Pencarian Global

Berita & Informasi

Postingan Terbaru Dari Kami

Terhubung dengan setiap perkembangan pembangunan dan kegiatan kemasyarakatan di Kabupaten Wonosobo.

Lihat Semua Berita
Marrystone Culture Carnival, Ketika Kreativitas Warga Menjadi Wajah Budaya dan Pariwisata Desa Selokromo
Berita
Dimas D. Pradikta 24 Aug 2026
6

Marrystone Culture Carnival, Ketika Kreativitas Warga Menjadi Wajah Budaya dan Pariwisata Desa Selokromo

WONOSOBO – Perayaan kemerdekaan di Desa Selokromo, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, berlangsung dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar upacara atau kegiatan seremonial, semangat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diwujudkan melalui kreativitas warga dalam Marrystone Culture Carnival (MCC) ke-8, Minggu 23 Agustus 2026.Sejak pagi, suasana di sekitar Balai Desa Selokromo mulai dipadati warga dan peserta karnaval. Beragam kostum, ornamen, hingga kreasi bertema budaya Nusantara dipersiapkan untuk ditampilkan di hadapan masyarakat sebelum peserta bergerak menyusuri jalan-jalan desa.Balai desa menjadi titik awal sekaligus akhir perjalanan karnaval. Dari tempat tersebut, sembilan kelompok yang mewakili sembilan RW secara bergantian menampilkan kreativitas masing-masing sebelum berkeliling menyapa masyarakat di sepanjang jalur yang telah ditentukan.Kehadiran Marrystone Culture Carnival bukan semata-mata untuk menghadirkan tontonan dalam momentum peringatan kemerdekaan. Di balik kemeriahan tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan masyarakat, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Gotong royong, kreativitas, dan kebersamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut.Kegiatan yang mengusung tema “Budaya Nusantara” itu turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Dinas Komunikasi dan Informatika, Camat Leksono, serta sejumlah tokoh masyarakat.Kepala Desa Selokromo, Wahyu, mengatakan antusiasme masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama terselenggaranya Marrystone Culture Carnival dari tahun ke tahun.Menurutnya, keterlibatan sembilan RW dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi bagian utama dalam menciptakan kemeriahan sekaligus menjaga kebersamaan di lingkungan desa.“Marrystone Culture Carnival ini bukan hanya kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan seluruh warga Desa Selokromo,” ujar Wahyu.Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti ketika rangkaian perayaan kemerdekaan berakhir. Menurutnya, budaya gotong royong yang tumbuh melalui kegiatan bersama perlu terus dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.“Kami sangat mengapresiasi seluruh warga yang telah berpartisipasi dan bergotong royong. Mudah-mudahan semangat kebersamaan seperti ini terus terjaga, bukan hanya saat peringatan kemerdekaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.Bagi Wahyu, kemerdekaan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengenang sejarah. Kemerdekaan dapat diwujudkan melalui karya, kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan sosial, serta kemampuan masyarakat untuk menjaga persatuan.Dari perspektif kebudayaan, kegiatan seperti Marrystone Culture Carnival menjadi salah satu contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berlangsung secara alami di tengah masyarakat.Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Edi Santoso, menyampaikan bahwa kreativitas yang muncul dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah yang perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.Pesan tersebut disampaikan Edi saat membacakan sambutan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.