Dimas D. Pradikta
Dipublikasikan 25 July 2026
WONOSOBO – Prosesi Pisowanan Agung menjadi penanda puncak peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo yang berlangsung khidmat di Pendopo Kabupaten dan Alun-alun Wonosobo, Jumat 24 Juli 2026.
Mengusung tema "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", prosesi adat tersebut menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya persatuan, pelestarian budaya, serta penguatan nilai-nilai luhur sebagai landasan membangun masa depan daerah.
Pisowanan Agung menjadi penutup dari seluruh rangkaian tradisi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang sebelumnya diawali dengan Bedhol Kedhaton, dilanjutkan Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga, hingga Birat Sengkala.
Setiap tahapan prosesi mencerminkan perjalanan spiritual masyarakat dalam mengenang sejarah, memanjatkan doa, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkuat tekad bersama demi kemajuan Wonosobo.
Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan bahwa Hari Jadi bukan hanya momentum mengenang perjalanan sejarah selama lebih dari dua abad, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan semangat perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar pembangunan daerah.
"Wonosobo lahir dari perjalanan panjang penuh perjuangan. Lebih dari dua abad sejarah mengajarkan kita arti pengabdian, pengorbanan, dan optimisme dalam membangun masa depan. Karena itu, Hari Jadi harus dimaknai sebagai penguat jati diri sekaligus penyatu semangat seluruh masyarakat dalam membangun Wonosobo," ujar Afif.
Ia menjelaskan, tema "Nyawiji Makarti" mengandung makna menyatukan seluruh potensi, tenaga, dan ikhtiar masyarakat agar menjadi kekuatan bersama dalam menghadirkan pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga.
Menurutnya, meskipun peringatan Hari Jadi tahun ini diselenggarakan secara sederhana sebagai bagian dari kebijakan efisiensi, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kuatnya rasa memiliki terhadap Kabupaten Wonosobo.
"Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa pemerintah dan masyarakat harus terus berjalan beriringan. Seluruh energi yang kita miliki perlu disatukan untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat Wonosobo," tegasnya.
Afif juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan memandang pembangunan sebagai tanggung jawab bersama, sehingga cita-cita mewujudkan Wonosobo yang maju, adil, dan sejahtera dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Prosesi Pisowanan Agung diawali dengan penyerahan kembali Panji-panji Daerah dari perwakilan masyarakat kepada Bupati Wonosobo yang didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Prosesi tersebut menjadi simbol bersatunya pemerintah dan masyarakat dalam satu komitmen untuk terus mengabdi dan membangun Kabupaten Wonosobo.
Rangkaian prosesi kemudian berlanjut dengan Birat Sengkala, yakni ritual pemercikan air yang dihimpun dari tujuh sumber mata air ke empat penjuru mata angin.
Ritual tersebut menjadi lambang doa dan harapan agar Kabupaten Wonosobo senantiasa memperoleh perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, dilimpahi keselamatan, ketenteraman, kemakmuran, serta dijauhkan dari segala bentuk bencana dan marabahaya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menjelaskan bahwa seluruh prosesi Hari Jadi merupakan satu kesatuan yang memiliki filosofi saling melengkapi.
"Pisowanan Agung menjadi puncak seluruh rangkaian Hari Jadi. Pengembalian Panji-panji Daerah melambangkan eratnya persatuan pemerintah dan masyarakat. Birat Sengkala merupakan ikhtiar spiritual memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi Wonosobo, kemudian dilanjutkan dengan Kembul Bujana serta Grebeg Gunungan Sayur sebagai wujud rasa syukur sekaligus berbagi berkah kepada masyarakat," jelas Fahmi.
Setelah prosesi adat selesai, ribuan warga larut dalam kebersamaan melalui Kembul Bujana, tradisi makan bersama yang menggambarkan semangat persaudaraan tanpa membedakan latar belakang.
Suasana semakin meriah ketika Grebeg Gunungan Sayur digelar. Gunungan hasil bumi yang menjadi simbol kemakmuran dan keberkahan diperebutkan masyarakat sebagai harapan akan hasil panen yang melimpah dan kehidupan yang semakin sejahtera.
Peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo juga diwarnai dengan prosesi Ritual Cukur Rambut Gimbal terhadap tujuh anak. Tradisi khas masyarakat Dieng tersebut kembali dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Pada tahun ini terdapat tujuh anak yang mengikuti ritual cukur rambut gimbal dengan berbagai permintaan yang telah dipenuhi sesuai tradisi. Prosesi ini bukan hanya ritual adat, tetapi juga menjadi bentuk pelestarian budaya sekaligus upaya mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap hidup dan lestari," ungkap Fahmi.
Puncak peringatan Hari Jadi semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang melibatkan pelajar, sanggar seni, komunitas budaya, hingga atraksi dari Yonif TP 444 Satria Setjonegoro.
Ribuan masyarakat yang memadati kawasan Alun-alun Wonosobo menunjukkan bahwa budaya tetap menjadi identitas yang hidup, tumbuh, dan terus dirawat bersama.
Melalui tema "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik semata, tetapi juga melalui pelestarian budaya, penguatan nilai-nilai kebersamaan, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Semangat tersebut menjadi fondasi bagi terwujudnya Wonosobo yang lestari, harmonis, maju, dan semakin sejahtera.***