Pencarian Global

Wonosobo Night Fashion Carnival 2026 Sukses Tampilkan Kreativitas, Budaya dan Kearifan Lokal
Informasi Berkala
admin 15 Jun 2026
36

Wonosobo Night Fashion Carnival 2026 Sukses Tampilkan Kreativitas, Budaya dan Kearifan Lokal

WONOSOBO – Euforia masyarakat dan semarak kreativitas para peserta menyatu dalam gelaran Wonosobo Night Fashion Carnival (WNFC) 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Wonosobo, Sabtu (13/6/2026) malam. Mengusung tema “Swarna Mahardhika Wanasaba”, event yang menjadi bagian dari Festival Muda Berbudaya 2026 sekaligus rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo ini kembali menghadirkan pertunjukan kostum karnaval yang memadukan unsur budaya, kreativitas, dan kearifan lokal.   Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyampaikan bahwa Wonosobo Night Fashion Carnival telah berkembang menjadi salah satu event kreatif yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan serta menjadi atraksi wisata yang dinantikan setiap tahunnya.   Menurutnya, Wonosobo tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena kreativitas masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang sebagai kekuatan penting dalam mendukung kemajuan daerah.   “Melalui gelaran ini, kita menegaskan bahwa kreativitas masyarakat juga menjadi kekuatan penting yang dapat menggerakkan kemajuan dan daya saing daerah,” ungkap Bupati.   Ia menambahkan, WNFC tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi para pelaku seni dan ekonomi kreatif, tetapi juga mampu memperkuat daya tarik pariwisata daerah. Terlebih pada momentum Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap daerah tercermin melalui karya-karya yang ditampilkan para peserta.   Bupati menilai tema “Swarna Mahardhika Wanasaba”selaras dengan semangat pembangunan Wonosobo. Menurutnya, kekayaan potensi, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki daerah harus mampu dirajut menjadi harmoni yang menghadirkan kemakmuran, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.   Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para desainer yang telah mencurahkan ide, kreativitas, dan kerja kerasnya dalam menghasilkan kostum-kostum yang unik, menarik, dan berkualitas. Ia menegaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan bukan sekadar busana pertunjukan, melainkan media untuk menyampaikan cerita, identitas, dan kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat.   Apresiasi serupa diberikan kepada seluruh peserta, baik dari Kabupaten Wonosobo maupun dari berbagai daerah lainnya, yang telah menunjukkan semangat kreativitas dan kolaborasi dalam satu panggung yang inspiratif dan membanggakan.   Bupati berharap, kualitas penyelenggaraan WNFC dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun sehingga mampu menarik lebih banyak partisipasi dari berbagai daerah dan berkembang menjadi event kreatif yang diperhitungkan di tingkat nasional bahkan internasional.   Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, M. Kristijadi, dalam laporannya menyampaikan bahwa WNFC 2026 menjadi semakin istimewa karena dikolaborasikan dengan sejumlah kegiatan dalam Festival Muda Berbudaya 2026.   