.‎Menurut Fahmi, penerapan QRIS tidak hanya memberikan pilihan pembayaran non-tunai kepada wisatawan, tetapi juga mendorong proses administrasi penerimaan retribusi menjadi lebih tertib, transparan, dan terintegrasi.‎“Setiap transaksi melalui QRIS akan tercatat secara digital dan langsung masuk ke rekening Kas Daerah pada Bank Jateng. Dengan mekanisme ini, kita berharap pengelolaan penerimaan semakin akuntabel dan dapat dipantau dengan lebih baik,” jelasnya.‎Ia menambahkan, dukungan Bank Jateng menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem pembayaran digital tersebut, sehingga transaksi dari wisatawan dapat diproses melalui sistem perbankan dan tersalurkan ke rekening tampung Kas Daerah sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan.‎“Kolaborasi dengan Bank Jateng ini menjadi bagian penting dalam implementasi digitalisasi. Kita tidak hanya berbicara mengenai QRIS sebagai alat pembayaran, tetapi bagaimana seluruh proses transaksi dapat terintegrasi dan mendukung tata kelola penerimaan daerah yang lebih transparan dan akuntabel,” ungkap Fahmi.‎Menurutnya, keberhasilan digitalisasi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan petugas serta pemahaman masyarakat dan wisatawan dalam menggunakan layanan tersebut.‎“Teknologi adalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kita akan melakukan evaluasi dari sisi sistem, petugas, maupun respons wisatawan. Kalau dalam pelaksanaan uji coba masih ditemukan kendala, akan kita perbaiki sebelum dikembangkan lebih luas,” ungkap Fahmi.‎Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo optimistis penerapan pembayaran tiket wisata menggunakan QRIS akan berhasil melalui proses pembiasaan masyarakat. ‎“Kami optimistis penerapan pembayaran retribusi wisata menggunakan QRIS ini akan berhasil. Masyarakat hanya membutuhkan proses pembiasaan. Kita bisa melihat pengalaman ketika pembayaran tol mulai beralih ke sistem non-tunai, pada awalnya tentu ada proses adaptasi, tetapi setelah diterapkan secara konsisten masyarakat akhirnya terbiasa. Begitu pula dengan pembayaran tiket wisata melalui QRIS, ketika sudah menjadi kebiasaan, kami yakin masyarakat akan merasa lebih mudah, cepat, dan praktis. Karena itu, kami akan terus melakukan edukasi dan pendampingan agar proses digitalisasi ini dapat diterima dan berjalan dengan baik,” ujar Kadisparbud.‎Dalam Forum Konsultasi Publik tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga membuka ruang bagi para pemangku kepentingan untuk memberikan masukan terhadap standar pelayanan UPTD Pengelolaan Obyek Wisata.‎Fahmi menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjadikan masukan publik sebagai bagian dari proses perbaikan pelayanan.‎‎“Forum ini bukan sekadar formalitas. Kita ingin mendengar masukan dari para pemangku kepentingan agar kebijakan yang kita jalankan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. Prinsipnya, pelayanan harus semakin mudah bagi wisatawan dan pengelolaannya semakin baik bagi pemerintah daerah,” tegasnya.‎Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kasubid Penerimaan dan Pengelolaan Pendapatan Daerah BPPKAD Kabupaten Wonosobo Widya Ningrum, Wakil Pimpinan Cabang Bank Jateng Cabang Wonosobo Fuad Adafi, serta Analis Kebijakan Ahli Muda Bagian Organisasi Setda Wonosobo Irawati Werdianingsih, SIP, sebagai narasumber.‎Selain itu, peserta kegiatan juga terdiri dari lintas Organisasi Perangkat Daerah, organisasi/asosiasi usaha pariwisata, perguruan tinggi, wartawan, Camat Garung dan Camat Kejajar, serta Kapolsek Garung dan Kapolsek Kejajar.‎Keterlibatan lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan implementasi digitalisasi dapat berjalan secara aman, tertib, dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah. ‎Dukungan Bank Jateng sebagai mitra perbankan turut memperkuat proses digitalisasi transaksi, mulai dari pembayaran oleh wisatawan hingga penyaluran penerimaan ke rekening Kas Daerah.‎Melalui uji coba di tiga obyek wisata tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi.‎Hasilnya diharapkan menjadi dasar penyempurnaan sistem sekaligus bahan pertimbangan untuk pengembangan digitalisasi layanan tiket pada obyek wisata pemerintah daerah lainnya.‎Digitalisasi pembayaran tiket menjadi salah satu langkah menuju pengelolaan destinasi wisata yang semakin profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta berorientasi pada kemudahan wisatawan, transparansi penerimaan daerah, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.‎Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Bank Jateng melalui digitalisasi pembayaran ini diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan tata kelola pariwisata yang semakin modern, efektif, transparan, dan akuntabel. ***

