Pencarian Global

‎Konser Hari Jadi ke-201 Wonosobo Dorong Pergerakan Wisata dan Ekonomi Lokal
Berita
Dimas D. Pradikta 10 Aug 2026
14

‎Konser Hari Jadi ke-201 Wonosobo Dorong Pergerakan Wisata dan Ekonomi Lokal

‎WONOSOBO – Ribuan masyarakat memadati Alun-Alun Wonosobo pada Sabtu 8 Agustus 2026 malam, dalam kemeriahan Konser Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.‎Konser Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo menghadirkan sejumlah penampil, mulai dari Forsa, Logista, New Prima, Harmonis Religius, Pemandu Lagu Selekta, hingga penampilan utama Ndarboy Genk, konser tersebut menjadi penutup rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo Tahun 2026.‎Mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, kegiatan tidak hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang publik sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat melalui aktivitas kunjungan dan belanja selama berlangsungnya event.‎Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan unsur terkait. Di hadapan masyarakat yang memenuhi kawasan Alun-Alun, Afif mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Hari Jadi sebagai sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan dalam membangun Wonosobo.‎“Luar biasa! Sambut hangat Ndarboy! Subhanallah, malam hari ini kebanggaan bagi kita dalam rangka puncak Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang ke-201,” ujar Afif.‎Menurutnya, semangat Nyawiji Makarti harus diterjemahkan dalam langkah nyata seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Wonosobo yang sejahtera, adil dan makmur.‎“Nyawiji Makarti, saatnya kita bersatu dalam satu langkah untuk memajukan Wonosobo. Saatnya kita berbuat sesuatu yang terbaik untuk Wonosobo yang sejahtera, adil, dan makmur. Tetap kudu bahagia!” tegasnya.‎Afif juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya rangkaian Hari Jadi, termasuk Djarum 76, Bank Wonosobo, serta para sponsor dan pihak lain yang turut berkontribusi menghadirkan hiburan bagi masyarakat.‎Event Menjadi Penggerak Kunjungan Wisata‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan kegiatan berskala besar seperti konser Hari Jadi memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menghadirkan hiburan.‎Event daerah dapat menjadi salah satu instrumen untuk menggerakkan kunjungan wisata sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi pariwisata.‎“Event seperti ini kami lihat bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak pariwisata. Ketika ada ribuan orang datang ke Wonosobo, maka yang bergerak bukan hanya lokasi penyelenggaraan acara, tetapi juga hotel, homestay, restoran, kuliner, transportasi, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata,” kata Fahmi.‎Menurut Fahmi, semakin lama wisatawan berada di Wonosobo, semakin besar pula peluang belanja wisatawan yang berputar di daerah. Karena itu, penyelenggaraan event perlu dikaitkan dengan upaya memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay).‎“Yang ingin kita dorong bukan sekadar wisatawan datang untuk menonton event kemudian pulang. Kami berharap event dapat menjadi pintu masuk agar wisatawan tinggal lebih lama, mengunjungi destinasi lain, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM dan menggunakan jasa pariwisata yang ada di Wonosobo,” jelasnya.‎Fahmi menambahkan, momentum event dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beragam potensi wisata Wonosobo kepada pengunjung dari luar daerah.‎Wisatawan yang datang untuk menghadiri konser, misalnya, dapat diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi alam, desa wisata, wisata budaya maupun sentra ekonomi kreatif.‎“Kalau satu wisatawan datang, kemudian menginap, makan di restoran atau warung lokal, menggunakan transportasi, berkunjung ke destinasi dan membeli oleh-oleh, maka terjadi rantai ekonomi yang manfaatnya dirasakan oleh banyak pelaku usaha. Inilah yang kami harapkan dari pengembangan event tourism di Wonosobo,” ujarnya.‎Mendorong Perputaran Ekonomi Masyarakat‎Kemeriahan konser Hari Jadi ke-201 juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menangkap peluang ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat. Kehadiran pengunjung dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan transaksi pada sektor perdagangan, kuliner, transportasi, akomodasi serta usaha kreatif masyarakat.‎Fahmi mengatakan, sektor pariwisata memiliki karakteristik ekonomi yang melibatkan banyak pelaku. Karena itu, indikator keberhasilan event tidak hanya dilihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari dampak ikutannya terhadap kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi lokal.‎“Ukuran keberhasilan event pariwisata tidak berhenti pada berapa orang yang hadir di lokasi acara. Kita juga perlu melihat berapa orang yang datang dari luar daerah, berapa lama mereka tinggal, ke mana saja mereka berkunjung, serta berapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Wonosobo,” ungkapnya.‎Ia berharap semakin banyak event berkualitas yang diselenggarakan di Wonosobo dapat memperkuat citra daerah sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki kalender kegiatan yang menarik bagi wisatawan.‎Konser Hari Jadi ke-201 pun menjadi gambaran bagaimana kegiatan budaya, hiburan dan pariwisata dapat berjalan beriringan.‎Ruang publik menjadi titik temu masyarakat, sementara aktivitas kunjungan memberikan peluang bagi pelaku ekonomi lokal untuk mendapatkan manfaat dari pergerakan wisatawan.‎Semangat tersebut selaras dengan tema Hari Jadi ke-201, “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, yang tidak hanya dimaknai sebagai ajakan untuk bersatu dan berkarya, tetapi juga sebagai semangat membangun daerah secara kolaboratif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.‎Dengan demikian, kemeriahan Hari Jadi ke-201 diharapkan tidak berhenti ketika panggung konser berakhir. Pergerakan wisatawan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta promosi potensi daerah diharapkan terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya memperkuat Wonosobo sebagai destinasi wisata yang semakin menarik untuk dikunjungi dan dinikmati lebih lama.‎Wonosobo Nyawiji, Wonosobo Makarti, Wonosobo Loh Jinawi.***

Ngudi Rahayu dari Desa Lengkong: Ruang Bertemunya Tradisi, Generasi Muda, dan Harapan Pariwisata Desa
Berita
Rohmat Syahru Romadlon 07 Aug 2026
9

