Pencarian Global

Pengambilan Air Suci Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Pemkab Libatkan Lintas OPD Lestarikan Tradisi Budaya
Berita
Dimas D. Pradikta 17 Jul 2026
20

Pengambilan Air Suci Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Pemkab Libatkan Lintas OPD Lestarikan Tradisi Budaya

WONOSOBO – Pemerintah Kabupaten Wonosobo melaksanakan prosesi pengambilan air suci di enam mata air bersejarah pada Kamis 16 Juli 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201.Kegiatan yang sarat akan nilai budaya, spiritual, dan penghormatan terhadap alam tersebut melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), serta unsur masyarakat. Adapun pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo.Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Disparbud Kabupaten Wonosobo, Sri Fatonah W. Ismangil, menyampaikan bahwa prosesi pengambilan air suci merupakan salah satu tradisi penting dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang tidak hanya memiliki makna seremonial, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan serta pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur."Tradisi pengambilan air suci menjadi pengingat bahwa masyarakat Wonosobo memiliki hubungan yang erat dengan alam dan budaya. Nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta rasa syukur atas anugerah sumber daya alam perlu terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman," ujar Sri Fatonah.Untuk menjangkau seluruh lokasi pengambilan air suci secara efektif, Pemerintah Kabupaten Wonosobo membagi rombongan menjadi tiga tim yang bergerak secara bersamaan menuju enam sumber mata air yang telah ditetapkan sebagai bagian dari prosesi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.Salah satu rombongan, Tim 2, dipimpin oleh Inspektur Daerah Kabupaten Wonosobo, Supriyadi, dengan koordinasi lapangan oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disparbud Kabupaten Wonosobo. Tim tersebut melibatkan unsur lintas OPD, panitia Hari Jadi Kabupaten Wonosobo, perwakilan MLKI, serta pemerintah desa dan kelurahan di lokasi kegiatan.Dalam pelaksanaannya, Tim 2 melaksanakan prosesi pengambilan air suci di Tuk Kaliasem, Desa Gondang, Tuk Tempurung, Kelurahan Jaraksari, dan Tuk Mudal.Di setiap lokasi, rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Nyuwun Palilah, dilanjutkan doa bersama, kemudian pengambilan air suci oleh MLKI didampingi pemerintah desa maupun kelurahan setempat sebagai simbol persatuan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.Sementara itu, Tim 1 dan Tim 3 secara bersamaan melaksanakan prosesi serupa di sumber mata air lainnya, yakni di Tuk Bima Lukar dan Tuk Gua Sumur yang berada di Kawasan Dieng serta Tuk Surodilogo di Desa Pagerejo. Seluruh air suci yang diperoleh dari enam mata air tersebut kemudian dihimpun sebagai bagian dari rangkaian prosesi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201.Sri Fatonah menambahkan, kolaborasi lintas OPD dan berbagai elemen masyarakat dalam prosesi ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam menjaga keberlangsungan tradisi daerah sebagai bagian dari identitas budaya."Melalui rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 ini, kami berharap masyarakat semakin bangga terhadap budaya daerahnya. Tradisi seperti pengambilan air suci harus terus dijaga karena merupakan kekayaan budaya yang memiliki makna filosofis mendalam dan menjadi bagian penting dari jati diri Kabupaten Wonosobo," pungkasnya.Sebagai tambahan informasi, pengambilan mata air yang berlokasi di Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto akan berlangsung pada Kamis 23 Juli 2026, di mulai pukul 07.30 wib.***

Ribuan Peserta Semarakkan Funwalk #2 Hari Jadi Wonosobo, Wisata Kebun Teh Bedakah jadi Magnet Baru Sport Tourism
Berita
Dimas D. Pradikta 13 Jul 2026
12

Ribuan Peserta Semarakkan Funwalk #2 Hari Jadi Wonosobo, Wisata Kebun Teh Bedakah jadi Magnet Baru Sport Tourism

