Pencarian Global

Unsoed dan Disparbud Wonosobo Tandatangani Kerjasama, Majukan Pariwisata Lewat Inovasi
Informasi Serta Merta
admin 18 Oct 2024
16

Unsoed dan Disparbud Wonosobo Tandatangani Kerjasama, Majukan Pariwisata Lewat Inovasi

WONOSOBO -  Menjadi momen penting bagi kemajuan pariwisata dan inovasi di Wonosobo. Bertempat di Gedung Tourist Information Center (TIC) Taman Rekreasi Kalianget, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo resmi menjalin kerjasama strategis, Rabu 16 Oktober 2024. Perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas riset, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian di bidang pariwisata dan produk lokal yang ada di Kabupaten Wonosbo. Penandatanganan dokumen kerjasama dilakukan oleh Dr. Santi Dwi dari Unsoed dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo, Agus Wibowo.  Selain penandatanganan, acara ini juga diisi dengan diskusi tentang pengembangan produk unggulan lokal, salah satunya Carica, buah khas Wonosobo yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Dalam sambutannya, Dr. Santi Dwi menyampaikan bahwa kerjasama ini merupakan langkah strategis untuk menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat.  “Melalui penelitian dan inovasi yang dihasilkan, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pariwisata dan peningkatan ekonomi lokal. Carica, sebagai salah satu produk unggulan, memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dari segi diversifikasi produk olahan maupun peningkatan strategi pemasarannya,” ujarnya. Agus Wibowo, selaku Kadisparbud Wonosobo, menambahkan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk menghadirkan inovasi baru dalam pariwisata Wonosobo. "Dengan kerjasama ini, kami berharap akan ada lebih banyak inovasi dan hasil riset yang dapat diaplikasikan untuk memajukan sektor pariwisata, mulai dari pengembangan produk lokal hingga pemasaran yang lebih efektif, terutama di era digital," ungkapnya. Salah satu fokus utama dari kerjasama ini adalah diversifikasi produk olahan Carica, sehingga tidak hanya dikenal sebagai manisan, tetapi juga dapat dipasarkan dalam berbagai bentuk produk lain yang bernilai tambah.  Selain itu, Unsoed dan Disparbud Wonosobo juga akan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dengan memanfaatkan teknologi digital dan platform e-commerce untuk memperluas jangkauan produk unggulan Wonosobo ke pasar nasional dan internasional. Kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah ini diharapkan menjadi langkah maju dalam memperkuat sektor pariwisata Wonosobo, serta membuka peluang baru untuk penelitian dan pengembangan inovasi yang berkelanjutan. Sinergi ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi perekonomian lokal, tetapi juga menjadi contoh kerjasama yang positif antara institusi pendidikan dan pemerintah dalam menggerakkan pembangunan daerah. Dengan dimulainya kerjasama ini, masyarakat Wonosobo diharapkan dapat melihat hasil yang nyata dalam waktu dekat, baik dari segi peningkatan pariwisata, inovasi produk, maupun pengembangan strategi pemasaran yang semakin modern dan efektif.***

Batik Talunombo, Warisan Kearifan Lokal yang Menginspirasi dan Mendunia
Informasi Serta Merta
admin 17 Oct 2024
33