Ngudi Rahayu dari Desa Lengkong: Ruang Bertemunya Tradisi, Generasi Muda, dan Harapan Pariwisata Desa

Di Desa Lengkong, Kabupaten Wonosobo, kesenian bukan hanya hiburan semata. Ratusan warga sekitar rela bertahan hingga larut malam demi menyaksikan pertunjukan tari, tarian topeng lengger, hingga sendratari yang dipersembahkan oleh Ngudi Rahayu. Di balik kemeriahan panggung tersebut, muncul cerita tentang anak-anak muda yang memilih menjaga warisan budaya dengan cara mereka sendiri, yaitu belajar secara otodidak, berlatih dengan disiplin, dan terus berinovasi agar kesenian tetap menyala dan memiliki denyut nadinya di tengah perubahan zaman.Dari Anak Muda, Untuk Budaya LengkongTim Penari Perempuan dari Ngudi RahayuSumber : Instagram @ngudirahayu_Menariknya, anggota dari Ngudi Rahayu ini didominasi oleh anak-anak muda, mulai dari anak-anak yang tengah duduk di bangku SD hingga SMA. Hal tersebut menjadi fenomena yang cukup langka melihat ketertarikan anak muda di era sekarang terhadap teknologi-teknologi yang semakin masif perkembangannya. "Memang anak-anak Lengkong tuh istimewa. Lihat temannya ikut, dia langsung terketuk pengen ikut,” jelas Darman selaku salah satu Wiyogo atau penabuh gamelan di Ngudi Rahayu pada wawancara singkat bersama Tim KKN-PPM UGM Srawung Garung pada Senin, 6 Juli 2026.Belajar Sendiri, Berkarya BersamaTim Wiyogo dari Ngudi RahayuSumber : Arsip Dokumentasi Ngudi RahayuKreativitas para anggota Ngudi Rahayu patut mendapat apresiasi tinggi. Bagaimana tidak, seluruh proses latihan mereka lakukan secara otodidak tanpa sentuhan pelatih profesional. Mulai dari mengulik dan merancang gerakan sejak awal, hingga menyusun iringan musik yang selaras dari tangga nada gamelan, semuanya dipadukan secara harmonis tanpa sedikit pun mengesampingkan esensi dan makna tarian tersebut. "Pelatih kita pakai orang sendiri... otodidak,” jelas Darman. Selain itu, bagi mereka media sosial juga bukan menjadi alat penggerus dari kebudayaan dan tradisi yang sudah ada, melainkan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran tambahan agar kesenian dapat terus berkembang, seperti saat ingin membangun koreografi baru. Darman memaparkan bahwa dalam prosesnya, mereka mencari beberapa contoh koreografi dan tarian melalui platform YouTube, setelahnya jika terdapat gerakan yang memang cocok akan mereka gunakan untuk koreografi tarian mereka.Latihan yang Tidak MudahKekompakan dan kekreatifitasan mereka tentu tidak selalu berjalan mulus, tentu ada beberapa kisah perjuangan dan tantangan yang mewarnai perjalanan mereka di Ngudi Rahayu ini, seperti konsistensi dan niat yang kuat untuk latihan selama satu bulan penuh jika sedang mempersiapkan pentas, kedisiplinan para anggota yang diuji dalam proses mempersiapkan penampilan mereka, hingga mempelajari sendratari yang memang bukan basic dari para anggota Ngudi Rahayu sendiri. “Soalnya gerakan-gerakan yang seperti itu sebelumnya belum pernah kita pelajari kan? Jadi gimana caranya kita menguasai gerakan ini itu, jadi lebih menantang lah.” jelas Darman. Penguasaan gerakan yang memang belum familiar bagi para anggota tentu menjadi sebuah proses tersendiri yang tidak mudah dan membutuhkan kegigihan untuk menampilkan yang terbaik. Kendati demikian, berbagai pertunjukan telah berhasil mereka selesaikan dengan persembahan penampilan yang luar biasa. Bukan Sekadar HiburanPertunjukan Emblek DongongSumber : Instagram @ngudirahayu_Bagi Sanggar Ngudi Rahayu, setiap pertunjukan yang dipentaskan tidak semata untuk hiburan penonton, melainkan juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Berbagai kesenian yang dibawakan selalu diupayakan memiliki makna yang dapat dipetik oleh masyarakat, sehingga setiap pementasan tidak berhenti sebagai tontonan semata. Darman selaku salah satu anggota Ngudi Rahayu menyampaikan bahwa prinsip tersebut menjadi salah satu tujuan utama dalam setiap karya yang mereka tampilkan. "Harapan dari Ngudi Rahayu, tontonan itu menjadi tuntunan," ujarnya.Nilai tersebut tercermin dalam salah satu pertunjukan Emblek Dongong yang mengangkat pesan tentang pentingnya menyelesaikan permasalahan melalui musyawarah dan kehadiran sosok penengah. Melalui alur cerita yang dibawakan, penonton diajak memahami bahwa setiap konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan apabila dihadapi dengan kebijaksanaan dan komunikasi yang baik. Sehingga, kesenian tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga media edukasi yang kental akan pesan moral di dalamnya.Pendekatan inilah yang membuat Sanggar Ngudi Rahayu berupaya mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Bagi mereka, pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga bentuk pertunjukan agar tetap eksis, tetapi juga memastikan bahwa nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipahami oleh generasi muda maupun masyarakat luas. Melalui pementasan yang sarat makna, Ngudi Rahayu berharap kesenian tradisional tetap relevan dan mampu menjadi identitas budaya Desa Lengkong sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.Di tengah berkembangnya berbagai bentuk pertunjukan modern, Sanggar Ngudi Rahayu memilih tetap berpegang pada komitmennya untuk melestarikan kesenian khas Wonosobo. Beragam inovasi memang terus dilakukan, mulai dari pengembangan koreografi hingga penyajian pertunjukan yang lebih menarik. Namun, inovasi tersebut tetap bertumpu pada identitas budaya lokal yang menjadi ciri khas mereka. Bagi Ngudi Rahayu, perkembangan tidak harus menghilangkan akar budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.Tetap Menjaga Jati DiriSetelah Pertunjukan “Laskar Jogo Bumi” oleh Ngudi RahayuSumber : Arsip Dokumentasi Ngudi RahayuKomitmen tersebut juga menjadi bentuk tanggung jawab sanggar dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Darman menegaskan bahwa arah pengembangan sanggar tetap difokuskan pada pelestarian kesenian lokal. "Kita konsisten untuk kelestarian budaya asli yang Wonosobo saja," ungkapnya. Pernyataan tersebut mencerminkan tekad sanggar untuk terus memperkenalkan kesenian daerah tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas masyarakat Lengkong.Melalui konsistensi tersebut, Sanggar Ngudi Rahayu berharap kesenian tradisional tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus dikenal oleh masyarakat luas. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan identitas budaya Desa Lengkong yang berpotensi mendukung pengembangan wisata berbasis budaya di Kabupaten Wonosobo.Mencari Keselamatan Melalui BudayaTim Wiyogo Ngudi RahayuSumber : Dokumentasi Tim KKN PPM UGM Srawung GarungNama Ngudi Rahayu bukan sekadar identitas sebuah sanggar, tetapi juga mengandung filosofi yang menjadi pedoman dalam setiap aktivitas pelestarian budaya yang mereka lakukan. Ketua Sanggar Ngudi Rahayu menjelaskan bahwa nama tersebut memiliki makna yang mendalam. "Ngudi itu mencari, Rahayu itu keselamatan. Jadi Ngudi Rahayu itu mencari keselamatan," jelasnya.Filosofi tersebut diwujudkan melalui semangat untuk terus menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kesenian kepada generasi berikutnya. Di tengah tantangan modernisasi, Sanggar Ngudi Rahayu tetap berupaya menghadirkan ruang bagi anak-anak muda untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang terlibat sehingga keberlangsungan kesenian tradisional tetap terjaga.Ke depan, Sanggar Ngudi Rahayu berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya terus tumbuh di tengah masyarakat. "Harapan kita lebih kompak lagi, terus banyak penerus-penerus yang mencintai seni," tuturnya. Dengan semangat tersebut, Ngudi Rahayu tidak hanya menjadi sanggar seni, tetapi juga menjadi ruang bagi lahirnya generasi penerus yang akan menjaga identitas budaya Desa Lengkong sekaligus memperkuat potensinya sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Wonosobo.