Wonosobo – Hamparan hijau Kebun Teh Bedakah, Kecamatan Kertek, dipenuhi ribuan peserta yang mengikuti Funwalk #2 dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201, Minggu 12 Juli 2026. Kegiatan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama Suara Merdeka tersebut menjadi perpaduan antara olahraga, rekreasi, dan promosi destinasi wisata.Sejak pagi, peserta dari berbagai wilayah di Wonosobo maupun luar daerah telah memadati lokasi. Setelah mengikuti senam bersama, mereka menempuh rute sekitar empat kilometer yang melintasi kawasan Kebun Teh Tambi. Udara sejuk pegunungan dan panorama kebun teh menjadi daya tarik tersendiri yang membuat perjalanan terasa menyenangkan.Direktur Bisnis Suara Merdeka, Tulung, mengapresiasi sinergi yang terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam menghadirkan kegiatan yang mampu mengangkat potensi wisata daerah."Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya diajak membiasakan pola hidup sehat, tetapi juga menikmati sekaligus mengenal potensi wisata yang dimiliki Wonosobo. Kami berharap kegiatan ini menjadi sarana promosi yang mampu menarik lebih banyak wisatawan serta mendorong pengembangan wilayah secara berkelanjutan," ujarnya.Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Wonosobo, Riyatno, menyampaikan bahwa tingginya antusiasme peserta menjadi bukti semakin berkembangnya minat masyarakat terhadap aktivitas olahraga yang dipadukan dengan wisata alam."Ketika olahraga dipadukan dengan potensi wisata seperti Kebun Teh Bedakah, hasilnya bukan hanya menyehatkan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan sektor pariwisata dan perekonomian lokal," ungkapnya.Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menilai penyelenggaraan Funwalk menjadi salah satu strategi memperkuat daya tarik wisata melalui penyelenggaraan event yang berkualitas."Kami ingin menghadirkan lebih banyak kegiatan yang membuat wisatawan datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi ke Wonosobo. Event seperti Funwalk tidak hanya mengenalkan keindahan alam Kebun Teh Bedakah, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha wisata, UMKM, hingga ekonomi kreatif di sekitar lokasi. Harapannya, kalender event seperti ini mampu menjaga kunjungan wisata tetap stabil sepanjang tahun," tutur Fahmi.Ia menambahkan, Disparbud Wonosobo terus mendorong pengembangan konsep sport tourism sebagai bagian dari upaya memperluas promosi destinasi wisata unggulan Kabupaten Wonosobo. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, penyelenggaraan event diharapkan semakin beragam dan mampu menjangkau lebih banyak wisatawan.Usai seluruh peserta menyelesaikan rute, kemeriahan berlanjut dengan pengundian berbagai doorprize yang disambut antusias. Acara kemudian ditutup dengan hiburan yang menambah semarak perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam memajukan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event yang kreatif, sehat, dan berkelanjutan.***

Sindoro Sumbing Triathlon, Duathlon, dan Aquathlon #7 Perkuat Sport Tourism Wonosobo, Disparbud Apresiasi Dampak bagi Pariwisata Daerah
Berita
Dimas D. Pradikta 13 Jul 2026
26

Sindoro Sumbing Triathlon, Duathlon, dan Aquathlon #7 Perkuat Sport Tourism Wonosobo, Disparbud Apresiasi Dampak bagi Pariwisata Daerah