Menurut Kristijadi, kolaborasi berbagai event yang digelar pada 12–13 Juni 2026 di kawasan Alun-Alun Wonosobo ini tidak hanya bertujuan memeriahkan hari jadi daerah, tetapi juga menjadi upaya strategis untuk mempromosikan potensi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif Wonosobo kepada masyarakat yang lebih luas.   “Event ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisata, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya. WNFC 2026 diikuti oleh 82 peserta yang terdiri dari 53 peserta WNFC dan 29 delegasi dari luar daerah. Dengan adanya kostum pendamping yang turut tampil bersama masing-masing peserta, jumlah performer yang terlibat mencapai lebih dari 120 orang.   Peserta juga berasal dari berbagai daerah, antara lain Surakarta, Kota Semarang, Grobogan, Kebumen, Banjarnegara, Salatiga, dan Jember. Sementara peserta lokal berasal dari berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, BUMD, RSUD, seniman, budayawan, institusi pendidikan, pelaku wisata, pelaku ekonomi kreatif, perancang busana, salon, perhotelan, hingga peserta perorangan.   Parade WNFC 2026 menempuh rute dari halaman Sekretariat DPRD Kabupaten Wonosobo melalui Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Kranggan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kartini, Jalan Pemuda, Jalan Merdeka, menuju venue utama di Alun-Alun Wonosobo dan berakhir di halaman Pendopo Kabupaten Wonosobo.   Pada kesempatan tersebut juga ditampilkan tiga kostum ikon WNFC 2026 hasil karya komunitas perancang busana Wonosobo, Wonosobo Extravaganza Costume Association (WECA), yang merupakan hasil pelatihan pembuatan kostum karnaval yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.   Malam puncak Wonosobo Night Fashion Carnival 2026 ditutup dengan pengumuman para pemenang dari tiga defile yang diperlombakan. Defile Swarna Puspa, Juara Favorit diraih Nomor 9 dariHotel Dafam Wonosobo, Juara III Nomor 12 dari Taman Syailendra, Juara II Nomor 01 dari Wahyu Sugiarto dan Juara I Nomor 08 dari Bank Wonosobo. Defile Kidung Wanasaba, juara Favorit dari BPKAD Kabupaten Wonosobo, juara III diraih Muhammad Setiawan Eka, juara II diraih Rozi Syarif, dan juara I dimenangkan oleh Mirza Ramadhan. Sementara itu, untuk Defile Mahardhika Paksi Nusantara, juara Favorit diraih Dekranasda Kabupaten Wonosobo, juara III Jeremias Fernando, juara II oleh Jay’Art dan juara Idimenangkan oleh RSUD Kabupaten Wonosobo.   Kesuksesan penyelenggaraan WNFC 2026 tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, jajaran Forkopimda, perangkat daerah, organisasi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif, para sponsor dan donatur, serta seluruh panitia dan petugas yang telah bekerja dengan penuh dedikasi.   Melalui semangat Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo yang mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, Wonosobo Night Fashion Carnival diharapkan terus menjadi etalase kreativitas daerah yang mampu memperkuat posisi Wonosobo sebagai destinasi pariwisata dan pusat pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Narendra dan Kayla Raih Gelar Duta Wisata 2026 dalam Ajang Pemilihan Mas Mbak Wonosobo 2026
Informasi Berkala
admin 15 Jun 2026
27