Kunjungan Lapangan Penataan Kawasan Dieng dan Akselerasi Kegiatan Strategis di Kawasan Dieng
Berita
admin 07 Aug 2026
20

Kunjungan Lapangan Penataan Kawasan Dieng dan Akselerasi Kegiatan Strategis di Kawasan Dieng

Pada hari Kamis, 6 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo melaksanakan Kunjungan Lapangan Penataan Kawasan Dieng dan Akselerasi Kegiatan Strategis di Kawasan Dieng sebagai tindak lanjut Surat Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 500.13/1921 tanggal 4 Agustus 2026.‎‎Kegiatan dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Wonosobo dan diikuti oleh perangkat daerah terkait, meliputi Bappeda, BPKPAD, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, DPUPR, Dinsos PMD, Satpol PP, Bagian Administrasi Pembangunan, Bagian Hukum, Bagian Pemerintahan, Bagian Perekonomian dan SDA Setda, Camat Kejajar, UPTD Pengelola Objek Wisata, serta pemerintah desa Sembungan.‎‎Kegiatan diawali dengan briefing di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, kemudian rombongan bergerak menuju Gardu Pandang Tieng untuk meninjau kondisi eksisting lokasi yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Daerah (PSD) Revitalisasi Gardu Pandang Tieng. Pada kesempatan tersebut dilakukan identifikasi kondisi lapangan, aksesibilitas, serta kesiapan lokasi sebagai dasar percepatan pelaksanaan pekerjaan revitalisasi agar dapat berjalan sesuai perencanaan.‎‎Selanjutnya rombongan menuju kawasan lahan parkir Syailendra/embung 1 dieng (kawasan telaga warna) untuk meninjau hasil Penataan Kawasan Dieng Tahap (RPIP lokasi 1) yang telah diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo, melalui BASTO. Pada lokasi ini dibahas tindak lanjut pengelolaan aset hasil penataan, khususnya terkait pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN), sehingga diperlukan kejelasan regulasi dan mekanisme pengelolaan agar aset yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelayanan kepariwisataan.‎‎Kunjungan berikutnya dilaksanakan di Dieng Plateau Theater sebagai lokasi rencana Revitalisasi Dieng Plateau Theater. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi bangunan dan kawasan, mengidentifikasi kebutuhan penanganan teknis, serta menyelaraskan rencana pelaksanaan pekerjaan dengan kondisi lapangan agar proses revitalisasi dapat berjalan secara efektif.‎‎Rombongan kemudian melanjutkan peninjauan ke lokasi Tanah Putar DPT, menindaklanjuti rencana pemanfaatan lahan oleh PT Wonosobo Konstruksi Indonesia (Cebong Group) sebagai lokasi batching plant pendukung pembangunan Geothermal Power Plant Dieng Unit 2. Dalam kesempatan tersebut dilakukan pembahasan mengenai kesesuaian pemanfaatan lahan, aspek administrasi, serta koordinasi antarinstansi guna memastikan rencana tersebut tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku dan tidak mengganggu pengelolaan kawasan.‎‎Kunjungan lapangan dilanjutkan menuju Kawasan Sikadang, Dusun Siterus, Desa Sikunang, yang merupakan lokasi hasil BASTO Penataan Kawasan Dieng lokasi 2, kegiatan turun di hadiri oleh Perhutani dan PT Palawi sebagai pemilik aset (lahan) dan pengelola. Tim meninjau kondisi infrastruktur yang telah dibangun sekaligus mengevaluasi kesiapan pengelolaan pasca serah terima.‎‎Selanjutnya rombongan menuju Kawasan Parkir Sikunir, Desa Sembungan, sebagai lokasi BASTO Penataan Kawasan Dieng lokasi 3, untuk memastikan hasil pembangunan dapat dimanfaatkan secara optimal serta mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut dalam pengelolaan kawasan wisata, yang akan di serah terimakan pengelolaan nya kepada Pemerintah Desa.‎‎Melalui rangkaian kunjungan lapangan tersebut diperoleh berbagai masukan dan rekomendasi teknis yang akan menjadi bahan tindak lanjut bagi masing-masing perangkat daerah sesuai kewenangannya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar instansi dalam mendukung percepatan penataan Kawasan Dieng sehingga pembangunan infrastruktur pariwisata dapat berjalan optimal, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta meningkatkan kualitas destinasi wisata Kabupaten Wonosobo.‎