Marrystone Culture Carnival, Ketika Kreativitas Warga Menjadi Wajah Budaya dan Pariwisata Desa Selokromo
Berita
Dimas D. Pradikta 24 Aug 2026
97

Marrystone Culture Carnival, Ketika Kreativitas Warga Menjadi Wajah Budaya dan Pariwisata Desa Selokromo

WONOSOBO – Perayaan kemerdekaan di Desa Selokromo, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, berlangsung dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar upacara atau kegiatan seremonial, semangat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diwujudkan melalui kreativitas warga dalam Marrystone Culture Carnival (MCC) ke-8, Minggu 23 Agustus 2026.Sejak pagi, suasana di sekitar Balai Desa Selokromo mulai dipadati warga dan peserta karnaval. Beragam kostum, ornamen, hingga kreasi bertema budaya Nusantara dipersiapkan untuk ditampilkan di hadapan masyarakat sebelum peserta bergerak menyusuri jalan-jalan desa.Balai desa menjadi titik awal sekaligus akhir perjalanan karnaval. Dari tempat tersebut, sembilan kelompok yang mewakili sembilan RW secara bergantian menampilkan kreativitas masing-masing sebelum berkeliling menyapa masyarakat di sepanjang jalur yang telah ditentukan.Kehadiran Marrystone Culture Carnival bukan semata-mata untuk menghadirkan tontonan dalam momentum peringatan kemerdekaan. Di balik kemeriahan tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan masyarakat, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Gotong royong, kreativitas, dan kebersamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut.Kegiatan yang mengusung tema “Budaya Nusantara” itu turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Dinas Komunikasi dan Informatika, Camat Leksono, serta sejumlah tokoh masyarakat.Kepala Desa Selokromo, Wahyu, mengatakan antusiasme masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama terselenggaranya Marrystone Culture Carnival dari tahun ke tahun.Menurutnya, keterlibatan sembilan RW dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi bagian utama dalam menciptakan kemeriahan sekaligus menjaga kebersamaan di lingkungan desa.“Marrystone Culture Carnival ini bukan hanya kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan seluruh warga Desa Selokromo,” ujar Wahyu.Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti ketika rangkaian perayaan kemerdekaan berakhir. Menurutnya, budaya gotong royong yang tumbuh melalui kegiatan bersama perlu terus dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.“Kami sangat mengapresiasi seluruh warga yang telah berpartisipasi dan bergotong royong. Mudah-mudahan semangat kebersamaan seperti ini terus terjaga, bukan hanya saat peringatan kemerdekaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.Bagi Wahyu, kemerdekaan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengenang sejarah. Kemerdekaan dapat diwujudkan melalui karya, kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan sosial, serta kemampuan masyarakat untuk menjaga persatuan.Dari perspektif kebudayaan, kegiatan seperti Marrystone Culture Carnival menjadi salah satu contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berlangsung secara alami di tengah masyarakat.Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Edi Santoso, menyampaikan bahwa kreativitas yang muncul dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah yang perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.Pesan tersebut disampaikan Edi saat membacakan sambutan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.