Narendra dan Kayla Raih Gelar Duta Wisata 2026 dalam Ajang Pemilihan Mas Mbak Wonosobo 2026

WONOSOBO – Kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjadi agen perubahan. Berangkat dari semangat tersebut, Pemilihan Mas Mbak Wonosobo (PMMW) hadir sebagai ruang lahirnya generasi muda yang berwawasan, berintegritas, memiliki jiwa kepemimpinan, dan peduli terhadap kemajuan daerah.   Pesan ini ditekankan oleh Wakil Bupati Wonosobo, Amir Husein, dalam malam Grand Final PMMW 2026 yang digelar di Alun-Alun Wonosobo pada Jumat (12/6/2026) malam.   Peran Penting Duta Wisata sebagai Mitra Pembangunan   Menurut Amir Husein, konsistensi penyelenggaraan ajang PMMW merupakan investasi jangka panjang. Yang dicari bukan sekadar kemampuan tampil di atas panggung, melainkan putra-putri terbaik daerah yang siap menjadi wajah Kabupaten Wonosobo. “Pemilihan Mas Mbak Wonosobo merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi muda yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. Sebab kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mampu menjadi penggerak perubahan,” ujar Amir.   Lebih lanjut, Amir menekankan bahwa peran Duta Wisata tidak berhenti pada promosi pariwisata semata. Mereka dituntut menjadi mitra pembangunan yang aktif: Membawa Solusi Sosial: Mengambil peran sebagai inspirator dan penggerak kegiatan sosial untuk menjawab tantangan daerah, seperti anak tidak sekolah, stunting, dan kemiskinan. Mendukung Pariwisata Berkelanjutan: Terlibat aktif dalam pengembangan kawasan Lima Dieng Baru, penguatan destinasi unggulan, dan pengembangan desa wisata. Berkolaborasi: Bekerja sama dengan pemerintah, pelaku wisata, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk meningkatkan daya saing desa wisata sebagai pusat ekonomi dan pelestarian budaya. Seluruh upaya ini sejalan dengan Visi Pembangunan Daerah 2025–2045, yakni mewujudkan Wonosobo sebagai pusat agrobisnis dan pariwisata terkemuka di Jawa Tengah yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan.   Rangkaian Festival Muda Berbudaya 2026   Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, M. Kristijadi, menjelaskan bahwa Grand Final PMMW 2026 adalah bagian dari Festival Muda Berbudaya 2026. Event kolaboratif ini digagas oleh generasi muda kreatif Wonosobo yang tergabung dalam Paguyuban Mas Mbak Wonosobo (PAMMBOS), Around Me, dan Wonosobo Extravaganza Costume Association (WECA).   Mengusung tema "Swarna Mahardhika Wanasaba", festival ini telah masuk dalam Kalender Event Kabupaten Wonosobo Tahun 2026 dan menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Rangkaian Acara Festival: Jumat, 12 Juni 2026: Wonosobo Youth Talent (siang) dan Grand Final PMMW 2026 (malam). Sabtu, 13 Juni 2026: Wonosobo Kids Fashion Carnival dan Wonosobo Night Fashion Carnival di Alun-Alun Wonosobo. Tahapan Seleksi PMMW 2026: Sebanyak 30 finalis (15 Mas dan 15 Mbak) telah mengikuti seleksi ketat selama hampir satu bulan. Tahapannya meliputi: Seleksi administrasi & pembuatan video promosi Tantangan catwalk di area publik Pembekalan pra-karantina & Karantina di Desa Wisata Talunombo Motion challenge & penilaian minat bakat Preliminary round & visitasi ke Tambi Tea Resort Malam Grand Final   Daftar Pemenang Mas Mbak Wonosobo 2026   Setelah melalui seluruh tahapan penilaian, dewan juri menetapkan pasangan terbaik yang akan mengemban amanah sebagai Duta Wisata Kabupaten Wonosobo selama dua tahun ke depan:   Juara I (Mas & Mbak Wonosobo 2026) Mas: Narendra Istighfaro Ahmad Al Ghani Mbak: Kayla Zahra Ramadhany Wakil I Mas: Mukhammad Syabil Raysha Putra Mbak: Fericha Kirana Wakil II Mas: Kholiq Aziz (Wadaslintang) Mbak: Snada Azahra Amajida (Wonosobo)   Tantangan ke Depan   Terpilihnya Narendra dan Kayla menandai babak baru. Di tengah pergeseran pola promosi pariwisata ke ruang digital, para duta wisata dituntut untuk tidak hanya menjadi simbol seremonial. Mereka harus mampu menghadirkan gagasan, membangun kedekatan dengan masyarakat, dan menjadi wajah Wonosobo yang relevan, kreatif, serta berdaya saing di tingkat regional maupun nasional.   Keberhasilan PMMW 2026 pada akhirnya akan diukur dari kontribusi nyata para Duta Wisata dalam memajukan sektor pariwisata, melestarikan budaya lokal, serta menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan membangun Kabupaten Wonosobo.

Suhu Dingin Ekstrem Dieng Jadi Magnet Wisatawan, Disparbud Wonosobo Optimistis Kunjungan Meningkat
Informasi Berkala
admin 15 Jun 2026
89

Suhu Dingin Ekstrem Dieng Jadi Magnet Wisatawan, Disparbud Wonosobo Optimistis Kunjungan Meningkat