WONOSOBO – Kejuaraan Sindoro Sumbing Triathlon, Duathlon, dan Aquathlon #7 sukses digelar di kawasan Telaga Bedakah, Desa Tlogomulyo, Kecamatan Kertek, Sabtu 11 Juli 2026. Event yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo ini diikuti ratusan atlet dari berbagai daerah di Indonesia, serta peserta mancanegara dari Belgia dan Singapura.Mengusung konsep sport tourism, kejuaraan tahunan tersebut kembali memadukan olahraga ketahanan dengan keindahan panorama alam Wonosobo. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini sekaligus menjadi sarana promosi destinasi wisata, mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, serta memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, saat membuka kejuaraan menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyelenggara dan peserta yang telah mendukung terselenggaranya event secara konsisten hingga memasuki tahun ketujuh.Menurutnya, perkembangan jumlah peserta dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa olahraga triathlon beserta cabangnya semakin dikenal dan diminati masyarakat. Penambahan nomor aquathlon juga menjadi langkah positif untuk memperluas kesempatan bagi atlet pemula sekaligus memperkenalkan cabang olahraga endurance kepada masyarakat yang lebih luas."Sport tourism merupakan salah satu strategi promosi daerah yang mampu menggabungkan olahraga, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami berharap peserta tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga menikmati keindahan alam dan keramahan masyarakat Wonosobo," ujar Bupati.Kejuaraan tahun ini mempertandingkan tiga kategori, yakni Triathlon (renang, sepeda, lari), Duathlon (sepeda dan lari), serta Aquathlon (renang dan lari). Perlombaan dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan tantangan suhu air Telaga Bedakah yang mencapai kisaran 10–12 derajat Celsius, memberikan pengalaman tersendiri bagi para peserta.Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ketujuh ini menyediakan total hadiah sebesar Rp120 juta. Menurutnya, karakteristik Telaga Bedakah yang berada di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, dengan udara sejuk, kontur berbukit, dan panorama perkebunan teh, menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain.Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Wonosobo terus mendorong pengembangan sport tourism ke berbagai kawasan potensial lainnya, sehingga manfaat ekonomi dari penyelenggaraan event dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, turut mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan Sindoro Sumbing Triathlon, Duathlon, dan Aquathlon yang secara konsisten menjadi salah satu agenda unggulan dalam kalender event Kabupaten Wonosobo."Event seperti Sindoro Sumbing Triathlon tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga berkualitas, tetapi juga menjadi media promosi destinasi yang sangat efektif. Kehadiran atlet, ofisial, keluarga peserta, maupun wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata, mulai dari tingkat hunian akomodasi, kunjungan ke destinasi wisata, kuliner, hingga produk ekonomi kreatif masyarakat," ungkap Fahmi.Ia menambahkan bahwa Disparbud Wonosobo terus mendorong penyelenggaraan berbagai event berbasis olahraga, budaya, maupun ekonomi kreatif sebagai strategi meningkatkan kunjungan wisatawan sepanjang tahun."Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan event ini. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berkembang dan mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung serta wisatawan untuk berlibur di Wonosobo. Semakin banyak event berkualitas yang diselenggarakan, maka semakin besar pula dampaknya terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat," tambahnya.***

Tradisi Rakanan Giyanti Perkuat Identitas Budaya Wonosobo, Disparbud Dorong Pelestarian sebagai Daya Tarik Wisata Budaya
Berita
Dimas D. Pradikta 11 Jul 2026
14

Tradisi Rakanan Giyanti Perkuat Identitas Budaya Wonosobo, Disparbud Dorong Pelestarian sebagai Daya Tarik Wisata Budaya