“Seni dan budaya merupakan bagian penting dari identitas daerah yang harus terus kita jaga dan lestarikan. Kegiatan seperti Marrystone Culture Carnival menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya yang dimiliki,” demikian pesan yang disampaikan Edi Santoso.Menurutnya, upaya menjaga kebudayaan tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Keberlangsungannya sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat, komunitas seni, generasi muda, serta berbagai unsur lainnya.Kegiatan budaya di tingkat desa, lanjutnya, justru memiliki posisi penting karena mempertemukan tradisi dengan kehidupan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang dipertontonkan, tetapi tetap menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat.Di sisi lain, Edi melihat adanya peluang untuk menghubungkan kekayaan budaya tersebut dengan pengembangan pariwisata.“Potensi pariwisata di Wonosobo sangat beragam dan tidak hanya berada pada destinasi yang sudah dikenal. Desa-desa memiliki potensi budaya, tradisi, kreativitas masyarakat, serta daya tarik lokal yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari kekuatan pariwisata daerah,” ucap Edi.Karena itu, masyarakat desa didorong untuk terus menjaga lingkungan, mempertahankan tradisi, mengembangkan kreativitas, sekaligus membangun cara-cara positif dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.Menurut Edi, Marrystone Culture Carnival memperlihatkan bahwa pengembangan kebudayaan dan pariwisata dapat berjalan beriringan ketika masyarakat diberikan ruang untuk berkreasi.“Marrystone Culture Carnival (MCC) ke-8 menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berlangsung di panggung-panggung besar. Desa dengan segala kreativitas masyarakatnya justru menjadi ruang paling hidup bagi tumbuhnya kebudayaan,” pungkasnya.Sepanjang rute karnaval, warga dari berbagai kelompok usia tumpah ke jalan untuk menyaksikan penampilan peserta. Anak-anak, pemuda, orang tua, hingga para tokoh masyarakat berbaur dalam suasana perayaan yang sama.Sembilan RW yang tampil dengan gagasan dan kreativitas masing-masing turut memperlihatkan keberagaman yang menjadi kekuatan masyarakat Desa Selokromo. Perbedaan konsep tidak menjadi pembatas, tetapi justru menghasilkan pertunjukan yang lebih beragam.Marrystone Culture Carnival juga menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Generasi muda dapat mengenal kembali berbagai bentuk budaya melalui keterlibatan langsung, sementara generasi yang lebih tua memiliki kesempatan untuk turut menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.Di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat dan semakin kuatnya pengaruh teknologi, ruang-ruang kebudayaan di tingkat desa menjadi semakin relevan. Kegiatan semacam ini dapat menjadi jembatan agar generasi muda tetap memiliki kedekatan dengan lingkungan sosial dan akar budayanya.Marrystone Culture Carnival yang telah memasuki penyelenggaraan ke-8 pun menunjukkan bahwa sebuah kegiatan masyarakat dapat berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai agenda peringatan kemerdekaan.Ia menjadi ruang ekspresi, sarana mempererat hubungan sosial, sekaligus etalase kecil yang memperlihatkan potensi budaya dan kreativitas masyarakat Desa Selokromo.Dari Selokromo, kemerdekaan dirayakan bukan hanya melalui kemeriahan karnaval. Semangat itu hadir dalam kerja bersama, tumbuh melalui kreativitas, dijaga lewat kebudayaan, dan perlahan dapat menjadi bagian dari kekuatan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Wonosobo.***