Batik Talunombo, Warisan Kearifan Lokal yang Menginspirasi dan Mendunia

WONOSOBO - Di balik kemegahan motif-motif batik yang menghiasi kain Batik Talunombo, terdapat cerita panjang tentang warisan budaya, semangat dan inovasi.  Laeli Nur Khasanah, seorang pengrajin batik muda dari Wonosobo, telah menghidupkan kembali tradisi ini dengan sentuhan modern yang berakar pada nilai-nilai leluhur.  Batik Talunombo, yang awalnya hanya bagian dari KUB Carica Lestari, kelompok usaha keluarga yang dirintis oleh generasi terdahulu, kini telah berkembang menjadi sebuah usaha perorangan yang profesional dan berdaya saing. Terletak di Desa Wisata Talunombo, RT 04 RW 02 Wonosobo, workshop Batik Talunombo menjadi saksi dari evolusi batik khas desa ini.  Dengan mengedepankan kualitas dan inovasi, Laeli berhasil menciptakan beragam motif batik yang tidak hanya mempercantik kain, tetapi juga menyimpan cerita budaya lokal yang kuat.  Setiap motif yang dihasilkan mencerminkan keindahan alam Wonosobo, filosofi hidup, dan nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh para leluhur. Kini, Batik Talunombo bukan hanya produk lokal, tetapi juga kebanggaan Kabupaten Wonosobo. Laeli bersama timnya telah menjadikan batik ini sebagai produk unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional, bahkan internasional. Workshop mereka tidak hanya terbuka bagi para pembeli yang ingin melihat langsung proses pembuatannya, tetapi juga dapat diakses secara online melalui Instagram @batik_carica, yang mempermudah akses bagi pelanggan dari berbagai daerah. Dengan dedikasi yang tinggi, Laeli terus berupaya memperluas pasar dan meningkatkan kesejahteraan para pengrajin batik setempat.  Ia tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pada pengembangan komunitas dan pemberdayaan ekonomi lokal. Laeli berharap, Batik Talunombo akan terus berkembang dan menjadi ikon batik Wonosobo yang mampu mengangkat nama daerahnya di kancah global. "Batik Talunombo bukan sekadar kain batik, tetapi juga representasi dari cinta dan kebanggaan akan warisan budaya," jelasnya. Melalui semangat inovasi dan keahlian, Laeli Nur Khasanah membawa tradisi batik ini menuju masa depan yang cerah, di mana kearifan lokal terus hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi selanjutnya. Sebagai tambahan informasi, perjalanan Batik Carica Lestari Talunombo, sejarahnya tak lepas dari peran sosok Alfiyah, ibu dari Laeli Nur Khasanah.  Alfiyah adalah perintis awal usaha batik tersebut, dengan tujuan melestarikan tradisi batik di Desa Talunombo.  Ia berhasil menggerakkan beberapa pembatik, baik perempuan maupun laki-laki, yang berasal dari desa tersebut untuk turut serta menjaga warisan ini. Batik Carica Lestari Talunombo bahkan dikenal sebagai batik khas Wonosobo generasi pertama sebelum hadirnya motif-motif batik Wonosobo lainnya, atau sebagai pionir batik Wonosobo. Keaslian motif batik Talunombo inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya batik di Wonosobo.  Berkat dedikasi generasi pendahulu seperti Alfiyah, Batik Talunombo kini tak hanya dikenal sebagai salah satu batik tertua di Wonosobo, tetapi juga sebagai simbol kekuatan budaya lokal yang terus beradaptasi dengan zaman. Dengan tetap menghormati warisan yang ditinggalkan oleh ibunya, Laeli membawa Batik Talunombo ke tingkat yang lebih tinggi, baik dari segi profesionalisme usaha maupun pengenalan motifnya yang khas ke pasar yang lebih luas.***  

Nasi Goreng Pertelon, Kuliner Malam yang Wajib Kalian Coba saat Berwisata ke Dieng
Informasi Serta Merta
admin 16 Oct 2024
133

Nasi Goreng Pertelon, Kuliner Malam yang Wajib Kalian Coba saat Berwisata ke Dieng