Wonosobo – Fenomena suhu dingin ekstrem atau yang dikenal masyarakat sebagai musim bediding di kawasan Dieng kembali menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kondisi cuaca yang mencapai suhu rendah dalam beberapa pekan terakhir terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisata di Kabupaten Wonosobo.   Dijelaskan Pelaksana Harian Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, M. Kristijadi, pada Kamis 11 Juni 2026, berdasarkan rekap penjualan karcis wisata oleh UPTD Pengelolaan Obyek Wisata, data yang dihimpun pada awal Mei dan awal Juni 2026, terjadi peningkatan kunjungan yang cukup signifikan.   Kenaikan tersebut terutama terlihat pada akhir pekan, ketika wisatawan datang untuk menikmati suasana dingin khas dataran tinggi Dieng serta berburu momen matahari terbit (golden sunrise) dan fenomena embun es yang menjadi daya tarik musiman.   Kristijadi, menyampaikan bahwa fenomena suhu dingin ekstrem justru memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata daerah.   “Berdasarkan pemantauan dan data kunjungan yang kami terima, musim bediding tahun ini memberikan pengaruh positif terhadap minat wisatawan untuk berkunjung ke Dieng. Banyak wisatawan yang secara khusus datang untuk merasakan suhu dingin khas Dieng, menikmati panorama alam, serta melakukan pendakian ke Sikunir dan Gunung Prau yang terkenal dengan keindahan matahari terbitnya,” ungkap Kristijadi.   Ia menjelaskan bahwa pola kunjungan pada awal Juni menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan awal Mei. Jika pada bulan Mei lonjakan wisatawan lebih dipengaruhi oleh momentum libur nasional dan cuti bersama dengan jumlah kunjungan yang dapat mencapai 2.000 hingga 2.500 karcis per hari, maka pada bulan Juni peningkatan terjadi secara lebih stabil dan konsisten setiap akhir pekan.   Data menunjukkan bahwa pada akhir pekan awal Juni, jumlah kunjungan mampu mencapai sekitar 1.620 karcis per hari. Angka tersebut menunjukkan bahwa faktor cuaca dan fenomena alam musiman menjadi motivasi utama wisatawan untuk datang ke kawasan Dieng dan sekitarnya.   Menurut Kristijadi, kondisi ini menjadi indikasi bahwa wisata alam berbasis pengalaman (experience tourism) semakin diminati oleh wisatawan. Fenomena alam yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu mampu menciptakan daya tarik yang kuat dan mendorong wisatawan untuk melakukan perjalanan ke Wonosobo.   “Fenomena embun es dan suhu dingin ekstrem merupakan daya tarik yang unik dan tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, momentum ini perlu dikelola dengan baik melalui penyediaan informasi yang akurat, peningkatan pelayanan wisata, serta penguatan promosi destinasi,” tambahnya.   Namun demikian, meningkatnya kunjungan wisatawan di tengah kondisi cuaca dingin ekstrem juga perlu diimbangi dengan peningkatan kesiapsiagaan dan penerapan standar keselamatan oleh seluruh pelaku usaha pariwisata.    Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo mengimbau kepada seluruh pengelola destinasi wisata, pengelola homestay, pelaku usaha jasa pariwisata, serta pengelola jalur pendakian untuk menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dan standar pelayanan yang berlaku guna menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan wisatawan.   “Momentum meningkatnya kunjungan wisatawan harus diimbangi dengan kesiapan pengelola destinasi dan pelaku usaha pariwisata dalam menerapkan SOP serta standar pelayanan yang baik. Mulai dari penyediaan informasi kondisi cuaca, kesiapsiagaan petugas, fasilitas keselamatan, hingga penanganan keadaan darurat harus dipastikan berjalan optimal,” ujar Kristijadi.   Ia juga mengingatkan wisatawan yang akan berkunjung ke kawasan Dieng maupun melakukan aktivitas pendakian agar mempersiapkan diri dengan baik mengingat suhu udara pada malam hingga dini hari dapat mencapai titik yang cukup rendah. Wisatawan disarankan menggunakan pakaian hangat berlapis, menjaga kondisi fisik, mengonsumsi makanan dan minuman yang cukup, serta membawa perlengkapan dan obat-obatan pribadi sesuai kebutuhan.   “Kami mengimbau wisatawan untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku di setiap destinasi wisata maupun jalur pendakian, mengikuti arahan petugas, serta tidak memaksakan diri apabila kondisi kesehatan kurang baik. Membawa obat-obatan pribadi dan perlengkapan yang sesuai dengan kondisi cuaca menjadi hal yang penting untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama berwisata,” tambahnya.   Menurutnya, keselamatan dan kenyamanan wisatawan merupakan prioritas utama dalam penyelenggaraan kepariwisataan di Kabupaten Wonosobo. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha pariwisata, komunitas, dan wisatawan sangat diperlukan agar momentum musim bediding dapat dinikmati secara aman, nyaman, dan menyenangkan oleh seluruh pengunjung.   Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan optimistis tren peningkatan kunjungan akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Terlebih, pada tanggal 12–13 Juni 2026 akan digelar dua agenda besar daerah, yakni Festival Muda Berbudaya dan Wonosobo Night Fashion Carnival, yang diproyeksikan mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Kabupaten Wonosobo.   “Kami berharap penyelenggaraan Festival Muda Berbudaya dan Wonosobo Night Fashion Carnival pada 12 hingga 13 Juni 2026 dapat menjadi pengungkit tambahan bagi sektor pariwisata daerah. Kombinasi antara daya tarik alam Dieng yang sedang memasuki musim dingin dengan event budaya dan ekonomi kreatif di pusat kota diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan serta mendorong perputaran ekonomi masyarakat,” jelasnya.   Pihaknya juga berharap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan sektor usaha pariwisata, mulai dari perhotelan, homestay, kuliner, transportasi wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif dan UMKM lokal.   Musim bediding yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan menjadi momentum strategis bagi Kabupaten Wonosobo untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah, khususnya wisata alam pegunungan dan wisata berbasis pengalaman yang semakin diminati wisatawan nusantara maupun mancanegara.*

Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Dieng, Pemkab Wonosobo Perkuat Pembinaan Akomodasi Glamping
Informasi Setiap Saat
admin 04 Jun 2026
19

Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Dieng, Pemkab Wonosobo Perkuat Pembinaan Akomodasi Glamping

Wonosobo – Pemerintah Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo bersama Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Wonosobo, didampingi Pemerintah Kecamatan Garung dan Kecamatan Kejajar, melaksanakan kegiatan monitoring, evaluasi, serta pembinaan terhadap sejumlah usaha jasa akomodasi wisata berbasis glamping di kawasan wisata Kabupaten Wonosobo pada Rabu 3 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi pengawasan serta pembinaan usaha pariwisata guna memastikan setiap pelaku usaha memenuhi standar usaha pariwisata sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan sekaligus memperkuat aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan kelayakan sarana prasarana yang tersedia. Dijelaskan Plh. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, M. Kristijadi, adapun lokasi usaha glamping yang menjadi sasaran monitoring dan pembinaan meliputi Glamping Dieng di Desa Parikesit Kecamatan Kejajar, Luxcamp by Horison di Desa Parikesit Kecamatan Kejajar, Afton Glamping di Desa Sembungan Kecamatan Kejajar, serta Swiss Van Java Glamping di Desa Mlandi Kecamatan Garung. Dijeaskan lebih lanjut, Tim Pembinaan dan Pengawasan Usaha Pariwisata melakukan pemeriksaan terhadap berbagai aspek, mulai dari administrasi perizinan berusaha, penerapan standar usaha pariwisata, kondisi sarana dan prasarana, sistem pengelolaan usaha, hingga aspek keamanan dan keselamatan pengunjung.  Monitoring ini juga difokuskan pada kesiapsiagaan pengelola dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem, kebersihan lingkungan, serta pemeliharaan fasilitas yang digunakan wisatawan. Plh. Kadisparbud menambahkan, bahwa kegiatan monitoring dan pembinaan merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam menjaga kualitas destinasi dan usaha pariwisata yang ada di Kabupaten Wonosobo. "Monitoring dan pembinaan ini bukan semata-mata kegiatan pengawasan, tetapi juga bentuk pendampingan pemerintah kepada pelaku usaha agar dapat terus meningkatkan kualitas layanan serta memenuhi standar usaha pariwisata yang telah ditetapkan. Kami ingin memastikan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Wonosobo mendapatkan pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan berkesan," ujar Kristijadi. Lebih lanjut, Kristijadi menegaskan bahwa aspek keselamatan dan keamanan wisatawan menjadi perhatian utama, khususnya bagi usaha glamping yang berada di kawasan dataran tinggi dengan karakteristik cuaca yang dinamis. "Pengelola usaha perlu memastikan seluruh sarana dan prasarana dalam kondisi layak, aman digunakan, serta memiliki prosedur mitigasi risiko yang baik. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan wisatawan sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Wonosobo," tambahnya. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan, secara umum seluruh usaha glamping yang dikunjungi telah beroperasi dan melayani wisatawan dengan baik.  Namun demikian, masih ditemukan beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama terkait penyempurnaan administrasi, pemenuhan standar usaha pariwisata, serta penguatan aspek keselamatan dan keamanan pengunjung. Seluruh hasil checklist dan catatan temuan lapangan telah disampaikan secara langsung kepada masing-masing pengelola sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut perbaikan.  Melalui mekanisme pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan setiap pelaku usaha dapat segera melakukan penyempurnaan sesuai rekomendasi yang diberikan. Sebagai tindak lanjut, Tim Pembinaan dan Pengawasan Usaha Pariwisata Kabupaten Wonosobo akan terus meningkatkan intensitas pengawasan dan pembinaan secara berkala melalui koordinasi lintas perangkat daerah terkait.  Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong pelaku usaha glamping agar senantiasa memenuhi dan menerapkan standar usaha pariwisata sesuai ketentuan yang berlaku. Pemerintah Kabupaten Wonosobo berkomitmen mewujudkan penyelenggaraan usaha pariwisata yang aman, nyaman, tertib, berkualitas, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing pariwisata daerah serta memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Wonosobo.***