Balon Udara Wonosobo Go International, Jadi Wakil Indonesia di Festival del Globo Tahmek Yucatan 2026, Meksiko
Berita
Dimas D. Pradikta 03 Aug 2026
74

Balon Udara Wonosobo Go International, Jadi Wakil Indonesia di Festival del Globo Tahmek Yucatan 2026, Meksiko

‎WONOSOBO – Tradisi Balon Udara Wonosobo kembali mencatatkan capaian membanggakan di tingkat internasional. Untuk pertama kalinya, komunitas Balon Udara Wonosobo dipercaya mewakili Indonesia dalam ajang Festival del Globo Tahmek Yucatán 2026 yang akan berlangsung pada 22–23 Agustus 2026 di Yucatán, Meksiko.‎Keikutsertaan tersebut menjadi istimewa karena bukan melalui mekanisme pendaftaran, melainkan berdasarkan undangan resmi dari penyelenggara festival. Undangan itu diberikan sebagai bentuk pengakuan atas eksistensi serta reputasi Balon Udara Wonosobo yang telah dikenal oleh komunitas balon udara di berbagai negara.‎Festival del Globo Tahmek tahun ini akan menghadirkan peserta dari enam negara, yakni Meksiko sebagai tuan rumah, Prancis, Brasil, Kolombia, El Salvador, serta Indonesia yang diwakili secara eksklusif oleh Komunitas Balon Udara Wonosobo.‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa kepercayaan tersebut merupakan kebanggaan sekaligus peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi wisata Wonosobo kepada masyarakat internasional.‎"Keikutsertaan Balon Udara Wonosobo dalam Festival del Globo Tahmek merupakan kehormatan bagi daerah kami. Momentum ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan budaya, kreativitas masyarakat, serta berbagai potensi pariwisata Wonosobo kepada dunia," ujarnya Senin 3 Agustus 2026.‎Menurut Fahmi, Balon Udara Wonosobo kini tidak sekadar menjadi tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi telah berkembang sebagai ikon budaya sekaligus atraksi wisata yang memiliki daya tarik kuat.‎Sebagai representasi daerah, Wonosobo akan membawa dua balon udara tradisional dengan desain khusus. Kedua balon tersebut akan menampilkan berbagai unsur budaya serta destinasi unggulan Kabupaten Wonosobo sebagai media promosi di hadapan masyarakat internasional.‎"Melalui desain balon yang diterbangkan nanti, kami ingin memperkenalkan kekayaan wisata dan budaya Wonosobo kepada masyarakat dari berbagai negara, termasuk kawasan Amerika Latin. Ini merupakan bagian dari strategi promosi daerah di tingkat global," lanjutnya.‎Membawa Semangat Persahabatan Antarbangsa‎Dalam festival tersebut, Indonesia akan diwakili oleh Ketua Komunitas Balon Udara Wonosobo, Agam Setyobudi, bersama Arma Deni Kurniawandari dari Around Me. Selain mendampingi seluruh rangkaian kegiatan, Arma juga akan mendokumentasikan perjalanan tersebut sebagai bagian dari upaya promosi Balon Udara Wonosobo kepada masyarakat yang lebih luas.‎Salah satu balon yang diterbangkan dirancang dengan memadukan unsur budaya Indonesia dan Meksiko sebagai simbol persahabatan kedua negara. Sementara balon lainnya mengangkat identitas budaya serta kekayaan destinasi wisata Kabupaten Wonosobo.‎Agam Setyobudi menyebut undangan tersebut sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap tradisi Balon Udara Wonosobo.‎"Indonesia hanya diwakili oleh Wonosobo. Ini merupakan kebanggaan sekaligus amanah bagi kami untuk menunjukkan bahwa Balon Udara Wonosobo memiliki kualitas, kreativitas, dan nilai budaya yang layak diperkenalkan di tingkat internasional," katanya.‎Ia menjelaskan, undangan dari panitia Festival del Globo Tahmek bermula dari rekomendasi peserta asal Brasil yang pernah mengikuti Festival Mudik Balon Wonosobo pada tahun 2025. Melalui jejaring tersebut, penyelenggara di Meksiko kemudian menghubungi Komunitas Balon Udara Wonosobo dan mengundangnya secara langsung.‎"Kami tidak mengajukan pendaftaran. Panitia menghubungi langsung setelah mengenal tradisi Balon Udara Wonosobo melalui jaringan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi masyarakat Wonosobo telah mendapatkan perhatian dari dunia," jelas Agam.‎Persiapan balon dilakukan secara gotong royong oleh sekitar 20 pegiat balon dari berbagai komunitas di Wonosobo. Seluruh proses produksi dikerjakan bersama sebagai wujud semangat kolektif dalam membawa nama Indonesia di forum internasional.‎Walaupun delegasi Indonesia hanya terdiri atas dua orang, proses penerbangan balon selama festival akan didukung oleh kru lokal yang telah disiapkan penyelenggara.‎Agam juga menjelaskan adanya perbedaan konsep antara festival balon di Meksiko dan Wonosobo. Apabila di Wonosobo balon diterbangkan dengan sistem ditambatkan sesuai ketentuan keselamatan penerbangan di Indonesia, maka di Meksiko balon akan diterbangkan secara bebas menggunakan metode modern pada sore hingga malam hari sesuai kondisi cuaca setempat.‎"Semoga kesempatan ini semakin memperluas pengenalan Balon Udara Wonosobo di mata dunia sekaligus menjadi penyemangat bagi generasi muda untuk terus melestarikan tradisi warisan leluhur," ujarnya.‎‎Memperluas Jejaring dan Promosi Daerah‎Bagi Pemerintah Kabupaten Wonosobo, partisipasi dalam Festival del Globo Tahmek tidak hanya dimaknai sebagai promosi budaya, tetapi juga menjadi langkah strategis memperkuat posisi Wonosobo sebagai destinasi wisata budaya yang mampu bersaing di tingkat global.‎Fahmi menilai keikutsertaan tersebut akan memperkaya portofolio Pemerintah Kabupaten Wonosobo maupun Komunitas Balon Udara Wonosobo dalam kegiatan balon udara berskala internasional.‎Selain memperkenalkan daerah kepada masyarakat dunia, festival tersebut juga membuka peluang bertukar pengalaman dengan komunitas balon dari berbagai negara, memperluas jejaring kerja sama, sekaligus mendorong inovasi pengembangan wisata balon di Wonosobo.‎"Kami berharap partisipasi ini memberikan dampak positif bagi pengembangan Balon Udara Wonosobo sebagai salah satu daya tarik wisata berkelas dunia," tuturnya.‎Ia menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir berbagai agenda wisata Wonosobo mulai mendapat perhatian masyarakat internasional. ‎Selain tradisi Balon Udara Wonosobo, sejumlah event seperti Festival Mudik Balon, Java Balloon Attraction, dan Dieng Caldera Race juga semakin dikenal dan menarik minat wisatawan maupun peserta dari luar negeri.‎Dukungan Pemerintah untuk Misi Budaya‎Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memberikan dukungan penuh terhadap keberangkatan delegasi ke Meksiko, baik melalui fasilitasi maupun dukungan pendanaan sesuai kemampuan daerah.‎Selain itu, Bupati Wonosobo turut membangun komunikasi dengan berbagai kementerian, lembaga pemerintah, serta badan usaha, di antaranya Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, dan PT Pertamina (Persero), guna mendukung pelaksanaan misi budaya tersebut.‎"Kami terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak agar keberangkatan delegasi dapat terlaksana dengan baik. Mereka tidak hanya membawa nama Wonosobo, tetapi juga mewakili Indonesia di ajang internasional," ujar Fahmi.‎Warisan Budaya yang Terus Mendunia‎Keikutsertaan Balon Udara Wonosobo di Festival del Globo Tahmek semakin bermakna karena berlangsung pada tahun yang sama ketika Budaya Balon Udara Tradisional Wonosobo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. ‎Tradisi tersebut juga telah memperoleh pengakuan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), yang semakin mengukuhkan identitas budaya masyarakat Wonosobo.‎Pengakuan tersebut menjadi landasan penting dalam upaya pelestarian sekaligus pengembangan Balon Udara Wonosobo sebagai atraksi wisata budaya yang aman, kreatif, dan memiliki daya saing di tingkat internasional.‎Melalui partisipasi di Festival del Globo Tahmek Yucatán 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap Balon Udara Wonosobo semakin dikenal sebagai ikon budaya Indonesia yang mampu menjadi sarana diplomasi budaya, memperkuat promosi pariwisata daerah, memperluas jejaring kerja sama internasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya.‎Keikutsertaan ini membuktikan bahwa tradisi yang lahir dari masyarakat Wonosobo tidak hanya mampu bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang hingga mendapat pengakuan di panggung dunia. ‎Berbekal semangat gotong royong, kreativitas masyarakat, dan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Balon Udara Wonosobo diharapkan terus mengharumkan nama Wonosobo dan Indonesia di kancah internasional.***‎‎