Disparbud Wonosobo Turut Meriahkan Karnaval Kemerdekaan, Angkat Potensi Pariwisata dan Budaya Lokal
Berita
Dimas D. Pradikta 19 Aug 2026
78

Disparbud Wonosobo Turut Meriahkan Karnaval Kemerdekaan, Angkat Potensi Pariwisata dan Budaya Lokal

WONOSOBO – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo turut ambil bagian dalam kemeriahan Karnaval Kemerdekaan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Selasa, 18 Agustus 2026.Mengusung semangat “Bergerak dengan Empati, Mengabdi dengan Sinergi, Lestari untuk Negeri”, karnaval yang diikuti sedikitnya 52 peserta dari berbagai unsur tersebut berlangsung meriah dengan menampilkan beragam kreativitas, seni budaya, kearifan lokal, potensi daerah, hingga pesan kepedulian terhadap lingkungan.Keikutsertaan Disparbud Wonosobo menjadi bagian dari upaya menghadirkan wajah pariwisata dan kebudayaan daerah dalam momentum peringatan kemerdekaan. Melalui kreativitas yang ditampilkan, Disparbud turut mengenalkan kekayaan budaya, karakter masyarakat, serta potensi pariwisata Wonosobo kepada masyarakat yang menyaksikan langsung sepanjang rute karnaval.Karnaval yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut menjadi ruang publik yang strategis untuk mempertemukan unsur pemerintah, komunitas, pelaku seni, dunia usaha, serta masyarakat. Kehadiran berbagai atraksi dan kendaraan hias semakin memperkuat suasana perayaan sekaligus menjadi media promosi potensi daerah.Selain menampilkan kreativitas dan potensi pariwisata serta kebudayaan, Disparbud Wonosobo juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan melalui pembagian sekitar 1.000 bibit tanaman kepada masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Bibit yang dibagikan terdiri dari bibit terong, cabai keriting, dan cabai rawit.Pembagian bibit tersebut menjadi salah satu bentuk nyata penerjemahan semangat “Lestari untuk Negeri” yang diusung dalam Karnaval Kemerdekaan. Tidak hanya menyampaikan pesan melalui atraksi dan kreativitas, Disparbud turut mengajak masyarakat mengambil bagian secara langsung dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan ruang di sekitar rumah untuk kegiatan produktif dan penghijauan.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa keterlibatan Disparbud dalam Karnaval Kemerdekaan merupakan bentuk partisipasi sekaligus upaya untuk terus menghadirkan pariwisata dan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.“Bagi kami, karnaval bukan hanya ruang untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan pariwisata dan kebudayaan Wonosobo. Ketika budaya, kreativitas, dan potensi daerah ditampilkan di ruang publik, secara tidak langsung kita juga sedang melakukan promosi dan membangun citra pariwisata Wonosobo,” ujar Fahmi.Menurutnya, pariwisata tidak dapat berkembang hanya melalui promosi pariwisata secara konvensional. Event daerah dengan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu sarana penting untuk menciptakan pengalaman dan daya tarik yang dapat mendorong orang untuk datang, melihat, mengenal, dan kemudian berkunjung ke berbagai destinasi di Wonosobo.“Pariwisata itu bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang budaya, kreativitas masyarakat, event, kuliner, ekonomi kreatif, keramahan, dan pengalaman yang diperoleh wisatawan. Karnaval seperti ini menjadi bagian dari ekosistem tersebut,” lanjutnya.Fahmi menambahkan, semangat “Lestari untuk Negeri” juga memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan kepariwisataan Wonosobo yang berkelanjutan. Menurutnya, lingkungan merupakan salah satu modal utama pariwisata Wonosobo, sehingga upaya menjaga kelestarian alam harus menjadi tanggung jawab bersama.“Wonosobo memiliki kekuatan pariwisata yang sangat erat dengan alam. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari menjaga masa depan pariwisata kita. Pembagian bibit ini sederhana, tetapi kami ingin mengajak masyarakat bahwa setiap orang bisa mengambil bagian untuk merawat lingkungan, dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar,” jelasnya.Ia berharap bibit yang dibagikan dapat dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat sehingga memberikan manfaat secara langsung. Selain mendukung penghijauan, tanaman cabai dan terong juga memiliki nilai produktif bagi kebutuhan rumah tangga masyarakat.“Harapannya, bibit ini tidak berhenti pada saat dibagikan. Bisa ditanam, dirawat, dan tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat. Semangat lestari harus kita bangun melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama,” tambah Fahmi.Menurut Fahmi, keberlanjutan lingkungan menjadi semakin penting dalam pengembangan destinasi wisata. Lingkungan yang bersih, hijau, sehat, dan terawat akan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar destinasi.Fahmi menambahkan, momentum kemerdekaan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun kepariwisataan Wonosobo.Pemerintah, masyarakat, pelaku seni dan budaya, komunitas, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, serta pelaku usaha pariwisata memiliki peran yang saling berkaitan dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang semakin kuat.“Semangatnya adalah sinergi. Pariwisata tidak mungkin dibangun oleh satu perangkat daerah saja. Ketika event daerah mampu menggerakkan masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, seni budaya, kuliner, hingga sektor transportasi dan akomodasi, maka dampaknya akan semakin luas terhadap perekonomian daerah,” jelasnya.Dalam konteks tersebut, kegiatan Karnaval Kemerdekaan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat promosi potensi daerah sekaligus membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya keberlanjutan.Dari sisi pariwisata, keberadaan event yang melibatkan masyarakat secara luas juga dapat menciptakan daya tarik tersendiri. Kreativitas, seni budaya, kuliner, ekonomi kreatif, hingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk karakter Wonosobo sebagai daerah tujuan wisata.Melalui keikutsertaan dalam Karnaval Kemerdekaan HUT ke-81 RI, Disparbud Wonosobo menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan seni, budaya, kreativitas, event daerah, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari strategi pengembangan dan promosi pariwisata.Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui kemeriahan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata. Bergerak dengan empati, mengabdi dengan sinergi, dan lestari untuk negeri, bersama memajukan pariwisata Wonosobo.***

‎Konser Hari Jadi ke-201 Wonosobo Dorong Pergerakan Wisata dan Ekonomi Lokal
Berita
Dimas D. Pradikta 10 Aug 2026
140