WONOSOBO - Sedang berkunjung ke Dieng, warung nasi goreng ini bisa menjadi salah satu rekomendasi tempat makan yang wajib kalian coba. Warung ini juga viral di media sosial Tik Tok, selain warga lokal, rerata pengunjungnya berasal dari luar kota yang sedang berwisata ke Dieng. Jangan lewatkan untuk mencicipi Nasi Goreng Pertelon, terutama di malam hari. Meskipun nasi goreng ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan nasi goreng pada umumnya, yang membuatnya istimewa adalah cara memasaknya. Di sini, mereka menggunakan wajan besar untuk memasak nasi goreng dalam jumlah banyak, hingga 60 porsi sekaligus. Teknik ini sempat viral di media sosial dan menarik perhatian banyak orang untuk mencobanya. Rizal Shafa, pemilik warung nasi goreng ini, menjelaskan bahwa awalnya ia menggunakan wajan besar untuk mengantisipasi banyaknya pembeli. "Inisiatif kita bikin banyak dulu, kita tampung, kalau misal ada yang pesan kita tinggal masak lagi," ujarnya. Dalam sekali masak, Rizal bisa memasukkan 10-25 kilogram nasi putih dan 1,5 kilogram telur ayam. Untuk mengaduknya, ia bahkan menggunakan dua spatula besar.   Bumbu yang digunakan hampir sama dengan nasi goreng pada umumnya: bawang putih, cabai, garam, kecap, dan saus. Namun, yang membuat nasi goreng ini berbeda adalah penambahan red chicken yang memberikan cita rasa khas. Urutan memasaknya pun tidak jauh berbeda dengan nasi goreng biasa: minyak dipanaskan, bawang putih dimasukkan dan digoreng hingga berwarna keemasan. Kemudian, telur ditambahkan dan diaduk hingga setengah matang, diikuti dengan sayur sawi. Setelah itu, nasi putih dimasukkan dan diaduk rata. Bumbu pelengkap lainnya kemudian ditambahkan. "Tidak ada bumbu yang spesial. Kuncinya saat memasak bawang harus sampai golden brown dan menggunakan api besar pasti rasanya enak," jelas Rizal. Proses memasaknya yang unik ini sering diabadikan oleh pembeli dan diunggah ke media sosial, membuat semakin banyak orang mengetahui dan tertarik untuk mencoba nasi goreng ini.***

Diskusi Strategi Promosi Pariwisata dan Ekraf, Disparbud Wonosobo Siapkan Langkah Kolaboratif
Informasi Serta Merta
admin 16 Oct 2024
12

Diskusi Strategi Promosi Pariwisata dan Ekraf, Disparbud Wonosobo Siapkan Langkah Kolaboratif

WONOSOBO - Dalam upaya meningkatkan kunjungan wisata dan rata-rata lama tinggal wisatawan di Wonosobo, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo mengundang para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif (Ekraf) untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam mengembangkan strategi promosi.  Acara diskusi yang bertema "Pengembangan Promosi Usaha Pariwisata dan Ekonomi Kreatif" ini dilaksanakan di Ball Room Hotel Dafam Wonosobo pada 15 Oktober 2024, dihadiri sekitar 70 peserta yang berasal dari berbagai sektor usaha pariwisata. Peserta diskusi ini terdiri dari pengusaha perhotelan, homestay, glamping, rumah makan, pengelola daya tarik wisata, penyedia transportasi wisata, biro perjalanan wisata, pemandu wisata, toko oleh-oleh, serta pelaku Ekraf seperti pengrajin batik dan kuliner khas Wonosobo.  Acara ini menjadi forum penting bagi pelaku usaha untuk bertukar ide dan informasi dalam upaya meningkatkan kualitas promosi, memperkuat daya tarik Wonosobo, dan merangsang pertumbuhan ekonomi lokal. Kepala Disparbud Wonosobo, Agus Wibowo, dalam pemaparannya, menyampaikan hasil survei mengenai belanja wisatawan di Wonosobo pada semester pertama tahun ini.  Menurut Agus, data survei tersebut sangat berguna bagi para pelaku usaha pariwisata dan Ekraf untuk mengembangkan bisnis dan strategi pemasaran mereka. Agus juga menyoroti pentingnya pemanfaatan berbagai media dalam promosi, baik media sosial, media online, maupun media cetak.  Meskipun media sosial memiliki peran signifikan, hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 40% wisatawan masih memperoleh informasi tentang Wonosobo dari media cetak, teman, atau biro wisata. Selain itu, Agus juga mengingatkan bahwa Kabupaten Wonosobo memiliki visi jangka panjang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045 yang menekankan kemajuan di sektor agrobisnis dan pariwisata yang berkelanjutan.  Untuk mewujudkan visi tersebut, kolaborasi dari semua pihak sangat dibutuhkan, baik dari pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat, agar Wonosobo dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang unggul. Sementara itu, Kabid Pemasaran Disparbud, Fatonah Ismangil, menambahkan bahwa salah satu strategi promosi yang akan dikembangkan adalah dengan menggandeng berbagai media.  Kerjasama ini bertujuan untuk menyebarkan informasi terkait produk usaha pariwisata dan Ekraf secara terarah, tepat sasaran, dan berkualitas. Hal ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha dalam menjangkau lebih banyak wisatawan dan memperluas pasar mereka. Dalam kesempatan tersebut, Edi Purnomo dari Suara Merdeka juga memberikan gambaran mengenai pentingnya desain promosi yang lebih menarik, informatif, dan tematik.  Ia menyarankan para pelaku usaha untuk menggunakan channel yang tepat agar promosi dapat mencapai audiens yang sesuai dan mendapatkan umpan balik yang efektif. Dengan kolaborasi ini, diharapkan pelaku usaha pariwisata dan Ekraf Wonosobo dapat memanfaatkan berbagai peluang promosi dengan lebih baik, sehingga kunjungan wisatawan ke Wonosobo dapat terus meningkat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.***