“Seni dan budaya merupakan bagian penting dari identitas daerah yang harus terus kita jaga dan lestarikan. Kegiatan seperti Marrystone Culture Carnival menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya yang dimiliki,” demikian pesan yang disampaikan Edi Santoso.Menurutnya, upaya menjaga kebudayaan tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Keberlangsungannya sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat, komunitas seni, generasi muda, serta berbagai unsur lainnya.Kegiatan budaya di tingkat desa, lanjutnya, justru memiliki posisi penting karena mempertemukan tradisi dengan kehidupan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang dipertontonkan, tetapi tetap menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat.Di sisi lain, Edi melihat adanya peluang untuk menghubungkan kekayaan budaya tersebut dengan pengembangan pariwisata.“Potensi pariwisata di Wonosobo sangat beragam dan tidak hanya berada pada destinasi yang sudah dikenal. Desa-desa memiliki potensi budaya, tradisi, kreativitas masyarakat, serta daya tarik lokal yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari kekuatan pariwisata daerah,” ucap Edi.Karena itu, masyarakat desa didorong untuk terus menjaga lingkungan, mempertahankan tradisi, mengembangkan kreativitas, sekaligus membangun cara-cara positif dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.Menurut Edi, Marrystone Culture Carnival memperlihatkan bahwa pengembangan kebudayaan dan pariwisata dapat berjalan beriringan ketika masyarakat diberikan ruang untuk berkreasi.“Marrystone Culture Carnival (MCC) ke-8 menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berlangsung di panggung-panggung besar. Desa dengan segala kreativitas masyarakatnya justru menjadi ruang paling hidup bagi tumbuhnya kebudayaan,” pungkasnya.Sepanjang rute karnaval, warga dari berbagai kelompok usia tumpah ke jalan untuk menyaksikan penampilan peserta. Anak-anak, pemuda, orang tua, hingga para tokoh masyarakat berbaur dalam suasana perayaan yang sama.Sembilan RW yang tampil dengan gagasan dan kreativitas masing-masing turut memperlihatkan keberagaman yang menjadi kekuatan masyarakat Desa Selokromo. Perbedaan konsep tidak menjadi pembatas, tetapi justru menghasilkan pertunjukan yang lebih beragam.Marrystone Culture Carnival juga menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Generasi muda dapat mengenal kembali berbagai bentuk budaya melalui keterlibatan langsung, sementara generasi yang lebih tua memiliki kesempatan untuk turut menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.Di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat dan semakin kuatnya pengaruh teknologi, ruang-ruang kebudayaan di tingkat desa menjadi semakin relevan. Kegiatan semacam ini dapat menjadi jembatan agar generasi muda tetap memiliki kedekatan dengan lingkungan sosial dan akar budayanya.Marrystone Culture Carnival yang telah memasuki penyelenggaraan ke-8 pun menunjukkan bahwa sebuah kegiatan masyarakat dapat berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai agenda peringatan kemerdekaan.Ia menjadi ruang ekspresi, sarana mempererat hubungan sosial, sekaligus etalase kecil yang memperlihatkan potensi budaya dan kreativitas masyarakat Desa Selokromo.Dari Selokromo, kemerdekaan dirayakan bukan hanya melalui kemeriahan karnaval. Semangat itu hadir dalam kerja bersama, tumbuh melalui kreativitas, dijaga lewat kebudayaan, dan perlahan dapat menjadi bagian dari kekuatan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Wonosobo.***