Festival Paralayang di Bukit Kekep, Desa Lengkong Meriahkan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo
Berita
Rohmat Syahru Romadlon 31 Jul 2026
10

Festival Paralayang di Bukit Kekep, Desa Lengkong Meriahkan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo

Desa Lengkong turut memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-101 dengan mengadakan festival Paralayang yang berjudul Wonosobo Paragliding Culture Festival 2026. Lapangan basecamp Gunung Kembang Via Lengkong dipenuhi oleh masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan festival ini. Wonosobo Paragliding Culture Festival 2026 ini diselenggarakan oleh Komunitas Paralayang Wonosobo yang berkolaborasi dengan Desa Lengkong, dan berhasil menyuguhkan atraksi olahraga dirgantara dengan latar panorama pegunungan khas Wonosobo. Tak hanya menjadi ajang bagi para atlet paralayang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya, festival ini juga menjadi sarana promosi potensi wisata yang dimiliki Desa Lengkong.Sejak pagi hari, kawasan Bukit Kekep telah dipadati oleh masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung proses penerbangan paralayang. Cuaca cerah yang ditunjukkan oleh betapa biru bersihnyanya langit tersebut mendukung jalannya kegiatan sehingga para peserta dapat melakukan lepas landas dengan lancar. Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya masyarakat yang memadati area pandang untuk mengabadikan momen ketika parasut dengan beragam warna menghiasi langit Bukit Kekep. Suasana semakin meriah dengan sorak sorai penonton yang memberikan dukungan kepada para atlet yang sedang mengudara.Atraksi paralayang menjadi daya tarik utama dalam festival ini. Para atlet secara bergantian melakukan lepas landas dari puncak Bukit Kekep dan melayang menikmati kondisi angin yang mendukung. Dari udara, hamparan pegunungan, lahan pertanian, serta permukiman masyarakat Desa Lengkong tampak membentuk panorama yang memukau. Tidak hanya menghadirkan atraksi olahraga yang menantang, kegiatan ini juga memperlihatkan keindahan alam Wonosobo dari sudut pandang yang berbeda sehingga memberikan pengalaman yang menarik bagi peserta maupun penonton.Pengunjung juga dapat menikmati berbagai aktivitas pendukung yang turut memeriahkan festival. Kehadiran pelaku UMKM lokal memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mencicipi beragam kuliner yang tersedia. Menariknya, festival ini juga menyediakan penerbangan tandem (tandem paragliding) yang terbuka untuk masyarakat umum. Melalui pengalaman ini, pengunjung dapat merasakan sensasi terbang bersama pilot profesional sambil menikmati panorama alam Wonosobo dari ketinggian dengan tarif berkisar antara Rp450.000 hingga Rp550.000 per penerbangan. Kehadiran wahana tandem menjadi salah satu daya tarik yang semakin memperkaya pengalaman pengunjung selama festival berlangsung. Interaksi antara masyarakat, wisatawan, serta pelaku usaha lokal menciptakan suasana yang hidup dan memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi selama kegiatan berlangsung. Festival ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menjadi ruang promosi bagi potensi lokal Desa Lengkong.Bukit Kekep sendiri menjadi salah satu lokasi strategis di Desa Lengkong yang memiliki panorama alam yang indah dan berpotensi untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata. Letaknya yang berada tidak jauh dari jalur menuju Basecamp Gunung Kembang menjadikan kawasan ini memiliki peluang untuk menjadi bagian dari rangkaian perjalanan wisata di Desa Lengkong. Keindahan lanskap alam yang disuguhkan menjadikan Bukit Kekep tidak hanya menarik saat festival berlangsung, tetapi juga menjadi potensi tempat bagi para wisatawan yang ingin berkunjung pada hari-hari biasa sebagai lokasi menikmati pemandangan maupun berburu fotografi alam.Melalui penyelenggaraan Festival Paralayang, Desa Lengkong semakin dikenal sebagai salah satu destinasi yang memiliki perpaduan antara wisata alam, olahraga dirgantara, dan potensi lokal yang menarik untuk dikembangkan. Diharapkan kegiatan ini dapat terus menjadi agenda tahunan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkuat promosi pariwisata Kabupaten Wonosobo. Dengan dukungan berbagai pihak, Festival Paralayang di Bukit Kekep diharapkan mampu menjadi salah satu ikon wisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat serta memperkenalkan pesona Desa Lengkong kepada khalayak yang lebih luas.Penulis : Franzeska Aurellia Oenang (Tim KKN PPM UGM Srawung Garung 2026)