Festival Talunombo, Simbol Pelestarian Budaya dan Ekosistem di Wonosobo
Informasi Serta Merta
admin 14 Oct 2024
29

Festival Talunombo, Simbol Pelestarian Budaya dan Ekosistem di Wonosobo

WONOSOBO - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Agus Wibowo S.Sos, turut hadir dalam kemeriahan Festival Talunombo yang sarat dengan kearifan lokal dan semangat kebersamaan, Minggu 13 Oktober 2024 pagi. Festival ini menjadi salah satu agenda budaya unggulan yang dirayakan di Desa Talunombo, menghadirkan Upacara Adat AUM sebagai puncak acara. Upacara Adat AUM adalah sebuah tradisi unik yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tradisi ini melibatkan arak-arakan gunungan hasil bumi yang diakhiri dengan makan tumpeng bersama warga dan pengunjung.  Yang menarik, untuk mencicipi hidangan tersebut, pengunjung diminta menukarnya dengan serangga seperti belalang atau ulat. Hewan-hewan ini kemudian dilepaskan kembali ke alam secara bersama-sama, sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan siklus kehidupan. Agus Wibowo menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen masyarakat Talunombo dalam menjaga tradisi ini. “Upacara Adat AUM adalah cerminan kuat dari hubungan manusia dengan alam yang telah terjalin erat sejak dulu. Tradisi ini mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem serta menghormati semua makhluk hidup di sekitar kita,” ujar Agus. Tidak hanya merayakan tradisi, Festival Talunombo juga diramaikan dengan beragam kegiatan menarik yang memperkaya pengalaman pengunjung. Di antaranya adalah pameran produk ekonomi kreatif yang menampilkan kerajinan lokal, kegiatan Sarung Run yang penuh warna, serta pertunjukan kesenian Ndayakan Bima Sakti Talunombo yang menampilkan keunikan budaya setempat. Salah satu acara yang paling dinanti adalah penerbangan 1.000 lampion pada malam hari. Langit Talunombo yang diterangi cahaya lampion menambah kesan magis pada festival ini. Selain itu, pengunjung juga dihibur dengan penampilan keroncong dan night fashion festival yang semakin memeriahkan suasana. Selama dua hari, 12-13 Oktober 2024, Festival Talunombo berhasil menggabungkan budaya, seni, dan alam dalam satu perayaan megah. Festival ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi momen penting untuk menumbuhkan kesadaran akan pelestarian budaya dan lingkungan.  Dengan menghadirkan kegiatan yang sarat makna, Festival Talunombo menjadi salah satu ikon perayaan budaya yang patut dibanggakan oleh masyarakat Wonosobo. Melalui festival ini, Desa Talunombo mempertegas posisinya sebagai salah satu destinasi budaya yang mampu menarik wisatawan dengan keunikan tradisi dan kesenian lokal.  Festival Talunombo tidak hanya mengangkat budaya setempat, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam rangka menjaga dan melestarikan warisan leluhur.***