Disparbud Wonosobo Turut Meriahkan Karnaval Kemerdekaan, Angkat Potensi Pariwisata dan Budaya Lokal
Berita
Dimas D. Pradikta 19 Aug 2026
40

Disparbud Wonosobo Turut Meriahkan Karnaval Kemerdekaan, Angkat Potensi Pariwisata dan Budaya Lokal

WONOSOBO – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo turut ambil bagian dalam kemeriahan Karnaval Kemerdekaan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Selasa, 18 Agustus 2026.Mengusung semangat “Bergerak dengan Empati, Mengabdi dengan Sinergi, Lestari untuk Negeri”, karnaval yang diikuti sedikitnya 52 peserta dari berbagai unsur tersebut berlangsung meriah dengan menampilkan beragam kreativitas, seni budaya, kearifan lokal, potensi daerah, hingga pesan kepedulian terhadap lingkungan.Keikutsertaan Disparbud Wonosobo menjadi bagian dari upaya menghadirkan wajah pariwisata dan kebudayaan daerah dalam momentum peringatan kemerdekaan. Melalui kreativitas yang ditampilkan, Disparbud turut mengenalkan kekayaan budaya, karakter masyarakat, serta potensi pariwisata Wonosobo kepada masyarakat yang menyaksikan langsung sepanjang rute karnaval.Karnaval yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut menjadi ruang publik yang strategis untuk mempertemukan unsur pemerintah, komunitas, pelaku seni, dunia usaha, serta masyarakat. Kehadiran berbagai atraksi dan kendaraan hias semakin memperkuat suasana perayaan sekaligus menjadi media promosi potensi daerah.Selain menampilkan kreativitas dan potensi pariwisata serta kebudayaan, Disparbud Wonosobo juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan melalui pembagian sekitar 1.000 bibit tanaman kepada masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Bibit yang dibagikan terdiri dari bibit terong, cabai keriting, dan cabai rawit.Pembagian bibit tersebut menjadi salah satu bentuk nyata penerjemahan semangat “Lestari untuk Negeri” yang diusung dalam Karnaval Kemerdekaan. Tidak hanya menyampaikan pesan melalui atraksi dan kreativitas, Disparbud turut mengajak masyarakat mengambil bagian secara langsung dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan ruang di sekitar rumah untuk kegiatan produktif dan penghijauan.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa keterlibatan Disparbud dalam Karnaval Kemerdekaan merupakan bentuk partisipasi sekaligus upaya untuk terus menghadirkan pariwisata dan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.“Bagi kami, karnaval bukan hanya ruang untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan pariwisata dan kebudayaan Wonosobo. Ketika budaya, kreativitas, dan potensi daerah ditampilkan di ruang publik, secara tidak langsung kita juga sedang melakukan promosi dan membangun citra pariwisata Wonosobo,” ujar Fahmi.Menurutnya, pariwisata tidak dapat berkembang hanya melalui promosi pariwisata secara konvensional. Event daerah dengan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu sarana penting untuk menciptakan pengalaman dan daya tarik yang dapat mendorong orang untuk datang, melihat, mengenal, dan kemudian berkunjung ke berbagai destinasi di Wonosobo.“Pariwisata itu bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang budaya, kreativitas masyarakat, event, kuliner, ekonomi kreatif, keramahan, dan pengalaman yang diperoleh wisatawan. Karnaval seperti ini menjadi bagian dari ekosistem tersebut,” lanjutnya.Fahmi menambahkan, semangat “Lestari untuk Negeri” juga memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan kepariwisataan Wonosobo yang berkelanjutan. Menurutnya, lingkungan merupakan salah satu modal utama pariwisata Wonosobo, sehingga upaya menjaga kelestarian alam harus menjadi tanggung jawab bersama.“Wonosobo memiliki kekuatan pariwisata yang sangat erat dengan alam. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari menjaga masa depan pariwisata kita. Pembagian bibit ini sederhana, tetapi kami ingin mengajak masyarakat bahwa setiap orang bisa mengambil bagian untuk merawat lingkungan, dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar,” jelasnya.Ia berharap bibit yang dibagikan dapat dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat sehingga memberikan manfaat secara langsung. Selain mendukung penghijauan, tanaman cabai dan terong juga memiliki nilai produktif bagi kebutuhan rumah tangga masyarakat.“Harapannya, bibit ini tidak berhenti pada saat dibagikan. Bisa ditanam, dirawat, dan tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat. Semangat lestari harus kita bangun melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama,” tambah Fahmi.Menurut Fahmi, keberlanjutan lingkungan menjadi semakin penting dalam pengembangan destinasi wisata. Lingkungan yang bersih, hijau, sehat, dan terawat akan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar destinasi.Fahmi menambahkan, momentum kemerdekaan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun kepariwisataan Wonosobo.Pemerintah, masyarakat, pelaku seni dan budaya, komunitas, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, serta pelaku usaha pariwisata memiliki peran yang saling berkaitan dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang semakin kuat.“Semangatnya adalah sinergi. Pariwisata tidak mungkin dibangun oleh satu perangkat daerah saja. Ketika event daerah mampu menggerakkan masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, seni budaya, kuliner, hingga sektor transportasi dan akomodasi, maka dampaknya akan semakin luas terhadap perekonomian daerah,” jelasnya.Dalam konteks tersebut, kegiatan Karnaval Kemerdekaan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat promosi potensi daerah sekaligus membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya keberlanjutan.Dari sisi pariwisata, keberadaan event yang melibatkan masyarakat secara luas juga dapat menciptakan daya tarik tersendiri. Kreativitas, seni budaya, kuliner, ekonomi kreatif, hingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk karakter Wonosobo sebagai daerah tujuan wisata.Melalui keikutsertaan dalam Karnaval Kemerdekaan HUT ke-81 RI, Disparbud Wonosobo menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan seni, budaya, kreativitas, event daerah, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari strategi pengembangan dan promosi pariwisata.Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui kemeriahan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata. Bergerak dengan empati, mengabdi dengan sinergi, dan lestari untuk negeri, bersama memajukan pariwisata Wonosobo.***