‎Paragliding Culture Festival 2026 Sukses Sedot Ribuan Pengunjung, Padukan Olahraga Dirgantara dan Budaya di Wonosobo
Berita
Dimas D. Pradikta 29 Jul 2026
55

‎Paragliding Culture Festival 2026 Sukses Sedot Ribuan Pengunjung, Padukan Olahraga Dirgantara dan Budaya di Wonosobo

‎WONOSOBO – Paragliding Culture Festival 2026 berlangsung meriah dan sukses menjadi magnet wisata dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.‎‎Kegiatan ini digelar selama dua hari, 25–26 Juli 2026 di Bukit Kekeb dan Lapangan Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Wonosobo.‎‎Paragliding Culture Festival 2026 ini diikuti sekitar 50 atlet paralayang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, serta berhasil menarik ribuan pengunjung.‎‎Mengusung konsep perpaduan olahraga dirgantara dengan kekayaan budaya lokal, festival tahun ini menghadirkan pengalaman berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya.‎‎Selain menyuguhkan aksi para atlet menaklukkan langit Wonosobo, pengunjung juga disuguhi berbagai atraksi kreatif yang memadukan keindahan alam dengan seni dan budaya.‎‎Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Sri Fatonah W. Ismangil, menjelaskan bahwa Paragliding Culture Festival 2026 menjadi salah satu agenda unggulan untuk memperkenalkan potensi wisata Wonosobo melalui olahraga kedirgantaraan.‎‎"Sebanyak 50 atlet turut ambil bagian dalam festival ini. Mereka berasal dari Jakarta, Semarang, Purworejo, Temanggung, Banjarnegara, Kendal, Wonosobo, hingga peserta mancanegara asal China. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Bukit Kekeb semakin dikenal sebagai destinasi paralayang yang memiliki daya tarik dan potensi bertaraf internasional," ujarnya.‎‎Menurut Fatonah, salah satu daya tarik utama festival tahun ini adalah hadirnya kompetisi terbang dengan penilaian kreativitas kostum.‎‎Para peserta menampilkan beragam busana saat mengudara, mulai dari kostum tradisional yang mengangkat identitas budaya Nusantara hingga kostum unik dan atraktif yang mengundang gelak tawa para penonton.‎‎"Kompetisi kostum menjadi pembeda tahun ini. Tidak hanya mengedepankan kemampuan terbang, tetapi juga kreativitas peserta dalam menampilkan kostum yang menarik. Hal ini memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan," tambahnya.‎‎Selain kompetisi kostum, pengunjung juga berkesempatan merasakan sensasi terbang melalui atraksi tandem bersama pilot-pilot profesional berlisensi.‎‎Sejumlah pilot berasal dari Kalimantan, Jakarta, Yogyakarta, hingga pilot berpengalaman yang pernah meraih predikat juara dunia paralayang, turut memeriahkan festival tersebut.‎‎Fatonah menegaskan bahwa Paragliding Culture Festival tidak hanya dirancang sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai media promosi pariwisata yang mampu memperkenalkan keindahan alam Wonosobo kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.‎‎"Kami ingin menghadirkan sebuah festival yang menggabungkan olahraga, budaya, dan keindahan alam. Melalui kegiatan ini, Bukit Kekeb diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke Wonosobo," jelasnya.‎Semarak festival tidak berhenti saat matahari terbenam. Pada Sabtu malam, ribuan masyarakat dari Wonosobo dan daerah sekitarnya memadati kawasan Lapangan Desa Lengkong untuk menikmati hiburan panggung dangdut campursari yang menghadirkan penyanyi Silvy Kumalasari.‎Suasana semakin memukau ketika ribuan lampion diterbangkan secara bersamaan, menghiasi langit Desa Lengkong dengan cahaya yang indah dan menciptakan panorama malam yang memikat.‎‎Momen tersebut menjadi salah satu atraksi paling dinantikan sekaligus menutup rangkaian hari pertama festival dengan penuh kemeriahan.‎‎Melalui penyelenggaraan Paragliding Culture Festival 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap event ini dapat terus berkembang menjadi agenda wisata unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan perekonomian masyarakat, sekaligus memperkuat citra Wonosobo sebagai destinasi yang memadukan pesona alam, budaya, dan olahraga dalam satu pengalaman yang berkesan.***