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo Pertajam Target Kinerja melalui Monev Internal
Informasi Serta Merta
admin 09 Oct 2024
23

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo Pertajam Target Kinerja melalui Monev Internal

WONOSOBO – Guna memastikan kinerja organisasi tetap berada di jalur yang tepat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo secara rutin menggelar rapat monitoring dan evaluasi. Terbaru, rapat monev triwulan III tahun 2024 digelar pada Kamis 3 Oktober 2024. Dalam rapat yang dipimpin oleh Kepala Dinas, Agus Wibowo, ini, seluruh pegawai, termasuk UPTD Pengelolaan Obyek Wisata, turut hadir. Masing-masing bidang menyampaikan laporan kinerja, mulai dari kegiatan yang telah dilaksanakan, output yang dihasilkan, hingga kendala yang dihadapi. "Monev ini sangat penting bagi kami untuk mengukur sejauh mana target kinerja yang telah ditetapkan dapat tercapai," ujar Agus Wibowo. "Selain itu, melalui monev ini kita juga dapat mengidentifikasi kendala yang dihadapi dan mencari solusi terbaik untuk mengatasinya," tegasnya. Hasil dari monev ini akan menjadi bahan evaluasi untuk menyusun rencana kerja yang lebih efektif pada triwulan IV mendatang. Dengan demikian, diharapkan kinerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo dapat terus meningkat dan memberikan kontribusi yang optimal bagi pengembangan sektor pariwisata di Wonosobo.***

Launching Kampung Kasanah AirNav Wonosobo 2024 Perpaduan Tradisi dan Inovasi untuk Keselamatan Udara dan Kesejahteraan Masyarakat
Informasi Serta Merta
admin 04 Oct 2024
17

Launching Kampung Kasanah AirNav Wonosobo 2024 Perpaduan Tradisi dan Inovasi untuk Keselamatan Udara dan Kesejahteraan Masyarakat

WONOSOBO - Launching Kampung Kasanah (Kampung Sadar Navigasi Harmoni) AirNav sekaligus memperingati HUT ke-12 AirNav Indonesia berhasil digelar pada 28-29 September 2024 di Desa Gunturmadu, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Kegiatan tersebut dihadiri Korbid Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Kementerian BUMN Fachrudin, Manajer AirNav YIA, perwakilan dari AirNav Indonesia Jakarta, Kabid Pemasaran Disparbud Wonosobo, Camat Mojotengah beserta jajaran Forkopimca, Kades Gunturmadu beserta jajaran Pemdes, Ketua TP PKK Gunturmadu dan seluruh stakeholders yang terkait.  Acara yang berlangsung selama dua hari ini menggabungkan pelestarian tradisi lokal dengan edukasi mengenai keselamatan penerbangan sekaligus mengedukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan potensi desa demi kesejahteraan masyarakat melalui harmonisasi di berbagai aspek kehidupan masyarakat dari hulu ke hilir.  Kegiatan ini menjadi inisiatif penting untuk mendukung pelestarian tradisi sekaligus peningkatan perekonomian masyarakat dari sisi daya tarik wisata, atraksi wisata, potensi agrobisnis, ekonomi kreatif dan pengembangan seni budaya.  Program ini juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas mereka dengan mengedepankan regulasi, informasi, inovasi dan kolaborasi. Program ini juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata Wonosobo.  Fatonah Ismangil, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Budaya Wonosobo, yang dalam  sambutannya menyatakan bahwa kegiatan Kampung Kasanah memberikan tambahan nilai bagi wisata daerah sekaligus upaya pemberdayaan masyarakat lokal dalam pelestarian tradisi dan pengembangan ekonomi kreatif. Kampung Kasanah ini menjadi inspirasi sekaligus daya tarik baru bagi wisatawan ke depannya.  Dukungan AirNav dan Kementerian BUMN tentunya menjadi energi positif berkembangnya Desa Gunturmadu khususnya dan Wonosobo pada umumnya menjadi wilayah yang lebih sadar regulasi dalam mengembangkan budaya dan wisata. Selain menampilkan pertunjukan seni budaya dan pameran UMKM, Launching Kampung Kasanah ini juga menggelar Festival Balon Udara.***