‎Konser Hari Jadi ke-201 Wonosobo Dorong Pergerakan Wisata dan Ekonomi Lokal

‎WONOSOBO – Ribuan masyarakat memadati Alun-Alun Wonosobo pada Sabtu 8 Agustus 2026 malam, dalam kemeriahan Konser Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.‎Konser Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo menghadirkan sejumlah penampil, mulai dari Forsa, Logista, New Prima, Harmonis Religius, Pemandu Lagu Selekta, hingga penampilan utama Ndarboy Genk, konser tersebut menjadi penutup rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo Tahun 2026.‎Mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, kegiatan tidak hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang publik sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat melalui aktivitas kunjungan dan belanja selama berlangsungnya event.‎Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan unsur terkait. Di hadapan masyarakat yang memenuhi kawasan Alun-Alun, Afif mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Hari Jadi sebagai sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan dalam membangun Wonosobo.‎“Luar biasa! Sambut hangat Ndarboy! Subhanallah, malam hari ini kebanggaan bagi kita dalam rangka puncak Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang ke-201,” ujar Afif.‎Menurutnya, semangat Nyawiji Makarti harus diterjemahkan dalam langkah nyata seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Wonosobo yang sejahtera, adil dan makmur.‎“Nyawiji Makarti, saatnya kita bersatu dalam satu langkah untuk memajukan Wonosobo. Saatnya kita berbuat sesuatu yang terbaik untuk Wonosobo yang sejahtera, adil, dan makmur. Tetap kudu bahagia!” tegasnya.‎Afif juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya rangkaian Hari Jadi, termasuk Djarum 76, Bank Wonosobo, serta para sponsor dan pihak lain yang turut berkontribusi menghadirkan hiburan bagi masyarakat.‎Event Menjadi Penggerak Kunjungan Wisata‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan kegiatan berskala besar seperti konser Hari Jadi memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menghadirkan hiburan.‎Event daerah dapat menjadi salah satu instrumen untuk menggerakkan kunjungan wisata sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi pariwisata.‎“Event seperti ini kami lihat bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak pariwisata. Ketika ada ribuan orang datang ke Wonosobo, maka yang bergerak bukan hanya lokasi penyelenggaraan acara, tetapi juga hotel, homestay, restoran, kuliner, transportasi, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata,” kata Fahmi.‎Menurut Fahmi, semakin lama wisatawan berada di Wonosobo, semakin besar pula peluang belanja wisatawan yang berputar di daerah. Karena itu, penyelenggaraan event perlu dikaitkan dengan upaya memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay).‎“Yang ingin kita dorong bukan sekadar wisatawan datang untuk menonton event kemudian pulang. Kami berharap event dapat menjadi pintu masuk agar wisatawan tinggal lebih lama, mengunjungi destinasi lain, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM dan menggunakan jasa pariwisata yang ada di Wonosobo,” jelasnya.‎Fahmi menambahkan, momentum event dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beragam potensi wisata Wonosobo kepada pengunjung dari luar daerah.‎Wisatawan yang datang untuk menghadiri konser, misalnya, dapat diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi alam, desa wisata, wisata budaya maupun sentra ekonomi kreatif.‎“Kalau satu wisatawan datang, kemudian menginap, makan di restoran atau warung lokal, menggunakan transportasi, berkunjung ke destinasi dan membeli oleh-oleh, maka terjadi rantai ekonomi yang manfaatnya dirasakan oleh banyak pelaku usaha. Inilah yang kami harapkan dari pengembangan event tourism di Wonosobo,” ujarnya.‎Mendorong Perputaran Ekonomi Masyarakat‎Kemeriahan konser Hari Jadi ke-201 juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menangkap peluang ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat. Kehadiran pengunjung dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan transaksi pada sektor perdagangan, kuliner, transportasi, akomodasi serta usaha kreatif masyarakat.‎Fahmi mengatakan, sektor pariwisata memiliki karakteristik ekonomi yang melibatkan banyak pelaku. Karena itu, indikator keberhasilan event tidak hanya dilihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari dampak ikutannya terhadap kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi lokal.‎“Ukuran keberhasilan event pariwisata tidak berhenti pada berapa orang yang hadir di lokasi acara. Kita juga perlu melihat berapa orang yang datang dari luar daerah, berapa lama mereka tinggal, ke mana saja mereka berkunjung, serta berapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Wonosobo,” ungkapnya.‎Ia berharap semakin banyak event berkualitas yang diselenggarakan di Wonosobo dapat memperkuat citra daerah sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki kalender kegiatan yang menarik bagi wisatawan.‎Konser Hari Jadi ke-201 pun menjadi gambaran bagaimana kegiatan budaya, hiburan dan pariwisata dapat berjalan beriringan.‎Ruang publik menjadi titik temu masyarakat, sementara aktivitas kunjungan memberikan peluang bagi pelaku ekonomi lokal untuk mendapatkan manfaat dari pergerakan wisatawan.‎Semangat tersebut selaras dengan tema Hari Jadi ke-201, “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, yang tidak hanya dimaknai sebagai ajakan untuk bersatu dan berkarya, tetapi juga sebagai semangat membangun daerah secara kolaboratif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.‎Dengan demikian, kemeriahan Hari Jadi ke-201 diharapkan tidak berhenti ketika panggung konser berakhir. Pergerakan wisatawan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta promosi potensi daerah diharapkan terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya memperkuat Wonosobo sebagai destinasi wisata yang semakin menarik untuk dikunjungi dan dinikmati lebih lama.‎Wonosobo Nyawiji, Wonosobo Makarti, Wonosobo Loh Jinawi.***