‎Pisowanan Agung Menjadi Puncak Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Menyatukan Semangat Budaya dan Kebersamaan Menuju Wonosobo Loh Jinawi
Berita
Dimas D. Pradikta 25 Jul 2026
113

‎Pisowanan Agung Menjadi Puncak Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Menyatukan Semangat Budaya dan Kebersamaan Menuju Wonosobo Loh Jinawi

WONOSOBO – Prosesi Pisowanan Agung menjadi penanda puncak peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo yang berlangsung khidmat di Pendopo Kabupaten dan Alun-alun Wonosobo, Jumat 24 Juli 2026.Mengusung tema "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", prosesi adat tersebut menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya persatuan, pelestarian budaya, serta penguatan nilai-nilai luhur sebagai landasan membangun masa depan daerah.‎Pisowanan Agung menjadi penutup dari seluruh rangkaian tradisi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang sebelumnya diawali dengan Bedhol Kedhaton, dilanjutkan Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga, hingga Birat Sengkala. Setiap tahapan prosesi mencerminkan perjalanan spiritual masyarakat dalam mengenang sejarah, memanjatkan doa, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkuat tekad bersama demi kemajuan Wonosobo.‎Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan bahwa Hari Jadi bukan hanya momentum mengenang perjalanan sejarah selama lebih dari dua abad, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan semangat perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar pembangunan daerah.‎"Wonosobo lahir dari perjalanan panjang penuh perjuangan. Lebih dari dua abad sejarah mengajarkan kita arti pengabdian, pengorbanan, dan optimisme dalam membangun masa depan. Karena itu, Hari Jadi harus dimaknai sebagai penguat jati diri sekaligus penyatu semangat seluruh masyarakat dalam membangun Wonosobo," ujar Afif.‎Ia menjelaskan, tema "Nyawiji Makarti" mengandung makna menyatukan seluruh potensi, tenaga, dan ikhtiar masyarakat agar menjadi kekuatan bersama dalam menghadirkan pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga.‎Menurutnya, meskipun peringatan Hari Jadi tahun ini diselenggarakan secara sederhana sebagai bagian dari kebijakan efisiensi, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kuatnya rasa memiliki terhadap Kabupaten Wonosobo.‎"Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa pemerintah dan masyarakat harus terus berjalan beriringan. Seluruh energi yang kita miliki perlu disatukan untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat Wonosobo," tegasnya.‎Afif juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan memandang pembangunan sebagai tanggung jawab bersama, sehingga cita-cita mewujudkan Wonosobo yang maju, adil, dan sejahtera dapat diwujudkan secara berkelanjutan.‎Prosesi Pisowanan Agung diawali dengan penyerahan kembali Panji-panji Daerah dari perwakilan masyarakat kepada Bupati Wonosobo yang didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Prosesi tersebut menjadi simbol bersatunya pemerintah dan masyarakat dalam satu komitmen untuk terus mengabdi dan membangun Kabupaten Wonosobo.‎Rangkaian prosesi kemudian berlanjut dengan Birat Sengkala, yakni ritual pemercikan air yang dihimpun dari tujuh sumber mata air ke empat penjuru mata angin. Ritual tersebut menjadi lambang doa dan harapan agar Kabupaten Wonosobo senantiasa memperoleh perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, dilimpahi keselamatan, ketenteraman, kemakmuran, serta dijauhkan dari segala bentuk bencana dan marabahaya.‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menjelaskan bahwa seluruh prosesi Hari Jadi merupakan satu kesatuan yang memiliki filosofi saling melengkapi.‎"Pisowanan Agung menjadi puncak seluruh rangkaian Hari Jadi. Pengembalian Panji-panji Daerah melambangkan eratnya persatuan pemerintah dan masyarakat. Birat Sengkala merupakan ikhtiar spiritual memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi Wonosobo, kemudian dilanjutkan dengan Kembul Bujana serta Grebeg Gunungan Sayur sebagai wujud rasa syukur sekaligus berbagi berkah kepada masyarakat," jelas Fahmi.‎Setelah prosesi adat selesai, ribuan warga larut dalam kebersamaan melalui Kembul Bujana, tradisi makan bersama yang menggambarkan semangat persaudaraan tanpa membedakan latar belakang. Suasana semakin meriah ketika Grebeg Gunungan Sayur digelar. Gunungan hasil bumi yang menjadi simbol kemakmuran dan keberkahan diperebutkan masyarakat sebagai harapan akan hasil panen yang melimpah dan kehidupan yang semakin sejahtera.‎Peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo juga diwarnai dengan prosesi Ritual Cukur Rambut Gimbal terhadap tujuh anak. Tradisi khas masyarakat Dieng tersebut kembali dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.‎"Pada tahun ini terdapat tujuh anak yang mengikuti ritual cukur rambut gimbal dengan berbagai permintaan yang telah dipenuhi sesuai tradisi. Prosesi ini bukan hanya ritual adat, tetapi juga menjadi bentuk pelestarian budaya sekaligus upaya mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap hidup dan lestari," ungkap Fahmi.‎‎Puncak peringatan Hari Jadi semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang melibatkan pelajar, sanggar seni, komunitas budaya, hingga atraksi dari Yonif TP 444 Satria Setjonegoro. Ribuan masyarakat yang memadati kawasan Alun-alun Wonosobo menunjukkan bahwa budaya tetap menjadi identitas yang hidup, tumbuh, dan terus dirawat bersama.‎Melalui tema "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik semata, tetapi juga melalui pelestarian budaya, penguatan nilai-nilai kebersamaan, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Semangat tersebut menjadi fondasi bagi terwujudnya Wonosobo yang lestari, harmonis, maju, dan semakin sejahtera.***‎

Hening Penuh Makna, Tapa Bisu hingga Birat Sengkala Satukan Doa untuk Wonosobo Loh Jinawi
Berita
Dimas D. Pradikta 24 Jul 2026
41

Hening Penuh Makna, Tapa Bisu hingga Birat Sengkala Satukan Doa untuk Wonosobo Loh Jinawi