WONOSOBO – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo mengapresiasi konsistensi masyarakat Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, dalam melestarikan Tradisi Rakanan sebagai salah satu warisan budaya yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.Puncak tradisi yang digelar melalui prosesi Tenongan, Jumat 10 Juli 2026, kembali menjadi magnet wisata budaya dengan melibatkan ratusan warga dan menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan.Sebanyak kurang lebih 300 tenong berisi nasi rames, jajanan pasar, buah-buahan, dan aneka makanan tradisional diarak oleh warga yang mengenakan busana adat menuju Sanggar Budaya Giyanti. Seluruh isi tenong kemudian dibagikan secara gratis kepada para pengunjung sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas limpahan kesehatan, rezeki, dan keberkahan yang diterima selama setahun.Kepala Dusun Giyanti, Subartan, menjelaskan bahwa Tradisi Rakanan tahun ini telah dimulai sejak 5 Juli 2026 melalui rangkaian kirab budaya, bersih dusun, pementasan seni tradisional Kuda Kepang dan Lengger, hingga mencapai puncaknya pada prosesi Tenongan."Tenongan merupakan prosesi paling sakral dalam Tradisi Rakanan. Seluruh kepala keluarga membawa satu tenong yang berisi makanan untuk dibagikan kepada siapa saja yang datang. Ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus sedekah masyarakat kepada para tamu," ungkapnya.Ia menambahkan, Dusun Giyanti yang memiliki sekitar 315 kepala keluarga setiap tahunnya menyiapkan sedikitnya 300 tenong sebagai bagian dari tradisi turun-temurun yang telah menjadi identitas masyarakat setempat.Dalam sambutan Bupati Wonosobo yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, disampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Giyanti yang terus menjaga dan melestarikan tradisi leluhur.Menurutnya, Tradisi Rakanan tidak hanya memiliki nilai spiritual dan sosial, tetapi juga menjadi kekayaan budaya yang mampu memperkuat citra Kabupaten Wonosobo sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal."Tradisi seperti Rakanan merupakan aset budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis budaya. Pelestarian budaya tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui sektor pariwisata," demikian pesan Bupati.Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistyawati, mengatakan bahwa Tradisi Rakanan merupakan salah satu bentuk warisan budaya tak benda yang mencerminkan nilai gotong royong, sedekah, kebersamaan, serta penghormatan masyarakat terhadap tradisi leluhur."Tradisi Rakanan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi ruang pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.Ratna menambahkan, Disparbud Kabupaten Wonosobo terus berkomitmen melakukan pembinaan, pendampingan, serta promosi terhadap berbagai tradisi budaya yang masih lestari di masyarakat sebagai bagian dari upaya pelindungan dan pemanfaatan budaya untuk mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan."Kami berharap Tradisi Rakanan semakin dikenal luas dan mampu menjadi salah satu kalender event budaya unggulan Kabupaten Wonosobo. Dengan tetap menjaga nilai-nilai autentik yang diwariskan para leluhur, tradisi ini memiliki peluang besar menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat," tambahnya.Pelaksanaan Tradisi Rakanan tahun ini juga menghadirkan sejumlah inovasi. Selain mempertahankan prosesi Tenongan, panitia menyelenggarakan Wisuda Lengger yang diikuti 13 peserta, pementasan Tari Kobol-kobol sebagai simbol rasa syukur, serta pertunjukan wayang kulit yang untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.Salah seorang warga, Yanti, mengaku pelaksanaan Rakanan tahun ini terasa lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya karena adanya penambahan pertunjukan wayang kulit dan persiapan yang semakin matang.Sementara itu, salah seorang pengunjung, Inem, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan langsung prosesi Tenongan dan merasakan suasana kebersamaan masyarakat Giyanti."Saya dapat jajan, pisang, sama nasi. Ikut ramai-ramai, semoga tambah berkah," tuturnya.Melalui penyelenggaraan Tradisi Rakanan, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap budaya lokal terus lestari, semakin dicintai oleh generasi muda, serta mampu menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat.Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, pegiat budaya, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan diharapkan terus terjalin untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Wonosobo.***

Disparbud Wonosobo dan RedDoorz Percepat Implementasi Kerja Sama Pengembangan Pariwisata
Berita
admin 10 Jul 2026
19

Disparbud Wonosobo dan RedDoorz Percepat Implementasi Kerja Sama Pengembangan Pariwisata

WONOSOBO - Kamis 9 Juli 2026, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo menerima kunjungan perwakilan RedDoorz Indonesia dalam rangka koordinasi dan pembahasan tindak lanjut implementasi Nota Kesepahaman (MoU) serta Perjanjian Kerja Sama yang telah terjalin antara kedua belah pihak.Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan mitra industri dalam mendukung pengembangan pariwisata Kabupaten Wonosobo.Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas percepatan pelaksanaan sejumlah program kerja sama yang telah disepakati. Fokus utama diarahkan pada kolaborasi penyelenggaraan berbagai event pariwisata, promosi destinasi, serta pengembangan paket wisata yang terintegrasi dengan jaringan akomodasi RedDoorz. Selain itu, disepakati pula rencana pelaksanaan pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bagi pelaku usaha pariwisata dan pengelola akomodasi guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menekankan pentingnya percepatan implementasi kerja sama agar dampaknya dapat segera dirasakan oleh pelaku usaha maupun masyarakat. Menurutnya, kolaborasi dengan RedDoorz diharapkan mampu menciptakan kalender kegiatan yang lebih merata sepanjang tahun sehingga mampu menjaga stabilitas kunjungan wisatawan."Harapan kami tidak ada lagi low season di Wonosobo. Kunjungan wisatawan harus terus terjaga sepanjang tahun, tidak hanya ramai pada periode tertentu. Kami ingin suasana pariwisata tetap bergairah seperti pada bulan Januari hingga Juni, kemudian kembali meningkat pada September hingga Desember. Dengan kolaborasi promosi, event, dan peningkatan kualitas layanan bersama RedDoorz, kami optimistis target tersebut dapat diwujudkan," ujar Fahmi.Melalui koordinasi ini, Disparbud Kabupaten Wonosobo bersama RedDoorz Indonesia berkomitmen mempercepat realisasi program-program kerja sama yang telah disepakati. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing destinasi, meningkatkan okupansi akomodasi, memperluas promosi wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan.***

