Dimas D. Pradikta
Dipublikasikan 04 September 2026
WONOSOBO – Penguatan tata kelola yang profesional, aman, berkelanjutan, serta strategi promosi yang terintegrasi menjadi fondasi penting dalam mendorong kemajuan sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo.
Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, tetapi juga memastikan kehadiran pariwisata mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Sarasehan Tata Kelola Pariwisata sekaligus Pelantikan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Omah Wisata Kabupaten Wonosobo Masa Tugas 2025–2028, yang berlangsung di Pendopo Selatan Kabupaten Wonosobo, Kamis 3 September 2026.
Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 40 pengurus BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo resmi dilantik. Komposisi kepengurusan terdiri dari empat unsur penasehat dan 36 unsur pelaksana. Andra Bharada dipercaya memimpin BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo untuk masa tugas 2025–2028.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki kekuatan besar dalam mendukung pembangunan daerah.
Menurutnya, pariwisata tidak sebatas berbicara mengenai keberadaan destinasi, tetapi juga bagaimana potensi alam, budaya, kreativitas, serta keramahan masyarakat dapat dikelola secara optimal sehingga memberikan manfaat nyata.
“Destinasi harus dikelola dengan baik, pelayanan berkualitas, informasi mudah diperoleh, dan pengalaman wisatawan semakin baik,” tegasnya.
Afif menyebut Wonosobo memiliki modal pariwisata yang sangat beragam. Mulai dari kawasan Dieng, Wadaslintang, pegunungan, telaga, air terjun, desa wisata, seni dan budaya, tradisi, kuliner, ekonomi kreatif, hingga karakter masyarakat yang ramah.
Seluruh potensi tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan dan dikemas secara profesional agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan serta perilaku wisatawan.
Perubahan perilaku wisatawan saat ini membuat daya tarik sebuah destinasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan alamnya. Faktor keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, kualitas pelayanan, kemudahan mendapatkan informasi, keaslian pengalaman, hingga tingkat kepercayaan terhadap destinasi di ruang digital turut menjadi pertimbangan dalam menentukan perjalanan wisata.
Karena itu, keberhasilan sektor pariwisata tidak semata-mata diukur berdasarkan jumlah kunjungan. Lama tinggal wisatawan, perputaran belanja di daerah, kualitas pengalaman, serta seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal juga menjadi indikator penting yang perlu diperhatikan.
“Pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi daerah. Kehadiran wisatawan harus membuka peluang bagi petani, UMKM, kuliner, transportasi, perdagangan, ekonomi kreatif, seni budaya, industri rumah tangga, dan berbagai usaha masyarakat lainnya,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo, lanjut Afif, juga memberikan ruang bagi investasi yang dapat memperkuat ekosistem pariwisata, membuka kesempatan usaha dan lapangan kerja, sekaligus menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat maupun daerah.
Dengan ekosistem pariwisata yang semakin kuat, pertumbuhan sektor ini diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat perekonomian daerah serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pada sisi tata kelola, Afif menekankan perlunya pembenahan secara berkelanjutan agar pengelolaan pariwisata semakin transparan, terstandar, profesional, dan memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Aspek kebersihan, keamanan, kenyamanan, pelayanan, keterbukaan informasi, serta kapasitas pengelola perlu terus ditingkatkan. Pada saat yang sama, pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, ekosistem, sumber daya air, serta karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.
“Integritas, transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme harus menjadi cara kita bekerja,” tegasnya.
Promosi Harus Membangun Ketertarikan dan Kepercayaan
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam strategi pemasaran pariwisata Wonosobo. Wisatawan saat ini semakin banyak memanfaatkan media sosial, mesin pencarian, video, ulasan, dan berbagai platform digital sebagai sumber informasi sebelum menentukan destinasi yang akan dikunjungi.
Karena itu, promosi pariwisata tidak cukup hanya menyampaikan informasi mengenai keberadaan destinasi. Promosi perlu dikembangkan untuk membangun ketertarikan, meningkatkan kepercayaan, hingga mendorong wisatawan mengambil keputusan untuk datang dan berkunjung.
Dalam konteks tersebut, keberadaan BPPD Omah Wisata diharapkan memiliki peran yang lebih strategis. BPPD tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana promosi, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan gagasan sekaligus motor penggerak pemasaran pariwisata Wonosobo.