WONOSOBO – Suasana malam di pusat Kota Wonosobo berubah menjadi penuh khidmat saat ratusan peserta berjalan dalam keheningan mengikuti prosesi Tapa Bisu, Kamis 23 Juli 2026 malam.Tanpa sepatah kata pun terucap, barisan peserta melangkah perlahan sambil membawa obor, menghadirkan sebuah laku spiritual yang telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan doa bagi keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan Kabupaten Wonosobo.Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Setelah Tapa Bisu, kegiatan dilanjutkan dengan Hastungkara Ujubing Umbul Donga dan Birat Sengkala, dua prosesi yang sarat nilai spiritual dan budaya sebagai simbol persatuan masyarakat, kerukunan antarumat beragama, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.Kirab dimulai dari kawasan Klenteng Honggoderpo menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo. Dengan mengenakan busana adat Jawa, para peserta mengiringi perjalanan Air Suci Tirto Perwitosari dan Bantolo, tanah pusaka yang sebelumnya diambil dari Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, dalam rangkaian Bedhol Kedhaton. Cahaya obor yang menyala sepanjang perjalanan menjadi lambang harapan sekaligus penerang bagi langkah masyarakat dalam menapaki masa depan.Sesampainya di Pendopo Kabupaten, Air Suci Tirto Perwitosari dipersatukan dalam prosesi Hastungkara Ujubing Umbul Donga, yaitu doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh dari enam agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).Momentum tersebut menjadi penegasan bahwa keberagaman di Wonosobo merupakan kekuatan yang terus dirawat melalui semangat saling menghormati dan hidup berdampingan.Rangkaian kemudian berlanjut menuju Paseban Timur untuk pelaksanaan Birat Sengkala, sebuah ritual yang dimaknai sebagai ikhtiar menolak berbagai bentuk sengkala atau hal-hal buruk, mulai dari bencana, malapetaka, hingga berbagai hambatan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat maupun perjalanan pembangunan daerah.Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyampaikan bahwa seluruh prosesi adat yang digelar merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan kepada Kabupaten Wonosobo hingga memasuki usia ke-201 tahun."Pada hari yang penuh makna ini, kita patut bersyukur karena Wonosobo masih dianugerahi kekuatan untuk menjaga tradisi luhur sekaligus menatap masa depan dengan penuh harapan. Kita bersyukur atas kerukunan yang terus terpelihara, bersyukur atas tanah yang subur yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, serta bersyukur atas doa-doa yang senantiasa dipanjatkan demi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Wonosobo," ungkapnya.Menurut Afif, mulai dari Bedhol Kedhaton, Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga hingga Birat Sengkala, seluruh rangkaian tersebut merupakan ikhtiar bersama dalam memohon perlindungan dan keberkahan bagi daerah."Melalui rangkaian prosesi adat dan spiritual tersebut, kita bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa demi keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Kabupaten Wonosobo," ujarnya.Ia menjelaskan bahwa penyatuan Air Suci yang berasal dari empat penjuru mata angin melambangkan kesucian niat masyarakat dalam membangun daerah, sedangkan Bantolo dari Desa Plobangan menjadi simbol ketenteraman, kedamaian, sekaligus kecintaan terhadap tanah kelahiran."Simbol-simbol tersebut mengandung makna mendalam tentang hubungan yang harmonis antara langit dan bumi, antara cita-cita luhur dengan kecintaan terhadap tanah air tempat kita dilahirkan," katanya.Dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan Dwi Pusaka Praja, yakni Tombak Karawelang dan Songsong Pangayoman, kepada Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).Kedua pusaka tersebut menjadi simbol pemerintahan yang menjunjung tinggi keadilan, kebenaran, serta perlindungan bagi seluruh masyarakat.Bupati menegaskan bahwa tema Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", menjadi ruh dari seluruh rangkaian prosesi budaya tahun ini."Nyawiji berarti bersatu, Makarti berarti bekerja dan berkarya dengan sungguh-sungguh, sedangkan Loh Jinawi menggambarkan harapan akan masyarakat yang aman, tenteram, makmur, dan sejahtera. Tradisi dan doa yang kita laksanakan malam ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi menjadi kekuatan moral dalam membangun Wonosobo hari ini dan masa depan," jelasnya.Atas nama Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Afif juga menyampaikan apresiasi kepada FKUB dan MLKI yang telah memimpin Hastungkara Ujubing Umbul Donga serta Birat Sengkala sebagai bagian dari ikhtiar spiritual agar Wonosobo senantiasa memperoleh keselamatan dan dijauhkan dari berbagai mara bahaya.Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistiyowati, menjelaskan bahwa Tapa Bisu merupakan tradisi tahunan yang menjadi simbol laku batin masyarakat dalam memanjatkan doa untuk daerah.Menurutnya, prosesi kirab hanya membawa Air Suci Tirto Perwitosari dan Bantolo dari Desa Plobangan menuju Pendopo Kabupaten.Setelah dilakukan penyatuan air suci yang disertai doa bersama lintas agama, rangkaian kemudian diteruskan menuju Paseban Timur untuk prosesi Birat Sengkala."Prosesi Tapa Bisu merupakan doa masyarakat dengan harapan Wonosobo senantiasa aman, tenteram, sejahtera, serta dijauhkan dari berbagai bencana. Pengambilan air suci juga menjadi bentuk doa bersama agar Wonosobo selalu memperoleh perlindungan," jelas Ratna.Ia menambahkan, secara filosofis Birat Sengkala bermakna membalikkan atau menyingkirkan segala bentuk kesulitan, bencana, maupun hambatan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat."Melalui prosesi ini masyarakat diajak memperkuat hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam, serta budaya yang diwariskan para leluhur. Seluruh rangkaian ini bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah harus selalu disertai doa, kebersamaan, dan pelestarian nilai-nilai budaya," pungkasnya.Melalui penyelenggaraan Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga, dan Birat Sengkala, Pemerintah Kabupaten Wonosobo kembali menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan fisik, tetapi juga dari kokohnya nilai spiritual, budaya, dan persatuan masyarakat.Semangat "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi" diharapkan terus menjadi landasan bersama dalam mewujudkan Wonosobo yang semakin harmonis, maju, berbudaya, dan sejahtera.***

...