Disparbud Wonosobo Terima Kunjungan Pengelola Desa Wisata Slukatan, Dorong Penguatan Tata Kelola dan Pelestarian Potensi Budaya
Berita
Dimas D. Pradikta 09 Jul 2026
34

Disparbud Wonosobo Terima Kunjungan Pengelola Desa Wisata Slukatan, Dorong Penguatan Tata Kelola dan Pelestarian Potensi Budaya

Wonosobo - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo menerima kunjungan dari Pengelola Desa Wisata Slukatan, Kecamatan Mojotengah, pada Kamis 9 Juli 2026, dalam rangka pembinaan dan koordinasi pengembangan desa wisata.Pertemuan tersebut membahas berbagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola Desa Wisata Slukatan, salah satunya melalui pendampingan dalam proses pembuatan akun pada platform Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kementerian Pariwisata. Keberadaan akun Jadesta diharapkan menjadi sarana promosi sekaligus meningkatkan eksistensi Desa Wisata Slukatan di tingkat nasional.Selain itu, Disparbud Kabupaten Wonosobo juga mendorong Pengelola Desa Wisata Slukatan untuk mengikuti Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026 pada kategori Desa Wisata.Keikutsertaan dalam ajang tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi pengelola untuk terus meningkatkan kualitas destinasi, pelayanan, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata.Dalam kesempatan tersebut, Pengelola Desa Wisata Slukatan turut berkoordinasi terkait pengembangan paket-paket wisata yang telah berjalan maupun yang sedang dipersiapkan. Penguatan paket wisata menjadi salah satu strategi untuk memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.Salah satu potensi budaya yang menjadi perhatian adalah Golek Tholo, tradisi khas Desa Wisata Slukatan yang dinilai memiliki nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang kuat.Disparbud Wonosobo mendorong agar potensi tersebut dipersiapkan sebagai usulan Warisan Budaya Takbenda (WBTb), sekaligus didorong untuk memperoleh perlindungan melalui pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan fasilitasi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.Pengelola Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, menyampaikan apresiasinya atas pendampingan yang diberikan Disparbud Kabupaten Wonosobo. Menurutnya, pembinaan ini memberikan arah yang lebih jelas dalam pengembangan desa wisata."Kami sangat berterima kasih atas pendampingan dari Disparbud Wonosobo. Melalui koordinasi ini kami mendapatkan banyak masukan, mulai dari pengelolaan Jadesta, persiapan mengikuti Wonderful Indonesia Award 2026, hingga pengembangan paket wisata dan pelestarian budaya lokal. Harapannya Desa Wisata Slukatan dapat berkembang lebih baik dan semakin dikenal oleh masyarakat luas," ujar Ahmad Hafid.Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama Disparbud Kabupaten Wonosobo, Dimas D. Pradikta, menjelaskan bahwa pendampingan terhadap desa wisata merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi berbasis masyarakat."Kami mendorong setiap desa wisata di Kabupaten Wonosobo untuk memanfaatkan berbagai program yang difasilitasi pemerintah, mulai dari optimalisasi platform Jadesta, keikutsertaan dalam ajang Wonderful Indonesia Award, hingga perlindungan terhadap potensi budaya melalui pengusulan WBTb dan HKI. Dengan tata kelola yang baik serta inovasi yang berkelanjutan, desa wisata akan semakin berdaya saing dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," jelas Dimas.Melalui pembinaan dan koordinasi yang berkelanjutan, Disparbud Kabupaten Wonosobo berharap Desa Wisata Slukatan semakin berkembang sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan masyarakat.Berbagai potensi lokal yang dimiliki diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga memperoleh perlindungan dan pengakuan sehingga tetap lestari serta memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.***

Java Balloon Attraction 2026, Perpaduan Tradisi, Wisata, dan Kebanggaan Wonosobo
Berita
Dimas D. Pradikta 06 Jul 2026
45