Plt Bupati Wonosobo Muhammad Albar Tinjau Daya Tarik Wisata di Jalur Utama Menuju Dieng
Informasi Serta Merta
admin 01 Oct 2024
16

Plt Bupati Wonosobo Muhammad Albar Tinjau Daya Tarik Wisata di Jalur Utama Menuju Dieng

WONOSOBO - Senin pagi, 30 September 2024, Plt Bupati Wonosobo, Muhammad Albar, melakukan peninjauan langsung ke beberapa daya tarik wisata di jalur utama menuju Dieng.  Peninjauan Plt Bupati tersebut turut didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Agus Wibowo, bersama sejumlah pejabat penting, termasuk Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, serta Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan.  Kehadiran berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ini menunjukkan adanya komitmen kolektif untuk mendorong kemajuan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Wonosobo. Tak sekadar rutinitas, peninjauan tersebut merupakan sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa infrastruktur penunjang wisata dapat memberikan kenyamanan optimal bagi para wisatawan. Langkah positif ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Wonosobo sebagai destinasi wisata unggulan.***  

Kolam Ombak Banyu, Daya Tarik Terbaru Taman Rekreasi Kalianget Wonosobo
Informasi Serta Merta
admin 23 Sep 2024
114

Kolam Ombak Banyu, Daya Tarik Terbaru Taman Rekreasi Kalianget Wonosobo

WONOSOBO – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo resmi meluncurkan wahana baru bernama Kolam Ombak Banyu di Taman Rekreasi Kalianget, Minggu 22 September 2024. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Agus Wibowo, menyatakan bahwa wahana ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah. Kolam Ombak Banyu menawarkan sensasi unik berupa simulasi ombak yang menyerupai laut, menghadirkan pengalaman seru bagi para pengunjung. Namun, wahana ini hanya beroperasi setiap hari Minggu pada waktu tertentu, yaitu pukul 10.00-10.30 WIB dan 13.00-13.30 WIB. Untuk menikmati wahana ini, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 dan tiket tambahan untuk kolam ombak sebesar Rp7.000. Ini adalah kesempatan yang terjangkau bagi siapa saja yang ingin merasakan keseruan bermain di kolam ombak. Kolam ombak banyu ini terletak di Taman Rekreasi Kalianget, destinasi wisata ini terkenal dengan sumber air panas alaminya, merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Wonosobo, khususnya bagi mereka yang ingin bersantai sambil menikmati keindahan alam. Berlokasi di kawasan yang sejuk dan hijau, Taman Rekreasi Kalianget ini memberikan pengalaman rekreasi yang nyaman bagi pengunjung segala usia. Dengan adanya kolam pemandian air panas, pengunjung bisa merasakan manfaat kesehatan seperti meredakan pegal-pegal dan memperlancar peredaran darah. Selain kolam air panas, taman ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas lain, seperti taman bermain anak, kolam renang air dingin, serta ruang terbuka hijau yang cocok untuk bersantai bersama keluarga.  Pemandangan pegunungan di sekitar taman semakin menambah kenyamanan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam Wonosobo. Bagi yang ingin merasakan kenyamanan berendam di air panas sambil menikmati keindahan alam, Taman Rekreasi Kalianget adalah destinasi yang tepat. Jangan lewatkan kesempatan untuk menghabiskan akhir pekan yang menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman. Sensasi ombak menanti Anda!.***