Disparbud Wonosobo Intensifkan Monitoring dan Pembinaan Usaha Pariwisata, Perkuat Standarisasi Pelayanan
Informasi Setiap Saat
admin 02 Jun 2026
12

Disparbud Wonosobo Intensifkan Monitoring dan Pembinaan Usaha Pariwisata, Perkuat Standarisasi Pelayanan

Wonosobo – Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) terus memperkuat pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha pariwisata guna memastikan terciptanya destinasi yang aman, nyaman, tertib, dan berkelanjutan.  Sepanjang bulan Mei 2026, Disparbud Kabupaten Wonosobo bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo melaksanakan kegiatan monitoring dan pembinaan terhadap berbagai jenis usaha pariwisata di wilayah Kabupaten Wonosobo. Kegiatan monitoring dan pembinaan tersebut dilaksanakan pada tanggal 6 hingga 20 Mei 2026 dengan sasaran usaha jasa makanan dan minuman, penginapan, homestay, hotel, glamping, usaha billiard, serta pusat kebugaran (fitness).  Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan, monitoring, serta pembinaan terhadap penyelenggaraan usaha pariwisata. Selain itu, pada tanggal 29 Mei 2026, Disparbud Kabupaten Wonosobo juga melaksanakan monitoring khusus di Sikembang Glamping yang berlokasi di Desa Damarkasiyan, Kecamatan Kertek, kawasan wisata Blembem. Lokasi tersebut memiliki total 44 unit glamping yang terdiri dari 22 unit tipe safari (tenda) serta unit lainnya dengan tipe snail suite dan snail double. Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Hapipi, S.Kom., menjelaskan bahwa kegiatan monitoring dan pembinaan merupakan upaya pemerintah daerah dalam menjaga kualitas layanan wisata sekaligus memastikan seluruh pelaku usaha mematuhi standar usaha pariwisata yang berlaku. “Monitoring dan pembinaan ini tidak hanya bertujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Kami ingin seluruh usaha pariwisata di Kabupaten Wonosobo mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan pengalaman wisata yang berkualitas bagi pengunjung,” ujar Hapipi. Dalam setiap pelaksanaan pembinaan, tim menekankan pentingnya penerapan standar usaha pariwisata, khususnya pada aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, kebersihan, serta kelayakan sarana dan prasarana usaha.  Hasil checklist dan berbagai catatan temuan di lapangan juga disampaikan secara langsung kepada pengelola usaha sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut guna memenuhi standar usaha pariwisata sesuai ketentuan yang berlaku. Lebih lanjut, Hapipi menjelaskan bahwa standar usaha pariwisata saat ini diatur melalui Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha, Tata Cara Pelaksanaan Pengawasan, dan Sanksi Administratif pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Pariwisata.  Regulasi tersebut mengatur kewajiban pelaku usaha untuk memenuhi standar usaha dan memiliki sertifikat standar sesuai tingkat risiko kegiatan usahanya. “Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap usaha pariwisata telah memenuhi standar yang dipersyaratkan. Sertifikat standar bukan sekadar persyaratan administrasi, tetapi merupakan instrumen untuk menjamin kualitas layanan serta keselamatan wisatawan,” tambahnya. Selain itu, pemerintah juga mendorong pelaku usaha untuk melengkapi sertifikasi standar usaha beserta dokumen pendukung lainnya sesuai ketentuan yang berlaku, sekaligus memperkuat aspek keselamatan pengunjung melalui penyediaan sarana evakuasi yang memadai dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Melalui kegiatan monitoring dan pembinaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap seluruh pelaku usaha pariwisata dapat terus meningkatkan kualitas pengelolaan usahanya sehingga mampu mendukung terwujudnya sektor pariwisata Wonosobo yang aman, profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan.***