Java Balloon Attraction 2026, Perpaduan Tradisi, Wisata, dan Kebanggaan Wonosobo

Wonosobo - Suasana pagi di Taman Rekreasi Kalianget, Wonosobo, dipenuhi antusiasme ribuan pengunjung yang menyaksikan puluhan balon udara tradisional menghiasi langit dalam gelaran Java Balloon Attraction 2026, Minggu 5 Juli 2026.Sebanyak 40 balon udara tampil memukau, menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo sekaligus mempertegas identitas daerah sebagai rumah tradisi balon udara yang telah mendunia.Mengusung tema "The Sky of Heritage", penyelenggaraan Java Balloon Attraction tahun ini tidak sekadar menghadirkan atraksi visual yang memanjakan mata. Festival ini menjadi ruang untuk merayakan warisan budaya, memperkuat kebersamaan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Wonosobo.Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Wonosobo, M. Kristijadi, saat membacakan sambutan Bupati Wonosobo menyampaikan bahwa Java Balloon Attraction merupakan bukti nyata bagaimana tradisi lokal mampu berkembang menjadi kekuatan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat."Java Balloon Attraction menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan yang mampu menggerakkan pariwisata, ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat jati diri daerah," ungkapnya.Pemerintah Kabupaten Wonosobo, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mengembangkan pariwisata berbasis budaya melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, media, hingga masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Penyelenggaraan tahun ini memiliki makna yang semakin istimewa. Setelah Java Balloon Attraction memperoleh Hak Kekayaan Intelektual Komunal pada 2025, tahun ini Balon Tradisional Wonosobo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2026 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia."Pengakuan ini adalah kebanggaan sekaligus amanah. Tugas kita adalah memastikan tradisi ini terus lestari, berkembang, dan diwariskan tanpa kehilangan nilai dan karakter aslinya," lanjutnya.Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fatonah Ismangil, menjelaskan bahwa tingginya minat masyarakat terhadap Java Balloon Attraction terlihat sejak proses pendaftaran peserta. Sebanyak 116 komunitas balon udara mendaftarkan diri, kemudian melalui proses kurasi dipilih 36 balon utama yang membentuk berbagai formasi artistik di udara, termasuk visual ikonik Gunung Sindoro dan Telaga Menjer. Bersama balon partisipan lainnya, total terdapat 40 balon udara yang diterbangkan secara tertambat pada festival tahun ini.Ia juga menegaskan bahwa seluruh balon diterbangkan sesuai ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018, sehingga aspek keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan kegiatan.Selain menikmati keindahan balon udara, pengunjung juga disuguhi berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari Tari Lengger, hiburan musik, hingga lomba kreativitas suporter antar komunitas balon. Ragam atraksi tersebut menjadikan Java Balloon Attraction sebagai festival budaya yang menawarkan pengalaman lengkap bagi wisatawan.Daya tarik festival ini bahkan berhasil memikat wisatawan mancanegara. Fuzi, wisatawan asal Jepang, mengaku baru pertama kali menyaksikan tradisi balon udara seperti yang ada di Wonosobo."Saya belum pernah melihat tradisi seperti ini sebelumnya. Desain balonnya juga sangat indah. Ini luar biasa," ujarnya.Kesan serupa disampaikan Kristiani Rosana, wisatawan asal Semarang yang datang bersama keluarganya. Menurutnya, festival ini bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi upaya nyata dalam menjaga warisan budaya."Ini pertama kalinya saya melihat langsung. Sangat bagus karena bisa melestarikan budaya. Semoga sering diadakan seperti ini," katanya.Melalui Java Balloon Attraction 2026, Wonosobo kembali menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.Dengan status Balon Tradisional Wonosobo sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, festival ini diharapkan semakin memperkuat posisi Wonosobo sebagai daerah yang berhasil menjaga tradisi sekaligus mengembangkannya menjadi kebanggaan nasional dan penggerak ekonomi masyarakat.***

‎Tiga Objek Budaya Wonosobo Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2026
Berita
admin 05 Jul 2026
0

‎Tiga Objek Budaya Wonosobo Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2026