Ngudi Rahayu dari Desa Lengkong: Ruang Bertemunya Tradisi, Generasi Muda, dan Harapan Pariwisata Desa
Berita
Rohmat Syahru Romadlon 07 Aug 2026
59

Ngudi Rahayu dari Desa Lengkong: Ruang Bertemunya Tradisi, Generasi Muda, dan Harapan Pariwisata Desa

Di Desa Lengkong, Kabupaten Wonosobo, kesenian bukan hanya hiburan semata. Ratusan warga sekitar rela bertahan hingga larut malam demi menyaksikan pertunjukan tari, tarian topeng lengger, hingga sendratari yang dipersembahkan oleh Ngudi Rahayu. Di balik kemeriahan panggung tersebut, muncul cerita tentang anak-anak muda yang memilih menjaga warisan budaya dengan cara mereka sendiri, yaitu belajar secara otodidak, berlatih dengan disiplin, dan terus berinovasi agar kesenian tetap menyala dan memiliki denyut nadinya di tengah perubahan zaman.Dari Anak Muda, Untuk Budaya LengkongTim Penari Perempuan dari Ngudi RahayuSumber : Instagram @ngudirahayu_Menariknya, anggota dari Ngudi Rahayu ini didominasi oleh anak-anak muda, mulai dari anak-anak yang tengah duduk di bangku SD hingga SMA. Hal tersebut menjadi fenomena yang cukup langka melihat ketertarikan anak muda di era sekarang terhadap teknologi-teknologi yang semakin masif perkembangannya. "Memang anak-anak Lengkong tuh istimewa. Lihat temannya ikut, dia langsung terketuk pengen ikut,” jelas Darman selaku salah satu Wiyogo atau penabuh gamelan di Ngudi Rahayu pada wawancara singkat bersama Tim KKN-PPM UGM Srawung Garung pada Senin, 6 Juli 2026.Belajar Sendiri, Berkarya BersamaTim Wiyogo dari Ngudi RahayuSumber : Arsip Dokumentasi Ngudi RahayuKreativitas para anggota Ngudi Rahayu patut mendapat apresiasi tinggi. Bagaimana tidak, seluruh proses latihan mereka lakukan secara otodidak tanpa sentuhan pelatih profesional. Mulai dari mengulik dan merancang gerakan sejak awal, hingga menyusun iringan musik yang selaras dari tangga nada gamelan, semuanya dipadukan secara harmonis tanpa sedikit pun mengesampingkan esensi dan makna tarian tersebut. "Pelatih kita pakai orang sendiri... otodidak,” jelas Darman. Selain itu, bagi mereka media sosial juga bukan menjadi alat penggerus dari kebudayaan dan tradisi yang sudah ada, melainkan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran tambahan agar kesenian dapat terus berkembang, seperti saat ingin membangun koreografi baru. Darman memaparkan bahwa dalam prosesnya, mereka mencari beberapa contoh koreografi dan tarian melalui platform YouTube, setelahnya jika terdapat gerakan yang memang cocok akan mereka gunakan untuk koreografi tarian mereka.Latihan yang Tidak MudahKekompakan dan kekreatifitasan mereka tentu tidak selalu berjalan mulus, tentu ada beberapa kisah perjuangan dan tantangan yang mewarnai perjalanan mereka di Ngudi Rahayu ini, seperti konsistensi dan niat yang kuat untuk latihan selama satu bulan penuh jika sedang mempersiapkan pentas, kedisiplinan para anggota yang diuji dalam proses mempersiapkan penampilan mereka, hingga mempelajari sendratari yang memang bukan basic dari para anggota Ngudi Rahayu sendiri. “Soalnya gerakan-gerakan yang seperti itu sebelumnya belum pernah kita pelajari kan? Jadi gimana caranya kita menguasai gerakan ini itu, jadi lebih menantang lah.” jelas Darman. Penguasaan gerakan yang memang belum familiar bagi para anggota tentu menjadi sebuah proses tersendiri yang tidak mudah dan membutuhkan kegigihan untuk menampilkan yang terbaik. Kendati demikian, berbagai pertunjukan telah berhasil mereka selesaikan dengan persembahan penampilan yang luar biasa. Bukan Sekadar HiburanPertunjukan Emblek DongongSumber : Instagram @ngudirahayu_Bagi Sanggar Ngudi Rahayu, setiap pertunjukan yang dipentaskan tidak semata untuk hiburan penonton, melainkan juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Berbagai kesenian yang dibawakan selalu diupayakan memiliki makna yang dapat dipetik oleh masyarakat, sehingga setiap pementasan tidak berhenti sebagai tontonan semata. Darman selaku salah satu anggota Ngudi Rahayu menyampaikan bahwa prinsip tersebut