‎Konser Hari Jadi ke-201 Wonosobo Dorong Pergerakan Wisata dan Ekonomi Lokal
Berita
Dimas D. Pradikta 10 Aug 2026
65

‎Konser Hari Jadi ke-201 Wonosobo Dorong Pergerakan Wisata dan Ekonomi Lokal

‎WONOSOBO – Ribuan masyarakat memadati Alun-Alun Wonosobo pada Sabtu 8 Agustus 2026 malam, dalam kemeriahan Konser Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.‎Konser Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo menghadirkan sejumlah penampil, mulai dari Forsa, Logista, New Prima, Harmonis Religius, Pemandu Lagu Selekta, hingga penampilan utama Ndarboy Genk, konser tersebut menjadi penutup rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo Tahun 2026.‎Mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, kegiatan tidak hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang publik sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat melalui aktivitas kunjungan dan belanja selama berlangsungnya event.‎Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan unsur terkait. Di hadapan masyarakat yang memenuhi kawasan Alun-Alun, Afif mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Hari Jadi sebagai sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan dalam membangun Wonosobo.‎“Luar biasa! Sambut hangat Ndarboy! Subhanallah, malam hari ini kebanggaan bagi kita dalam rangka puncak Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang ke-201,” ujar Afif.‎Menurutnya, semangat Nyawiji Makarti harus diterjemahkan dalam langkah nyata seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Wonosobo yang sejahtera, adil dan makmur.‎“Nyawiji Makarti, saatnya kita bersatu dalam satu langkah untuk memajukan Wonosobo. Saatnya kita berbuat sesuatu yang terbaik untuk Wonosobo yang sejahtera, adil, dan makmur. Tetap kudu bahagia!” tegasnya.‎Afif juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya rangkaian Hari Jadi, termasuk Djarum 76, Bank Wonosobo, serta para sponsor dan pihak lain yang turut berkontribusi menghadirkan hiburan bagi masyarakat.‎Event Menjadi Penggerak Kunjungan Wisata‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan kegiatan berskala besar seperti konser Hari Jadi memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menghadirkan hiburan.‎Event daerah dapat menjadi salah satu instrumen untuk menggerakkan kunjungan wisata sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi pariwisata.‎“Event seperti ini kami lihat bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak pariwisata. Ketika ada ribuan orang datang ke Wonosobo, maka yang bergerak bukan hanya lokasi penyelenggaraan acara, tetapi juga hotel, homestay, restoran, kuliner, transportasi, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata,” kata Fahmi.‎Menurut Fahmi, semakin lama wisatawan berada di Wonosobo, semakin besar pula peluang belanja wisatawan yang berputar di daerah. Karena itu, penyelenggaraan event perlu dikaitkan dengan upaya memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay).‎“Yang ingin kita dorong bukan sekadar wisatawan datang untuk menonton event kemudian pulang. Kami berharap event dapat menjadi pintu masuk agar wisatawan tinggal lebih lama, mengunjungi destinasi lain, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM dan menggunakan jasa pariwisata yang ada di Wonosobo,” jelasnya.‎Fahmi menambahkan, momentum event dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beragam potensi wisata Wonosobo kepada pengunjung dari luar daerah.‎Wisatawan yang datang untuk menghadiri konser, misalnya, dapat diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi alam, desa wisata, wisata budaya maupun sentra ekonomi kreatif.