WONOSOBO – Kabar membanggakan kembali datang bagi Kabupaten Wonosobo. Tiga Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Wonosobo berhasil lolos dan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2026.‎‎Ketiga karya budaya tersebut adalah Bucu Pendem Wadaslintang, Balon Tradisional Wonosobo, dan Topeng Wonosaban. Penetapan dilakukan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang berlangsung pada Jumat, 3 Juli 2026, setelah sebelumnya melalui proses kajian bersama usulan dari berbagai kabupaten dan kota di seluruh Indonesia pada Kamis, 2 Juli 2026.‎‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut.‎‎"Alhamdulillah, tiga Objek Pemajuan Kebudayaan yang diusulkan Kabupaten Wonosobo seluruhnya dinyatakan lolos dan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2026. Ini merupakan kebanggaan sekaligus amanah bagi kita semua untuk terus menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang," ungkap Fahmi, Jumat 3 Juli 2026 sore.‎‎Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, para pelaku budaya, akademisi, komunitas budaya, serta masyarakat yang selama ini terus menjaga eksistensi tradisi dan kearifan lokal Wonosobo.‎‎Dengan penetapan tiga karya budaya tersebut, hingga tahun 2026 Kabupaten Wonosobo telah memiliki 12 Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, yaitu:‎‎1. Ruwatan Rambut Gimbal (2016)‎2. Hak-hakan (2018)‎3. Tari Topeng Lengger (2020)‎4. Bundengan (2020)‎5. Wayang Othok Obrol (2021)‎6. Tempe Kemul Wonosobo (2022)‎7. Mie Ongklok (2025)‎8. Tradisi Ambeng Desa Tieng (2025)‎9. Wayang Kedu Gagrak Wonosaban (2025)‎10. Balon Tradisional Wonosobo (2026)‎11. Bucu Pendem Wadaslintang (2026)‎12. Topeng Wonosaban (2026)‎‎Penambahan tiga Warisan Budaya Takbenda ini semakin memperkuat posisi Kabupaten Wonosobo sebagai daerah yang kaya akan tradisi, seni, adat istiadat, serta pengetahuan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.‎‎Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berkomitmen untuk terus melakukan inventarisasi, pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan terhadap berbagai Objek Pemajuan Kebudayaan Daerah.‎‎Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.‎‎Keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus menggali, mendokumentasikan, dan mengusulkan berbagai kekayaan budaya lainnya agar memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sehingga nilai-nilai luhur budaya Wonosobo tetap lestari dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.***

Wonosobo Night Fashion Carnival 2026 Sukses Tampilkan Kreativitas, Budaya dan Kearifan Lokal
Informasi Berkala
admin 15 Jun 2026
112

Wonosobo Night Fashion Carnival 2026 Sukses Tampilkan Kreativitas, Budaya dan Kearifan Lokal