menjadi salah satu tujuan utama dalam setiap karya yang mereka tampilkan. "Harapan dari Ngudi Rahayu, tontonan itu menjadi tuntunan," ujarnya.Nilai tersebut tercermin dalam salah satu pertunjukan Emblek Dongong yang mengangkat pesan tentang pentingnya menyelesaikan permasalahan melalui musyawarah dan kehadiran sosok penengah. Melalui alur cerita yang dibawakan, penonton diajak memahami bahwa setiap konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan apabila dihadapi dengan kebijaksanaan dan komunikasi yang baik. Sehingga, kesenian tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga media edukasi yang kental akan pesan moral di dalamnya.Pendekatan inilah yang membuat Sanggar Ngudi Rahayu berupaya mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Bagi mereka, pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga bentuk pertunjukan agar tetap eksis, tetapi juga memastikan bahwa nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipahami oleh generasi muda maupun masyarakat luas. Melalui pementasan yang sarat makna, Ngudi Rahayu berharap kesenian tradisional tetap relevan dan mampu menjadi identitas budaya Desa Lengkong sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.Di tengah berkembangnya berbagai bentuk pertunjukan modern, Sanggar Ngudi Rahayu memilih tetap berpegang pada komitmennya untuk melestarikan kesenian khas Wonosobo. Beragam inovasi memang terus dilakukan, mulai dari pengembangan koreografi hingga penyajian pertunjukan yang lebih menarik. Namun, inovasi tersebut tetap bertumpu pada identitas budaya lokal yang menjadi ciri khas mereka. Bagi Ngudi Rahayu, perkembangan tidak harus menghilangkan akar budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.Tetap Menjaga Jati DiriSetelah Pertunjukan “Laskar Jogo Bumi” oleh Ngudi RahayuSumber : Arsip Dokumentasi Ngudi RahayuKomitmen tersebut juga menjadi bentuk tanggung jawab sanggar dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Darman menegaskan bahwa arah pengembangan sanggar tetap difokuskan pada pelestarian kesenian lokal. "Kita konsisten untuk kelestarian budaya asli yang Wonosobo saja," ungkapnya. Pernyataan tersebut mencerminkan tekad sanggar untuk terus memperkenalkan kesenian daerah tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas masyarakat Lengkong.Melalui konsistensi tersebut, Sanggar Ngudi Rahayu berharap kesenian tradisional tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus dikenal oleh masyarakat luas. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan identitas budaya Desa Lengkong yang berpotensi mendukung pengembangan wisata berbasis budaya di Kabupaten Wonosobo.Mencari Keselamatan Melalui BudayaTim Wiyogo Ngudi RahayuSumber : Dokumentasi Tim KKN PPM UGM Srawung GarungNama Ngudi Rahayu bukan sekadar identitas sebuah sanggar, tetapi juga mengandung filosofi yang menjadi pedoman dalam setiap aktivitas pelestarian budaya yang mereka lakukan. Ketua Sanggar Ngudi Rahayu menjelaskan bahwa nama tersebut memiliki makna yang mendalam. "Ngudi itu mencari, Rahayu itu keselamatan. Jadi Ngudi Rahayu itu mencari keselamatan," jelasnya.Filosofi tersebut diwujudkan melalui semangat untuk terus menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kesenian kepada generasi berikutnya. Di tengah tantangan modernisasi, Sanggar Ngudi Rahayu tetap berupaya menghadirkan ruang bagi anak-anak muda untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang terlibat sehingga keberlangsungan kesenian tradisional tetap terjaga.Ke depan, Sanggar Ngudi Rahayu berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya terus tumbuh di tengah masyarakat. "Harapan kita lebih kompak lagi, terus banyak penerus-penerus yang mencintai seni," tuturnya. Dengan semangat tersebut, Ngudi Rahayu tidak hanya menjadi sanggar seni, tetapi juga menjadi ruang bagi lahirnya generasi penerus yang akan menjaga identitas budaya Desa Lengkong sekaligus memperkuat potensinya sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Wonosobo.