‎“Kalau satu wisatawan datang, kemudian menginap, makan di restoran atau warung lokal, menggunakan transportasi, berkunjung ke destinasi dan membeli oleh-oleh, maka terjadi rantai ekonomi yang manfaatnya dirasakan oleh banyak pelaku usaha. Inilah yang kami harapkan dari pengembangan event tourism di Wonosobo,” ujarnya.‎Mendorong Perputaran Ekonomi Masyarakat‎Kemeriahan konser Hari Jadi ke-201 juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menangkap peluang ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat. Kehadiran pengunjung dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan transaksi pada sektor perdagangan, kuliner, transportasi, akomodasi serta usaha kreatif masyarakat.‎Fahmi mengatakan, sektor pariwisata memiliki karakteristik ekonomi yang melibatkan banyak pelaku. Karena itu, indikator keberhasilan event tidak hanya dilihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari dampak ikutannya terhadap kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi lokal.‎“Ukuran keberhasilan event pariwisata tidak berhenti pada berapa orang yang hadir di lokasi acara. Kita juga perlu melihat berapa orang yang datang dari luar daerah, berapa lama mereka tinggal, ke mana saja mereka berkunjung, serta berapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Wonosobo,” ungkapnya.‎Ia berharap semakin banyak event berkualitas yang diselenggarakan di Wonosobo dapat memperkuat citra daerah sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki kalender kegiatan yang menarik bagi wisatawan.‎Konser Hari Jadi ke-201 pun menjadi gambaran bagaimana kegiatan budaya, hiburan dan pariwisata dapat berjalan beriringan.‎Ruang publik menjadi titik temu masyarakat, sementara aktivitas kunjungan memberikan peluang bagi pelaku ekonomi lokal untuk mendapatkan manfaat dari pergerakan wisatawan.‎Semangat tersebut selaras dengan tema Hari Jadi ke-201, “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, yang tidak hanya dimaknai sebagai ajakan untuk bersatu dan berkarya, tetapi juga sebagai semangat membangun daerah secara kolaboratif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.‎Dengan demikian, kemeriahan Hari Jadi ke-201 diharapkan tidak berhenti ketika panggung konser berakhir. Pergerakan wisatawan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta promosi potensi daerah diharapkan terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya memperkuat Wonosobo sebagai destinasi wisata yang semakin menarik untuk dikunjungi dan dinikmati lebih lama.‎Wonosobo Nyawiji, Wonosobo Makarti, Wonosobo Loh Jinawi.***

Layanan Aplikasi

Jelajahi Layanan Digital Kabupaten Wonosobo

Akses cepat ke berbagai platform layanan publik digital resmi Pemkab Wonosobo.

Tanya Jawab

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Butuh informasi cepat? Temukan jawaban langsung untuk berbagai pertanyaan umum seputar layanan, pembinaan seni, and kepariwisataan Wonosobo.

Apa tugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo?

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, pengembangan destinasi wisata, pemasaran pariwisata, pelestarian budaya, serta pembinaan pelaku usaha dan masyarakat pariwisata.

Bagaimana cara memperoleh informasi destinasi wisata di Wonosobo?

Informasi mengenai destinasi wisata, kalender event, berita, statistik, dan informasi lainnya dapat diakses melalui website resmi Disparbud Wonosobo.

Bagaimana cara mengajukan kerja sama atau kemitraan dengan Disparbud?

Masyarakat, komunitas, pelaku usaha, maupun instansi dapat mengirimkan surat permohonan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo melalui email resmi (disparbud@wonosobokab.go.id) atau datang langsung ke kantor pada jam kerja.