BPPD diharapkan mampu membaca perkembangan tren wisatawan, menentukan segmen pasar yang tepat, serta memperluas jejaring dengan biro perjalanan, platform digital, hotel, komunitas, media, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pengembangan paket wisata, penguatan storytelling destinasi, penyusunan kalender event, serta keterhubungan antara destinasi dengan UMKM dan sektor ekonomi kreatif juga dinilai penting.
Langkah tersebut diperlukan untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih lengkap sekaligus mendorong wisatawan menikmati lebih banyak potensi yang ada di Wonosobo.
“Brand pariwisata Wonosobo harus kuat dan konsisten. Bukan hanya dikenal karena sunrise di Dieng, tetapi juga karena alam, budaya, kuliner, petualangan, dan kehidupan masyarakatnya yang autentik,” ujarnya.
Potensi destinasi yang selama ini belum dikemas secara optimal juga perlu terus dikembangkan agar dapat masuk dalam rangkaian perjalanan wisatawan.
Dengan semakin banyak pilihan aktivitas dan destinasi, wisatawan diharapkan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, meningkatkan belanja selama berada di Wonosobo, serta melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian aktif dari industri pariwisata.
Kolaborasi Menjadi Kekuatan Pengembangan Pariwisata
Pemerintah Kabupaten Wonosobo menyadari bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara mandiri.
Keterlibatan dunia usaha, pemerintah desa, komunitas, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.
BPPD Omah Wisata pun diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang terbuka, sehat, produktif, dan berorientasi pada hasil. Setiap program yang dijalankan diharapkan memiliki sasaran yang jelas, dapat dievaluasi, serta dilaksanakan dengan prinsip tanggung jawab.
Pelantikan BPPD Omah Wisata masa tugas 2025–2028 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat promosi dan pemasaran, memperluas jejaring, serta meningkatkan citra destinasi Wonosobo di tengah dinamika dan persaingan industri pariwisata yang semakin berkembang.
Usai pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan Sarasehan Tata Kelola Pariwisata Wonosobo yang menghadirkan tiga narasumber dengan sudut pandang berbeda namun saling melengkapi.
Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja menyampaikan materi bertajuk “Tata Kelola Pariwisata yang Aman dan Tertib”.
Materi tersebut menyoroti pentingnya keamanan dan ketertiban sebagai bagian tidak terpisahkan dari kualitas destinasi serta kenyamanan wisatawan.
Berikutnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo membawakan materi “Tata Kelola Pariwisata yang Profesional dan Berkelanjutan”.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan pariwisata yang terintegrasi dan profesional dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo Andra Bharada menyampaikan materi “Strategi Promosi Wisata Daerah”, yang membahas penguatan promosi, pemasaran, jejaring, serta strategi pengemasan potensi wisata daerah agar semakin kompetitif.
Andra menyampaikan komitmennya untuk bersama-sama memperkuat sektor pariwisata Wonosobo. Menurutnya, kemajuan pariwisata membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk mendorong peningkatan kualitas pengelolaan destinasi wisata yang dikelola pemerintah maupun swasta agar mampu memberikan pengalaman yang semakin baik kepada wisatawan.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem wisata yang saling terhubung dan mendukung, mulai dari destinasi, pelayanan, hingga sektor-sektor pendukung lainnya.
Pengelolaan yang baik diperlukan agar kunjungan wisatawan tidak berhenti pada pola datang dan pulang dalam waktu singkat, tetapi dapat mendorong mereka untuk memperpanjang masa tinggal di Wonosobo.
Dalam hal kebijakan perpajakan, Andra berharap kontribusi terhadap daerah tetap dapat berjalan seiring dengan perhatian terhadap keberlangsungan serta kemampuan pelaku usaha pariwisata.
Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
Sarasehan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan masukan yang dapat diterapkan dalam upaya memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas destinasi dan pelayanan, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian dan pendapatan daerah.
Melalui kolaborasi, inovasi, adaptasi, dan profesionalisme, pariwisata Wonosobo diharapkan terus berkembang menjadi sektor yang semakin dikenal, semakin diminati, dan semakin berkualitas, sekaligus mampu menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah.***