Kunjungan Lapangan Penataan Kawasan Dieng dan Akselerasi Kegiatan Strategis di Kawasan Dieng
Berita
admin 07 Aug 2026
149

Kunjungan Lapangan Penataan Kawasan Dieng dan Akselerasi Kegiatan Strategis di Kawasan Dieng

Pada hari Kamis, 6 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo melaksanakan Kunjungan Lapangan Penataan Kawasan Dieng dan Akselerasi Kegiatan Strategis di Kawasan Dieng sebagai tindak lanjut Surat Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 500.13/1921 tanggal 4 Agustus 2026.‎‎Kegiatan dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Wonosobo dan diikuti oleh perangkat daerah terkait, meliputi Bappeda, BPKPAD, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, DPUPR, Dinsos PMD, Satpol PP, Bagian Administrasi Pembangunan, Bagian Hukum, Bagian Pemerintahan, Bagian Perekonomian dan SDA Setda, Camat Kejajar, UPTD Pengelola Objek Wisata, serta pemerintah desa Sembungan.‎‎Kegiatan diawali dengan briefing di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, kemudian rombongan bergerak menuju Gardu Pandang Tieng untuk meninjau kondisi eksisting lokasi yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Daerah (PSD) Revitalisasi Gardu Pandang Tieng. Pada kesempatan tersebut dilakukan identifikasi kondisi lapangan, aksesibilitas, serta kesiapan lokasi sebagai dasar percepatan pelaksanaan pekerjaan revitalisasi agar dapat berjalan sesuai perencanaan.‎‎Selanjutnya rombongan menuju kawasan lahan parkir Syailendra/embung 1 dieng (kawasan telaga warna) untuk meninjau hasil Penataan Kawasan Dieng Tahap (RPIP lokasi 1) yang telah diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo, melalui BASTO. Pada lokasi ini dibahas tindak lanjut pengelolaan aset hasil penataan, khususnya terkait pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN), sehingga diperlukan kejelasan regulasi dan mekanisme pengelolaan agar aset yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelayanan kepariwisataan.‎‎Kunjungan berikutnya dilaksanakan di Dieng Plateau Theater sebagai lokasi rencana Revitalisasi Dieng Plateau Theater. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi bangunan dan kawasan, mengidentifikasi kebutuhan penanganan teknis, serta menyelaraskan rencana pelaksanaan pekerjaan dengan kondisi lapangan agar proses revitalisasi dapat berjalan secara efektif.‎‎Rombongan kemudian melanjutkan peninjauan ke lokasi Tanah Putar DPT, menindaklanjuti rencana pemanfaatan lahan oleh PT Wonosobo Konstruksi Indonesia (Cebong Group) sebagai lokasi batching plant pendukung pembangunan Geothermal Power Plant Dieng Unit 2. Dalam kesempatan tersebut dilakukan pembahasan mengenai kesesuaian pemanfaatan lahan, aspek administrasi, serta koordinasi antarinstansi guna memastikan rencana tersebut tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku dan tidak mengganggu pengelolaan kawasan.‎‎Kunjungan lapangan dilanjutkan menuju Kawasan Sikadang, Dusun Siterus, Desa Sikunang, yang merupakan lokasi hasil BASTO Penataan Kawasan Dieng lokasi 2, kegiatan turun di hadiri oleh Perhutani dan PT Palawi sebagai pemilik aset (lahan) dan pengelola. Tim meninjau kondisi infrastruktur yang telah dibangun sekaligus mengevaluasi kesiapan pengelolaan pasca serah terima.‎‎Selanjutnya rombongan menuju Kawasan Parkir Sikunir, Desa Sembungan, sebagai lokasi BASTO Penataan Kawasan Dieng lokasi 3, untuk memastikan hasil pembangunan dapat dimanfaatkan secara optimal serta mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut dalam pengelolaan kawasan wisata, yang akan di serah terimakan pengelolaan nya kepada Pemerintah Desa.‎‎Melalui rangkaian kunjungan lapangan tersebut diperoleh berbagai masukan dan rekomendasi teknis yang akan menjadi bahan tindak lanjut bagi masing-masing perangkat daerah sesuai kewenangannya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar instansi dalam mendukung percepatan penataan Kawasan Dieng sehingga pembangunan infrastruktur pariwisata dapat berjalan optimal, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta meningkatkan kualitas destinasi wisata Kabupaten Wonosobo.‎

...