Bagaimana cara mendaftarkan event agar masuk Kalender Event Wonosobo?

Penyelenggara dapat mengajukan usulan kegiatan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan melampirkan proposal kegiatan, jadwal pelaksanaan, lokasi, serta informasi pendukung lainnya untuk dilakukan verifikasi.

Bagaimana cara mendaftarkan desa menjadi Desa Wisata?

Pemerintah Desa dapat mengajukan usulan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan melalui kecamatan atau langsung kepada Disparbud dengan melampirkan profil desa, potensi wisata, kelembagaan, dan dokumen pendukung sesuai ketentuan. Link Tautan Self Assesment: w-sb.org/AsesmenDesaWisata

Bagaimana cara mendaftarkan objek budaya menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb)?

Usulan dapat diajukan oleh masyarakat, komunitas budaya, atau pemerintah desa kepada Disparbud dengan melengkapi data sejarah, dokumentasi, narasi budaya, dan bukti pendukung lainnya. Selanjutnya akan dilakukan proses inventarisasi, verifikasi, hingga pengusulan ke tingkat provinsi maupun nasional.

Apakah Disparbud melayani permohonan liputan media?

Ya. Media dapat mengajukan permohonan peliputan, wawancara, maupun data melalui Bidang Pemasaran atau Humas Disparbud dengan menyampaikan surat atau konfirmasi terlebih dahulu.

Apakah Disparbud menyediakan layanan perizinan usaha pariwisata?

Perizinan usaha pariwisata dilakukan melalui sistem OSS (Online Single Submission). Disparbud memberikan pendampingan, pembinaan, dan rekomendasi teknis sesuai kewenangannya.

Di mana lokasi kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo?

Kantor Disparbud beralamat di Jl. KH. Abdurrahman Wahid No.104 KM 2, Bugangan, Kalianget, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Jam layanan adalah Senin–Kamis pukul 07.00–16.00 WIB dan Jumat pukul 07.00–11.00 WIB.

Di mana saya dapat melihat berita terbaru dan agenda kegiatan Disparbud?

Seluruh berita, pengumuman, kalender kegiatan, informasi pariwisata, dan dokumentasi kegiatan dipublikasikan secara berkala di Website Resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.

Bagaimana cara mengajukan Surat Pengesahan Kelompok Kesenian?

Pemohon dapat mengunduh formulir sesuai kebutuhan, melengkapi persyaratan yang diminta, kemudian mengajukan permohonan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo untuk dilakukan proses verifikasi. Permohonan Surat Pengesahan Baru: www.w-sb.org/FormPengesahanBaru Permohonan Perubahan Data Surat Pengesahan: www.w-sb.org/FormPerubahanSuratPengesahan

Bagaimana cara menghubungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan?

Telepon: (0286) 321194 Email: disparbud@wonosobokab.go.id Website resmi Disparbud pada laman https://disparbud.wonosobokab.go.id/

Galeri Foto

Dokumentasi Kegiatan Kami

Kumpulan foto dokumentasi berbagai kegiatan dan program kerja.

Lihat Semua Galeri
PEMBERITAHUAN PEMADAMAN LISTRIK UNTUK PARADE TAPA BISU

PEMBERITAHUAN PEMADAMAN LISTRIK UNTUK PARADE TAPA BISU

23 July 2026

Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo

Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo

21 July 2026

Melihat Wonosobo dari sudut pandang yang berbeda. Dari ketinggian Bukit Kekep, hamparan alam yang hijau berpadu dengan langit biru, menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Wonosobo Paragliding Culture Festival 2026 menjadi momentum menikmati keindahan alam sekaligus merayakan kekayaan budaya lokal melalui sport tourism

Melihat Wonosobo dari sudut pandang yang berbeda. Dari ketinggian Bukit Kekep, hamparan alam yang hijau berpadu dengan langit biru, menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Wonosobo Paragliding Culture Festival 2026 menjadi momentum menikmati keindahan alam sekaligus merayakan kekayaan budaya lokal melalui sport tourism

21 July 2026