WONOSOBO - Euforia masyarakat dan semarak kreativitas para peserta menyatu dalam gelaran Wonosobo Night Fashion Carnival (WNFC) 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Wonosobo, Sabtu (13/6/2026) malam. Mengusung tema “Swarna Mahardhika Wanasaba”, event yang menjadi bagian dari Festival Muda Berbudaya 2026 sekaligus rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo ini kembali menghadirkan pertunjukan kostum karnaval yang memadukan unsur budaya, kreativitas, dan kearifan lokal. Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyampaikan bahwa Wonosobo Night Fashion Carnival telah berkembang menjadi salah satu event kreatif yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan serta menjadi atraksi wisata yang dinantikan setiap tahunnya. Menurutnya, Wonosobo tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena kreativitas masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang sebagai kekuatan penting dalam mendukung kemajuan daerah. “Melalui gelaran ini, kita menegaskan bahwa kreativitas masyarakat juga menjadi kekuatan penting yang dapat menggerakkan kemajuan dan daya saing daerah,” ungkap Bupati. Ia menambahkan, WNFC tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi para pelaku seni dan ekonomi kreatif, tetapi juga mampu memperkuat daya tarik pariwisata daerah. Terlebih pada momentum Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap daerah tercermin melalui karya-karya yang ditampilkan para peserta. Bupati menilai tema “Swarna Mahardhika Wanasaba”selaras dengan semangat pembangunan Wonosobo. Menurutnya, kekayaan potensi, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki daerah harus mampu dirajut menjadi harmoni yang menghadirkan kemakmuran, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat. Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para desainer yang telah mencurahkan ide, kreativitas, dan kerja kerasnya dalam menghasilkan kostum-kostum yang unik, menarik, dan berkualitas. Ia menegaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan bukan sekadar busana pertunjukan, melainkan media untuk menyampaikan cerita, identitas, dan kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat. Apresiasi serupa diberikan kepada seluruh peserta, baik dari Kabupaten Wonosobo maupun dari berbagai daerah lainnya, yang telah menunjukkan semangat kreativitas dan kolaborasi dalam satu panggung yang inspiratif dan membanggakan. Bupati berharap, kualitas penyelenggaraan WNFC dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun sehingga mampu menarik lebih banyak partisipasi dari berbagai daerah dan berkembang menjadi event kreatif yang diperhitungkan di tingkat nasional bahkan internasional. Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, M. Kristijadi, dalam laporannya menyampaikan bahwa WNFC 2026 menjadi semakin istimewa karena dikolaborasikan dengan sejumlah kegiatan dalam Festival Muda Berbudaya 2026. Menurut Kristijadi, kolaborasi berbagai event yang digelar pada 12–13 Juni 2026 di kawasan Alun-Alun Wonosobo ini tidak hanya bertujuan memeriahkan hari jadi daerah, tetapi juga menjadi upaya strategis untuk mempromosikan potensi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif Wonosobo kepada masyarakat yang lebih luas. “Event ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisata, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya. WNFC 2026 diikuti oleh 82 peserta yang terdiri dari 53 peserta WNFC dan 29 delegasi dari luar daerah. Dengan adanya kostum pendamping yang turut tampil bersama masing-masing peserta, jumlah performer yang terlibat mencapai lebih dari 120 orang. Peserta juga berasal dari berbagai daerah, antara lain Surakarta, Kota Semarang, Grobogan, Kebumen, Banjarnegara, Salatiga, dan Jember. Sementara peserta lokal berasal dari berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, BUMD, RSUD, seniman, budayawan, institusi pendidikan, pelaku wisata, pelaku ekonomi kreatif, perancang busana, salon, perhotelan, hingga peserta perorangan. Parade WNFC 2026 menempuh rute dari halaman Sekretariat DPRD Kabupaten Wonosobo melalui Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Kranggan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kartini, Jalan Pemuda, Jalan Merdeka, menuju venue utama di Alun-Alun Wonosobo dan berakhir di halaman Pendopo Kabupaten Wonosobo. Pada kesempatan tersebut juga ditampilkan tiga kostum ikon WNFC 2026 hasil karya komunitas perancang busana Wonosobo, Wonosobo Extravaganza Costume Association (WECA), yang merupakan hasil pelatihan pembuatan kostum karnaval yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. Malam puncak Wonosobo Night Fashion Carnival 2026 ditutup dengan pengumuman para pemenang dari tiga defile yang diperlombakan.Defile Swarna Puspa, Juara Favorit diraih Nomor 9 dariHotel Dafam Wonosobo, Juara III Nomor 12 dari Taman Syailendra, Juara II Nomor 01 dari Wahyu Sugiarto dan Juara I Nomor 08 dari Bank Wonosobo.Defile Kidung Wanasaba, juara Favorit dari BPKAD Kabupaten Wonosobo, juara III diraih Muhammad Setiawan Eka, juara II diraih Rozi Syarif, dan juara I dimenangkan oleh Mirza Ramadhan.Sementara itu, untuk Defile Mahardhika Paksi Nusantara, juara Favorit diraih Dekranasda Kabupaten Wonosobo, juara III Jeremias Fernando, juara II oleh Jay’Art dan juara Idimenangkan oleh RSUD Kabupaten Wonosobo. Kesuksesan penyelenggaraan WNFC 2026 tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, jajaran Forkopimda, perangkat daerah, organisasi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif, para sponsor dan donatur, serta seluruh panitia dan petugas yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Melalui semangat Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo yang mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, Wonosobo Night Fashion Carnival diharapkan terus menjadi etalase kreativitas daerah yang mampu memperkuat posisi Wonosobo sebagai destinasi pariwisata dan pusat pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

...